1.100 WNI di Timur Tengah dan Mukimin Perkuat PPIH Arab Saudi
Sanib
Penulis
Admin
Editor
Makkah, MUI Digital – Sebanyak 1.100 warga negara Indonesia (WNI) dikerahkan untuk memperkuat layanan operasional haji 1447 H/2026 M.
Para WNI yang terdiri dari mahasiswa di kawasan Timur Tengah serta mukimin di Arab Saudi tersebut ditugaskan sebagai Tenaga Pendukung (Tepung) dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini.
Keterlibatan para tenaga pendukung tersebut terungkap dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Tenaga Pendukung Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.
Kegiatan ini diselenggarakan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI bersama Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah dan Kantor Urusan Haji (KUH), di Al-Wehda Tower Hotel, wilayah Jarwal, Makkah, Senin (27/4/2026).
Baca juga: 5 Bacaan Doa Melepas Keberangkatan Jamaah Haji
Berdasarkan data Kemenhaj RI, total tenaga pendukung yang direkrut mencapai 1.100 orang. Dari jumlah tersebut, 133 orang merupakan mahasiswa asal berbagai negara di Timur Tengah, di antaranya Mesir, Libya, Yaman, Yordania, Maroko, dan Suriah.
Sebanyak 423 tenaga pendukung telah ditempatkan di wilayah kerja Madinah, sementara 677 lainnya bertugas di Makkah.
Baca juga: Jamaah Haji Selama di Makkah Bisa Nikmati Layanan Bus Salawat Gratis Menuju Masjidil Haram
Mereka akan berperan sebagai penerjemah sekaligus tim komunikasi dalam mendukung berbagai layanan teknis bagi jamaah haji Indonesia.
Konsul Jenderal RI di Jeddah, Yusron B Ambary, mengatakan para tenaga pendukung tersebut akan ditempatkan di berbagai sektor layanan, mulai dari hotel jamaah, dapur, hingga pengaturan transportasi dan akomodasi.
“Mereka juga akan bertugas di sekitar wilayah Markaziah untuk memantau jika ada jamaah yang tersesat atau membutuhkan bantuan di jalan,” ujar Yusron.
Dia menjelaskan, keberadaan mahasiswa dan mukimin menjadi sangat penting karena memiliki kemampuan bahasa Arab yang baik sehingga memudahkan komunikasi di lapangan.
Dalam kesempatan tersebut, Yusron juga menekankan tiga hal utama kepada para tenaga pendukung, yakni tanggung jawab dalam melayani tamu Allah dengan sepenuh hati, kesiapan bekerja keras di lapangan dalam berbagai situasi, serta pentingnya kerja sama tim yang solid.
“Saya tidak percaya dengan istilah superman, yang ada adalah super tim. Kekompakan menjadi kunci dalam memberikan pelayanan terbaik bagi jamaah,” katanya.