Prihatin Insiden Kereta Bekasi, Wasekjen MUI Minta Kasus Ini Diusut Tuntas
Junaidi
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan bela sungkawa yang mendalam atas peristiwa kecelakaan kereta api yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur.
Wakil Sekretaris Jenderal MUI Bidang Dakwah, KH Arif Fahrudin, mengungkapkan duka cita atas musibah tersebut seraya mendoakan para korban.
“MUI mendoakan semoga para penumpang yang wafat mendapatkan tempat mulia di sisi Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta kesabaran,” ujarnya.
Dia juga menegaskan pentingnya tanggung jawab dari pihak-pihak terkait untuk menindaklanjuti peristiwa ini sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Menurut dia, kecelakaan tersebut sangat disesalkan dan tidak seharusnya terjadi.
Kiai Arif, begitu akrab disapa, mengungkapkan kedekatan emosionalnya dengan dunia perkeretaapian.
Diaa menyebut bahwa masa kecilnya tumbuh di lingkungan keluarga pegawai kereta api, di mana ayahnya merupakan pensiunan PJKA yang bertugas sebagai pengatur perjalanan kereta api di DAOP IV Semarang dengan wilayah pengawasan dari Stasiun Cepu hingga Brebes.
Hal ini, menurutnya, membuat dirinya memahami pentingnya disiplin dan regulasi dalam operasional kereta api.
Lebih lanjut, dia meminta agar Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bersama pihak berwenang lainnya mengusut tuntas penyebab kecelakaan tersebut secara menyeluruh.
Baca juga: Sekjen MUI Sampaikan Duka Cita atas Musibah Tabrakan Kereta di Bekasi Timur
Langkah ini dinilai penting demi meningkatkan keselamatan pengguna jasa transportasi kereta api.
Selain itu, dia berharap PT Kereta Api Indonesia terus meningkatkan kinerja dan inovasinya, terutama dalam aspek teknologi persinyalan, fasilitas perlintasan sebidang, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia seperti masinis dan petugas pengatur perjalanan kereta api.
“PT KAI saat ini telah menunjukkan kinerja dan inovasi yang baik. Hal ini perlu terus dipertahankan dan ditingkatkan demi kenyamanan dan keselamatan masyarakat,” tambahnya.
Kiai Arif juga menekankan bahwa transportasi kereta api saat ini menjadi salah satu moda favorit masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, pelaku bisnis, hingga para dai dan muballigh dalam menjalankan aktivitas dakwah.
MUI pun berharap peristiwa ini menjadi evaluasi bersama agar sistem keselamatan transportasi nasional semakin kuat dan mampu mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Hingga Selasa (28/4/2026) pukul 08.45 WIB, jumlah korban meninggal dunia dilaporkan bertambah menjadi 14 orang, sementara 84 lainnya mengalami luka-luka.
Peristiwa tragis tersebut terjadi pada Senin malam (27/4/2026), ketika KA Argo Bromo Anggrek menabrak bagian belakang KRL Tokyo Metro yang sedang berhenti di emplasemen Stasiun Bekasi Timur.
Insiden itu menyebabkan kerusakan parah pada gerbong belakang dan menimbulkan banyak korban jiwa. Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan belasungkawa kepada seluruh korban meninggal dunia serta keluarga yang ditinggalkan.
Baca juga: Duka Mendalam untuk 14 Korban Tabrakan Kereta dan Janji KAI
“Kami menyampaikan duka cita yang mendalam kepada korban meninggal dunia dan keluarga yang ditinggalkan, serta kepada seluruh pelanggan yang terdampak. Fokus kami saat ini adalah memastikan setiap korban mendapatkan penanganan terbaik, keluarga memperoleh informasi yang dibutuhkan, dan seluruh proses berjalan dengan kehati-hatian serta koordinasi yang kuat,” ujar Anne dalam keterangannya kepada MUI Digital, di Jakarta, Selasa (28/4/2026).
KAI menyebut sejak awal kejadian seluruh upaya difokuskan pada penyelamatan korban dengan mengutamakan keselamatan setiap penumpang.
Baca juga:Ini Lima Imbauan MUI agar Kekerasan Anak di Daycare tidak Terulang
Proses evakuasi dilakukan secara hati-hati karena terdapat sejumlah korban yang membutuhkan penanganan khusus. Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menjelaskan, korban meninggal dunia telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Sementara korban luka telah dirawat di sejumlah rumah sakit di wilayah Bekasi dan sekitarnya. KAI memastikan seluruh biaya pengobatan korban luka serta biaya pemakaman korban meninggal dunia ditanggung sepenuhnya oleh asuransi dan perusahaan. Selain itu, KAI juga menyiapkan Posko Tanggap
Darurat dan Posko Informasi di Stasiun Bekasi Timur guna membantu keluarga korban memperoleh informasi terkait penumpang.
Untuk sementara waktu, Stasiun Bekasi Timur belum melayani naik turun penumpang. Sementara perjalanan KRL dilayani hingga Stasiun Bekasi, dan jalur hilir telah dibuka secara terbatas untuk operasional kereta api.
KAI menyatakan akan terus memberikan pembaruan informasi secara berkala seiring berlangsungnya proses evakuasi, penanganan korban, dan pemulihan operasional perjalanan kereta. (Fitri Aulia Lestari)