Lewati ke konten utama
Rabu, 28 Oktober 2026 / 17 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Sumpah Pemuda, dari Sulawesi Selatan Menuju Panggung Dunia
Sulawesi Selatan

Sumpah Pemuda, dari Sulawesi Selatan Menuju Panggung Dunia

Sumpah Pemuda, dari Sulawesi Selatan Menuju Panggung Dunia

/ 17 Jumadil Awal 1448 H 6 menit baca

H. Rusdi Hidayat Jufri (Komisi Hubungan Luar Negeri MUI Sulsel)

Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 mengajarkan kita bahwa perubahan besar sering kali lahir dari keberanian generasi muda. Ketika itu, pemuda dari berbagai daerah, termasuk Sulawesi melalui organisasi Jong Celebes, turut membangun kesadaran tentang pentingnya persatuan Indonesia.

Hampir satu abad kemudian, tantangan generasi muda telah berubah. Perjuangan tidak lagi sekadar merebut kemerdekaan, tetapi juga bagaimana membawa bangsa Indonesia mengambil peran lebih besar di tengah persaingan dunia.

Sejumlah negara telah menunjukkan kepercayaan kepada generasi muda dengan memberikan tanggung jawab besar dalam pemerintahan. Prancis pernah mengangkat Gabriel Attal sebagai perdana menteri pada usia 34 tahun, sementara Finlandia mempercayakan jabatan serupa kepada Sanna Marin pada usia yang sama.

Uni Emirat Arab juga pernah mengangkat Shamma Al Mazrui sebagai menteri pada usia 22 tahun. Contoh tersebut memperlihatkan bahwa usia muda tidak harus menjadi penghalang untuk mengambil bagian dalam kepemimpinan dan pembangunan bangsa.

Di bidang bisnis, Ritesh Agarwal dari India membangun perusahaan perhotelan OYO sejak usia 19 tahun. Sementara itu, Markus Villig dari Estonia mendirikan perusahaan transportasi Bolt pada usia yang sama.

Singapura, Finlandia, dan Uni Emirat Arab juga memiliki berbagai kebijakan untuk memperkuat pendidikan, kesempatan kerja, kewirausahaan, serta partisipasi pemuda dalam pembangunan. Negara yang ingin maju tidak cukup hanya membanggakan generasinya, tetapi harus memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada mereka.

Indonesia pun perlu mengambil langkah serupa. Sulawesi Selatan, sebagai salah satu daerah strategis di kawasan timur Indonesia, harus mampu menempatkan generasi mudanya sebagai bagian penting dari perubahan dan kemajuan bangsa.

Sulawesi Selatan Harus Mengambil Peran

Sulawesi Selatan sesungguhnya memiliki modal sejarah dan budaya yang sangat kuat. Sejak berabad-abad lalu, masyarakat Bugis-Makassar dikenal sebagai pelaut, pedagang, dan perantau yang membangun hubungan dengan berbagai wilayah di Asia Tenggara.

Tradisi merantau tersebut menunjukkan keberanian, kemandirian, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru. Nilai-nilai itu merupakan modal penting bagi generasi muda Sulawesi Selatan untuk menghadapi tantangan global.

Kini, Makassar menjadi salah satu pusat perdagangan dan aktivitas ekonomi di kawasan Indonesia Timur. Didukung keberadaan perguruan tinggi, pesantren, serta potensi pertanian dan kelautan, Sulawesi Selatan memiliki peluang besar melahirkan generasi muda yang berdaya saing internasional.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirujuk dalam tulisan ini, penduduk Sulawesi Selatan berusia 20–29 tahun pada 2025 mencapai sekitar 1,61 juta jiwa. Jumlah tersebut merupakan potensi besar yang perlu diterjemahkan menjadi kekuatan nyata bagi pembangunan daerah.

Potensi itu tidak akan berkembang secara optimal tanpa peningkatan kualitas pendidikan dan perluasan kesempatan berkarya. Generasi muda harus mendapatkan ruang untuk mengembangkan kemampuan, menciptakan inovasi, serta berkontribusi sesuai dengan bidang keahlian masing-masing.

Pemuda Sulawesi Selatan perlu didorong menjadi diplomat, ilmuwan, profesional internasional, pengusaha teknologi, hingga pelaku ekspor produk unggulan daerah. Kakao, rumput laut, hasil perikanan, dan produk halal merupakan sejumlah sektor yang dapat dikembangkan untuk memperluas jangkauan pasar internasional.

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, pemerintah daerah, perguruan tinggi, pesantren, organisasi kepemudaan, dan dunia usaha perlu membangun kerja sama yang lebih konkret. Kolaborasi lintas sektor menjadi penting agar potensi generasi muda tidak berhenti pada wacana, tetapi menghasilkan perubahan nyata.

Kerja sama itu dapat diwujudkan melalui penyediaan beasiswa, penguasaan bahasa asing, pertukaran pelajar, magang profesional, serta pembukaan akses pasar global bagi pengusaha muda. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja dan penggerak ekonomi daerah.

