Doa ketika Hendak Meninggalkan Baitullah (Thawaf Wada’)
Abd. Hakim Abidin
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital — Tidak sedikit jamaah haji yang menangis ketika berada di hadapan Ka’bah untuk terakhir kalinya. Setelah rangkaian manasik ibadah haji dilalui, tibalah saat perpisahan dengan Baitullah (thawaf wada’).
Pada momen itulah hati
seorang mukmin biasanya menjadi sangat lembut. Berharap hajinya diterima,
meraih ampunan, dan mendapatkan ridha Allah SWT. Selain itu, ia juga sadar
bahwa belum tentu bisa kembali lagi ke Tanah Suci.
Dalam konteks ini, para ulama saleh terdahulu memberikan perhatian besar terhadap doa ketika thawaf wada’ atau perpisahan dengan Ka’bah, khususnya saat posisi di Multazam, yakni tempat di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.
Baca juga: Doa dan Amalan saat Berada di Multazam, Tempat di Antara Pintu Ka’bah dan Hajar Aswad
Dalam kitab Ad-Du‘a
karya Imam ath-Thabrani (wafat 360 H) disebutkan sejumlah riwayat tentang
doa-doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika hendak meninggalkan Makkah.
Di antara riwayat yang
disebutkan adalah keterangan dari tabi’in besar, yaitu Sa’id bin Jubair. Beliau
menganjurkan agar seseorang berdoa di Multazam ketika hendak berpisah dengan
Ka’bah.
عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، أَنَّهُ كَانَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يَدْعُوَ
عِنْدَ وَدَاعِ الْبَيْتِ فِي الْمُلْتَزَمِ بَيْنَ الْحِجْرِ وَالْبَابِ
“Diriwayatkan dari
Sa‘id bin Jubair, bahwa beliau senang berdoa ketika berpamitan dengan Baitullah
di Multazam antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.”
Adapun lafaz doa yang
dibaca adalah sebagai berikut:
اللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، وَقَنِّعْنِي بِمَا رَزَقْتَنِي، وَبَارِكْ لِي فِيهِ،
وَاخْلُفْ عَلَى كُلِّ غَائِبَةٍ لِي بِخَيْرٍ
“Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, jadikan aku merasa cukup dengan rezeki yang Engkau berikan kepadaku, berkahilah rezeki itu untukku, dan gantilah setiap sesuatu yang hilang dariku dengan kebaikan.”
Baca juga: Bacaan Doa saat Melempar Jumrah
Dalam riwayat lain
yang lebih panjang disebutkan dari Abdur Razzaq ash-Shan'ani. Beliau
menjelaskan adab seseorang ketika hendak pulang dari Makkah. Setelah thawaf
wada’, dianjurkan shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim, lalu berdiri di
Multazam dan membaca doa berikut ini:
اللَّهُمَّ
عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ، حَمَلْتَنِي عَلَى دَابَّتِكَ،
وَسَيَّرْتَنِي فِي بِلَادِكَ حَتَّى أَدْخَلْتَنِي حَرَمَكَ وَأَمْنَكَ، وَهَذَا
بَيْتُكَ، وَقَدْ رَجَوْتُكَ رَبِّ فِيهِ بِحُسْنِ ظَنِّي بِكَ أَنْ يَكُونَ قَدْ
غَفَرْتَ لِي، فَإِنْ كُنْتَ رَبِّ غَفَرْتَ لِي فَازْدَدْ عَنِّي رِضًا،
وَقَرِّبْنِي إِلَيْكَ زُلْفًا، وَإِنْ كُنْتَ رَبِّ لَمْ تَغْفِرْ لِي فَمِنَ
الْآنَ رَبِّ فَاغْفِرْ لِي قَبْلَ أَنْ يَنْأَى عَنِّي بَيْتُكَ، يَا رَبِّ هَذَا
أَوَانُ انْصِرَافِي إِنْ أَذِنْتَ لِي غَيْرَ رَاغِبٍ عَنْكَ، وَلَا عَنْ
بَيْتِكَ، وَلَا مُسْتَبْدِلٍ بِكَ يَا رَبِّ وَلَا بِبَيْتِكَ، اللَّهُمَّ
احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي
وَمِنْ أَمَامِي وَمِنْ وَرَائِي حَتَّى تُقَدِّمَنِي إِلَى أَهْلِي، فَإِذَا
قَدَّمْتَنِي رَبِّي فَلَا تَتَخَلَّ عَنِّي وَاكْفِنِي مَئُونَةَ أَهْلِي
وَمَئُونَةَ خَلْقِكَ، إِنَّكَ وَلِيِّي وَوَلِيُّهُمْ
“Ya Allah, aku
adalah hamba-Mu, anak dari hamba laki-laki-Mu dan anak dari hamba perempuan-Mu.
Engkau telah membawaku di atas kendaraan-Mu dan menjalankanku di
negeri-negeri-Mu hingga Engkau memasukkanku ke tanah haram-Mu dan keamanan-Mu.
Inilah rumah-Mu. Aku berharap kepada-Mu, wahai Tuhanku, dengan prasangka baikku
kepada-Mu, semoga Engkau telah mengampuniku. Jika Engkau telah mengampuniku,
maka tambahkanlah keridhaan-Mu kepadaku dan dekatkanlah aku kepada-Mu. Namun, jika Engkau belum mengampuniku, maka ampunilah aku mulai saat ini sebelum
rumah-Mu jauh dariku. Ya Tuhanku, inilah saat keberangkatanku jika Engkau
mengizinkanku pergi, bukan karena aku membenci-Mu, bukan pula membenci
rumah-Mu, dan bukan karena aku mencari pengganti selain Engkau dan selain
rumah-Mu. Ya Allah, jagalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri, dan seluruh
arahku hingga Engkau mengembalikanku kepada keluargaku. Jika Engkau telah
mengembalikanku kepada mereka, maka janganlah Engkau meninggalkanku, dan
cukupkanlah kebutuhan keluargaku serta kebutuhan seluruh makhluk-Mu.
Sesungguhnya Engkaulah pelindungku dan pelindung mereka.” (Ad-Du‘a [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah],
h. 276)
Doa ini menyiratkan
pengakuan total seorang hamba di hadapan Allah. Ada rasa syukur karena telah diberi kesempatan datang ke Tanah Suci, ada pengharapan besar akan ampunan, dan ada ketakutan mendalam bila ternyata dirinya belum diterima.
Selain itu, juga menunjukkan bahwa hati orang beriman sesungguhnya selalu tertambat kepada Allah dan Baitullah, meskipun raganya harus kembali ke kampung halaman.
Baca juga: Doa dan Dzikir yang Dibaca saat Thawaf
Yang menarik, dalam
doa ini tersemat permohonan perlindungan selama perjalanan pulang dan
permohonan agar Allah menjaga keluarganya. Hal ini menunjukkan bahwa
spiritualitas Islam tidak pernah memisahkan antara ibadah ritual dengan
tanggung jawab kehidupan.
Demikianlah sepatutnya, dengan doa ini seorang haji tidak diajarkan tenggelam dalam kesalehan pribadi semata. Di samping kembali dengan harapan besar agar Allah tetap menjaga hatinya sebagaimana ketika berada di depan Ka’bah, dalam saat yang sama juga memikirkan keluarganya, kehidupannya, dan masyarakatnya setelah pulang dari Tanah Suci.