Lewati ke konten utama
Senin, 6 Juli 2026 / 20 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Paradigma Islam

Pola Tipu Daya Setan pada Ahli Ibadah yang Serakah

5 menit baca 1.057 dibaca
Pola Tipu Daya Setan pada Ahli Ibadah yang Serakah
Foto: AI Modified/ChatGPT
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Salah satu gambaran paling telanjang tentang tipu daya setan terdapat dalam firman Allah:

كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِّنكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

“(Mereka itu) seperti setan ketika berkata kepada manusia, ‘Kafirlah engkau!’ Maka ketika ia telah kafir, setan berkata, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri darimu. Sungguh, aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.’” (QS. Al-Hasyr: 16)

Ayat ini, sebagaimana dijelaskan para ulama tafsir, bukan sekadar kisah tentang kekafiran. Ia adalah pola. Pola lama yang terus berulang. Awalnya setan menggoda, lalu manusia terjerumus, dan pada akhirnya setan berlepas diri. Selesai. Korban dibiarkan menanggung akibatnya sendiri.

Baca juga: Allah Memuji Seorang Mukmin yang Sabar Menghadapi Ujian Hidup

Dalam Tafsir ath-Thabari, ayat ini mula-mula dikaitkan dengan pengkhianatan kaum munafik yang menjanjikan pertolongan kepada Yahudi, namun pada saat genting justru meninggalkan mereka.

Jika dikaji lebih dalam, maknanya jauh lebih luas. Pesan yang tersirat mencakup siapa saja yang tertipu oleh janji palsu setan, lalu ditinggalkan dalam kehancuran.

Untuk memperjelas pola ini, ath-Thabari menghadirkan sebuah kisah yang begitu terkenal di kalangan ulama, yaitu kisah seorang ahli ibadah dari Bani Israil yang tekun beribadah selama puluhan tahun.

Meski sebagian ulama meragukan kebenaran riwayat kisah ini, tetapi dalam banyak tafsir kisah ini tetap dikutip dan dijadikan permisalan.

Ahli ibadah dari Bani Israil yang disinggung dalam kisah tersebut bukan orang biasa. Namanya adalah Barshisha. Ia dikenal, dipercaya, bahkan dijadikan rujukan oleh umat. Naifnya, dari titik inilah kemudian setan memulai serangannya.

Baca juga: Makna Filosofis Gerakan Ibadah Shalat

Kisahnya cukup panjang. Dalam Tafsir ath-Thabari, riwayat ini antara lain disebut diriwayatkan dari Ali radhiyallahu ‘anhu. Kutipan ringkasnya kurang lebih begini:

إن راهبا تعبد ستين سنة، وإن الشيطان أراده فأعياه، فعمد إلى امرأة فأجنها ولها إخوة، فقال لإخوتها: عليكم بهذا القس فيداويها... فبينما هو يوما عندها إذ أعجبته، فأتاها فحملت، فعمد إليها فقتلها... فقال الشيطان للراهب: أنا صاحبك... فاسجد لي سجدة. فسجد له، فلما سجد له قال: إني بريء منك، إني أخاف الله رب العالمين

Seorang rahib (Barshisha) telah beribadah selama enam puluh tahun. Lalu setan ingin menyesatkannya, namun merasa kesulitan (karena kuatnya ibadahnya). Maka setan pun mendatangi seorang perempuan, lalu menjadikannya gila, sementara perempuan itu memiliki beberapa saudara laki-laki.

Setan kemudian berkata kepada saudara-saudaranya, “Bawalah dia kepada pendeta (rahib) ini agar ia mengobatinya.”

Mereka pun membawanya kepada rahib tersebut, dan ia mulai merawatnya. Hingga pada suatu hari, ketika sang rahib sedang bersamanya, ia mulai tertarik kepadanya. Maka rahib itu pun menggaulinya hingga sang perempuan hamil.

Sang rahib merasa takut karena perbuatannya terbongkar. Lalu ia pun memutuskan untuk membunuh perempuan itu.

Setelah itu, setan mendatangi sang rahib dan berkata kepadanya, “Akulah yang telah menyeretmu ke dalam semua ini. Taatilah aku, niscaya aku akan menyelamatkanmu dari apa yang telah menimpamu. Sujudlah kepadaku sekali saja.”

Maka rahib itu pun sujud kepadanya. Dan ketika ia telah bersujud, setan berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri darimu. Sungguh, aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.” (Tafsir ath-Thabari [Kairo: Dar Hajar], juz 22, h. 540)

Baca juga: 5 Penampakan Setan dalam Wujud Manusia di Masa Rasulullah SAW

Kisah ini tampaknya berlangsung secara pelan dan pasti. Tidak ada lompatan drastis. Semuanya bertahap. Dari sebuah kepercayaan untuk mengobati seorang perempuan yang sakit, yang mana amal demikian ini memang terlihat mulia. Tapi siapa yang menduga ternyata kemudian berubah menjadi ketertarikan, jatuh dalam dosa, dan ketika dosa itu menuntut penutupan, lahirlah dosa yang lebih besar lagi, yakni pembunuhan.

Hingga akhirnya, dalam kondisi terdesak, sang rahib ahli ibadah itu menerima tawaran paling hina. Ia bersujud kepada setan demi keselamatan dirinya. Dan pada akhirnya setan yang sejak awal menjerumuskannya ternyata berlepas diri darinya.

Riwayat lain menguatkan alur yang sama, disebutkan ath-Thabari dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

Baca juga: Cara Seorang Mukmin Bertakwa di Tengah Musibah

Terkait kisah yang dikaitkan dengan tipu daya setan dalam tafsir surat Al-Hasyr ayat 16, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kisah ini bukan satu-satunya kasus. Kisah ini hanyalah contoh dari pola yang terus berulang dalam kehidupan manusia.

وقد ذكر بعضهم ها هنا قصة لبعض عباد بني إسرائيل هي كالمثال لهذا المثل، لا أنها المرادة وحدها بالمثل، بل هي منه مع غيرها من الوقائع المشاكلة لها 

“Sebagian ulama menyebutkan di sini sebuah kisah tentang salah seorang ahli ibadah dari Bani Israil, yang berfungsi sebagai contoh untuk perumpamaan ini. Bukan berarti kisah itu satu-satunya yang dimaksud oleh ayat tersebut, melainkan ia termasuk bagian dari sekian banyak peristiwa lain yang serupa dengannya.” (Tafsir Ibnu Katsir [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah], juz 8, h. 104)

Jika kita jujur melihat realitas hari ini, pola itu tidak hanya bisa dilihat penjelasannya dalam kitab-kitab tafsir. Tapi ternyata dalam banyak kasus pola yang sama terjadi di sekitar kita.

Kejatuhan seorang ahli ibadah itu tidak terjadi karena kurangnya ibadah, tetapi karena adanya celah dalam jiwa. Celah yang dibiarkan terbuka. Merasa aman terhadap amal, lalu lengah terhadap godaan kecil, dan yang paling berbahaya, adanya “keserakahan” yang dibungkus dengan legitimasi religius.

Baca juga: Sikapi Kekerasan Seksual, KPRK MUI Dorong Hukuman Maksimal Beri Efek Jera

Tipu daya itu benar-benar nyata dan muncul kembali, bahkan dengan wajah yang lebih menyakitkan. Kabar baru-baru ini (27/4/2026), terungkap kasus pelecehan seksual yang melibatkan pimpinan Pesantren Ndolo Kusumo, Tlogowungu, Pati, terhadap para santriwatinya adalah salah satu bukti paling telanjang. Sepertinya kasus yang sama juga sering kali terjadi di sejumlah pesantren.

Miris mendengarnya. Ini adalah tragedi kepercayaan. Seorang yang dipandang sebagai penjaga agama malah menggunakan posisinya untuk merusak kehormatan orang lain.

Seperti dalam kisah klasik seorang ahli ibadah dari Bani Israil yang celaka di atas, semuanya tidak terjadi secara tiba-tiba. Hal itu berjalan melalui celah-celah yang dibiarkan terbuka. Ada otoritas tanpa kontrol, kedekatan tanpa batas, dan nafsu yang tidak pernah benar-benar ditundukkan.

Di titik ini, pelajaran besar yang bisa diambil adalah bahwa ibadah yang tidak menumbuhkan rasa takut kepada Allah, justru akan bisa menjadi pintu kehancuran.

Seorang bisa lama bersujud, tetapi jika hatinya tidak dijaga, ia tetap rentan jatuh, bahkan jatuh lebih dalam karena ia membawa nama agama bersamanya.

Baca juga: MUI Dukung Proses Hukum Terduga Pelaku Pencabulan Pati, Ingatkan Pentingnya Langkah Preventif

Kisah dalam tafsir dan realitas di hadapan kita hari ini seakan saling menjelaskan. Setan tidak pernah tergesa-gesa. Ia “sabar”, menunggu, kemudian membungkus dosa dengan niat baik, memperhalus jalan menuju pelanggaran, hingga manusia tidak lagi merasa sedang melangkah menuju kehancuran.

Lalu ketika semuanya sudah terlambat, setan pergi begitu saja, meninggalkan manusia dengan kehinaan yang tidak bisa ditutupi. Inilah kerapuhan seorang manusia.

Bahwa yang paling berbahaya bukanlah ketika seseorang tidak beribadah, tetapi ketika ia merasa ibadahnya sudah cukup untuk menyelamatkannya. Maka pada saat itulah, pintu tipu daya benar-benar terbuka.

Alternatif dalam mengantisipasinya, tidak lain adalah dengan mempelajari ilmu agama yang seutuhnya dan sebenar-benarnya dengan guru yang jelas sanad keilmuannya, karena ibadah yang tidak dilandasi dengan ilmu akan mudah terjerumus dalam kesesatan tipu daya setan.