Saya mengapresiasi kebijakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang memberikan beasiswa kepada sejumlah pemuda untuk menempuh pendidikan di berbagai negara dengan kualitas pendidikan yang baik. Program seperti ini perlu terus diperkuat agar semakin banyak generasi muda memperoleh pengalaman dan wawasan internasiona.

Memperkuat Kerja Sama Internasional

Sebagai bagian dari Komisi Hubungan Luar Negeri MUI Sulawesi Selatan, saya memandang bahwa kerja sama dengan negara-negara ASEAN, Jepang, kawasan Timur Tengah, dan mitra internasional lainnya perlu semakin diarahkan untuk membuka peluang bagi generasi muda.

Hubungan internasional tidak semestinya hanya berorientasi pada pertemuan antarlembaga atau kerja sama formal. Lebih dari itu, hubungan tersebut harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, ekonomi, dan pemberdayaan generasi muda.

Kita harus segera beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Bahkan, kemampuan tersebut perlu dikembangkan lebih jauh melalui riset, inovasi, dan kolaborasi lintas negara yang melibatkan perguruan tinggi, lembaga penelitian, dunia usaha, serta organisasi masyarakat.

Semua upaya tersebut membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi kepemudaan, dan masyarakat perlu membangun ekosistem yang memungkinkan generasi muda belajar, berinovasi, serta berani mengambil peluang di tingkat internasional.

Sulawesi Selatan tidak boleh hanya dikenal sebagai daerah yang melahirkan perantau tangguh. Daerah ini juga harus menjadi tempat lahirnya pemimpin, intelektual, ilmuwan, dan pengusaha Muslim yang mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat dunia.

Belajar dari Keteguhan Pemuda Al-Kahfi

Dalam perspektif Islam, Al-Qur’an melalui Surah Al-Kahfi ayat 13 mengabadikan kisah sekelompok pemuda yang memiliki keteguhan iman. Kisah tersebut memberikan pelajaran bahwa keberanian generasi muda harus dibangun di atas keyakinan, integritas, dan komitmen terhadap kebenaran.

Kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekonomi harus tetap berlandaskan iman dan akhlak. Kecerdasan serta kemampuan bersaing di tingkat global perlu berjalan seiring dengan tanggung jawab moral dan kepedulian terhadap sesama.

Semangat pemuda Al-Kahfi tidak boleh redup dan hanya menjadi bacaan semata. Kisah mereka mengingatkan bahwa dalam menghadapi tantangan, generasi muda membutuhkan keberanian untuk mempertahankan prinsip sekaligus kebijaksanaan dalam menentukan langkah.

Mereka berlindung di dalam gua ketika menghadapi keadaan yang mengancam keyakinan mereka. Peristiwa tersebut dapat menjadi inspirasi bahwa keteguhan prinsip terkadang membutuhkan pengorbanan, kesabaran, dan strategi sebelum kembali melangkah menghadapi tantangan.

Dalam kehidupan modern, generasi muda juga menghadapi berbagai tekanan, mulai dari persaingan ekonomi hingga derasnya arus informasi dan perubahan teknologi. Karena itu, mereka membutuhkan fondasi spiritual yang kuat agar tidak kehilangan arah ketika mengejar keberhasilan.

Iman, ilmu, akhlak, dan integritas harus menjadi pegangan dalam setiap langkah. Dengan landasan tersebut, generasi muda Sulawesi Selatan dapat berkembang menjadi pribadi yang tidak hanya unggul secara profesional, tetapi juga membawa manfaat bagi masyarakat luas.

Sipakatau, Sipakainge, dan Sipakalebbi untuk Dunia

Sulawesi Selatan memiliki kearifan lokal yang kuat melalui nilai sipakatau, sipakainge, dan sipakalebbi. Ketiga nilai tersebut mengajarkan pentingnya memanusiakan sesama, saling mengingatkan dalam kebaikan, serta saling menghormati dan menghargai.

Nilai-nilai tersebut relevan dalam membangun hubungan internasional yang sehat. Di tengah perbedaan budaya, bahasa, dan kepentingan, sikap saling menghormati menjadi modal penting untuk menciptakan kerja sama yang produktif dan berkelanjutan.

Generasi muda Sulawesi Selatan perlu membawa kearifan lokal tersebut ketika memasuki dunia internasional. Mereka harus mampu beradaptasi dengan perkembangan global tanpa kehilangan identitas, budaya, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu.

Jika pada 1928 para pemuda bersatu untuk membangun kesadaran kebangsaan Indonesia, maka pada 2026 pemuda Sulawesi Selatan harus berani melangkah lebih jauh. Mereka perlu membawa Indonesia berkarya, bersaing, dan memperoleh penghormatan melalui prestasi di panggung dunia.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan mengutip pesan yang dikaitkan dengan Menteri Pertanian Republik Indonesia, “Mari kita songsong Indonesia yang menjadi negara super power.” Cita-cita besar tersebut membutuhkan generasi muda yang berilmu, berkarakter, inovatif, dan berani mengambil tanggung jawab.

Masa depan tidak cukup hanya diwariskan kepada generasi muda. Mereka harus diberi ruang, kesempatan, dan kepercayaan untuk ikut membangunnya sejak hari ini.

Irfan Suba Raya

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads