Lewati ke konten utama
Senin, 6 Juli 2026 / 20 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Arsip Tanya Jawab

Saya adalah orang yang kencingnya menetes terus kemudian saya sumpel agar tidak mengenai pakaian dan itu bisa jadi seharian secara bisa saja kencingnya menetes selagi saya tidak menutup kemaluan saya, dan setiap solat saya bersihkan dan tutup kembali sampe sholat selanjutnya,jadi secara langsung saya menutup kemaluan saya 24 jam, kemudian timbul rasa risih dan saya berpikir memakai kondom agar kencingnya tidak mengenai pakaian. PERTANYAANYA : Apakah saya harus membersihkan kemaluan saya lagi ketika saya sudah membungkusnya dengan kondom sehingga kurang lebih sudah terjamin tidak ada yang menetes keluar

Ditanyakan Sabtu, 11 November 2023 | 01.59 WIB Dijawab Selasa, 14 November 2023 | 11.43 WIB 822 kali dibaca
A

Jawaban Lengkap

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Sahabat Dyo dari Jambi yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt.

Setelah kami cermati atas pertanyaan yang disampaikan kepada kami, bahwa anda memiliki penyakit beser atau salis al-baul (orang yang tidak bisa menahan air kencing) . Dalam ilmu fiqh, anda termasuk orang yang selalu mengalami hadats ( da`im al-hadats ). Air kencingnya yang tidak bisa ditahan yang disebut dengan istilah salas al-baul adalah termasuk najis yang dima’fu atau dimaafkan. Sebagaimana keterangan dari Ibnu ‘Imad sebagimana dikemukakan oleh Ibnu Hajar al-Haitsami dalam kitab al-Fatawi al-Kubra :
. قَالَ ابْنُ الْعِمَادِ وَيُعْفَى عَنْ قَلِيلِ سَلَسِ الْبَوْلِ فِي الثَّوْبِ وَالْعِصَابَةِ بِالنِّسْبَةِ لِتِلْكَ الصَّلَاةِ خَاصَّةً .وَأَمَّا بِالنِّسْبَةِ لِلصَّلَاةِ الْآتِيَةِ فَيَجِبُ غَسْلُهُ أَوْ تَجْفِيفُهُ وَغَسْلُ الْعِصَابَةِ أَوْ تَجْدِيدُهَا بِحَسَبِ الْإِمْكَانِ. “
”Ibn al-‘Imad berkata, dan dima’fu sedikitnya air kencing yang tidak bisa ditahan keluarnya (beser) yang menimpa pakaian dan pembalut dengan disinbatkan khusus kepada shalat yang yang sedang dijalani, adapun untuk shalat selanjutnya maka wajib dibasuh atau dikeringkan, dan membasuh pembalut atau menggantinya dengan yang baru sesuai dengan kemampuan” 

(lihat : Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubra, Bairut-Dar al-Fikr, tt, juz, 1, h. 166)

Dalam kitab Ianah At-Thalibin Syarah Fathul Muin, di jelaskan :
وحاصل ما يجب عليه - سواء كان مستحاضة أو سلسا - أن يغسل فرجه أولا عما فيه من النجاسة، ثم يحشوه بنحو قطنة - إلا إذا تأذى به أو كان صائما - وأن يعصبه بعد الحشو بخرقة إن لم يكفه الحشو لكثرة الدم، ثم يتوضأ أو يتيمم، ويبادر بعده إلى الصلاة، ويفعل هكذا لكل فرض وإن لم تزل العصابة عن محلها.
 “ kesimpulan sesuatu yang wajib dilakukan bagi (Daimul hadas), baik Istihadoh (berdarah penyakit) maupun orang yang terus menerus kencing (salis al-baul), yaitu cara pensuciannya agar dibasuh kemaluannya terlebih dahulu dari najis, kemudian disumpal dengan seumpama kapas --kecuali jika hal tersebut menyakitinya atau sedang berpuasa--. Dan hendaknya mengikat atau membalut (kemaluan) dengan kain, jika sekiranya banyak darah yang keluar, maka cukup untuk disumpal. Lalu, bergegaslah wudhu dan sholat. Hal itu dilakukan untuk setiap satu shalat fardhu walaupun perban atau pembalut masih tetap berada di tempatnya”.

(Lihat : Sayyid abu bakar muhammad syatho' ad-dimyathi, Ianah At-Thalibin Syarah Fathul Muin, Juz 1, hal. 47)

Walhasil, ketika anda sedang menjalankan shalat kemudian keluar salas al-baul sedikit tidak membatalkan shalat. Namun untuk shalat yang berikutnya wajib untuk dibasuh atau dikeringkan. Dan wajib membasuh pembalut (atau kondom yang dipertanyakan) atau mengganti pembalut yang baru sebisa mungkin dan berwudu untuk setiap kali melaksanakan shalat fardhu.

Demikian yang dapat kami sampaikan. Semoga Allah Swt memberikan kesembuhan terhadap penyakit yang anda derita. Amin.....

 Wallahu’alam bishowab