Lewati ke konten utama
Kamis, 15 Oktober 2026 / 4 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Khutbah Jumat: Relasi Hari Santri dan Cinta Negeri
Para santri selalu memegang teguh prinsip cinta tanah air sebagai bagian dari iman. Foto: Pinterest/Ahfas
Khutbah

Khutbah Jumat: Relasi Hari Santri dan Cinta Negeri

Khutbah Jumat: Relasi Hari Santri dan Cinta Negeri

/ 4 Jumadil Awal 1448 H 5 menit baca 164 dibaca
Admin

Oleh: Admin

Admin Admin Editor: Admin

Oleh: KH A Muzaini Aziz, Lc, MA, Ketua 4 MUI Kota Tangerang

Khutbah I

اَلسَّلَامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةاُللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ الْإِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ مَكَانًا عَلِيًّا. أَشْهَدُ أَن لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰه وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً مَنْ هُوَ خَيْرُ مَقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

أَللّٰهُمَ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَادِقِ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلَامَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا.

أّمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ مُحْكَمِ تَنْزِيْلِهِ: (يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوااتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan nikmat, rahmat, dan karunia-Nya, sehingga pada hari yang penuh berkah ini kita masih diberikan kesehatan, kesempatan, dan kekuatan untuk menunaikan ibadah Jumat. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti ajaran beliau hingga akhir zaman.

Selanjutnya, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah Jumat, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sesungguhnya, ketakwaan merupakan bekal terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia dan menghadap Allah SWT di akhirat kelak. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita, menguatkan iman kita, serta menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang senantiasa bersyukur dan bertakwa. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,

Ketahuilah, bahwa 17 Agustus 1945 bukanlah akhir dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Agresi Militer Belanda Kedua yang membonceng tentara Sekutu (Inggris) untuk kembali menjajah Indonesia, pasca kekalahan Jepang, memantik kesadaran para ulama dan kaum santri untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang belum lama diproklamirkan.

Lalu, melalui Resolusi Jihad yang difatwakan oleh Hadhratussyekh KH Hasyim Asy’ari (selaku pendiri Nahdlatul Ulama/NU) pada tanggal 22 Oktober 1945, perlawanan ulama, kaum santri dan segenap rakyat menentang penjajah Belanda berkobar di seantero negeri. Puncaknya, meletuslah pertempuran hebat antara kaum santri dan pasukan Belanda di Surabaya, pada tanggal 10 November 1945, yang kemudian kita peringati sebagai Hari Pahlawan.

Dari episode sejarah bangsa Indonesia tersebut di atas, dan episode panjang lainnya dari perjuangan ulama dan kaum santri untuk negeri ini, akhirnya melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015, perjuangan ulama dan kaum santri diakui oleh Pemerintah Indonesia, dengan diperingatinya Hari Santri Nasional pada setiap tanggal 22 Oktober, meski baru 70 tahun setelah episode sejarah Fatwa Resolusi Jihad berlalu.

Alhamdulillah, jasa dan peran serta keberadaan pesantren pun semakin diakui dan diapresiasi dengan lahirnya UU No. 18 Tahun 2019.

Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,

Perjuangan ulama dan kaum santri tidak lepas dari doktrin luhur yang terpatri di dalam sistem nilai keislaman, yaitu “Hubbul wathan minal iman,” atau yang kita kenal dengan prinsip “Cinta tanah air adalah manifestasi keimanan”. Ia bukanlah sebuah redaksi dari hadis Nabi, bukan pula redaksi dari ayat suci Alquran. Namun, doktrin yang digagas dan dicetuskan oleh para ulama tersebut selaras dan senapas dengan hadis Nabi dan ayat suci Ilahi.

Cinta tanah air adalah tentang pentingnya manusia memiliki tempat tinggal yang memberinya kenyamanan dan kehangatan. Cinta tanah air juga tentang kemerdekaan dan kedaulatan, sehingga siapa pun yang berusaha menjajah dan mengusir dari tanah air tersebut, Islam memerintahkan untuk melakukan pembelaan dan perlawanan. Demikianlah pemahaman tersirat yang terdapat dalam surat Al-Mumtahanah ayat 8.

Allah SWT berfirman:

لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

“Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian karena agama kalian dan tidak pula mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”  (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Dari ayat di atas kita pahami bahwa Alquran mensejajarkan antara agama dan tanah air. Alquran memberi jaminan kebebasan beragama, sekaligus jaminan bertempat tinggal secara merdeka dan berdaulat. Maka jelas sekali, cinta kepada tanah air adalah bagian integral dari cinta kepada agama.

Zumratal Mu’minin Akramakumullah,

Dalam sebuah riwayat hadis, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah mengungkapkan rasa cintanya kepada tanah kelahirannya, Makkah al-Mukarramah. Saat itu beliau bersabda:

مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلْدَةٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُوْنِيْ مِنْكِ، مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ

“Betapa baiknya engkau (Makkah) sebagai sebuah negeri, dan engkau adalah negeri yang paling kucintai. Andai kaumku tidak mengusirku darimu (Makkah), tentu aku tidak tinggal di negeri selainmu.” (HR Ibnu Hibban)

Setelah pengusiran tersebut, Nabi SAW lantas hijrah ke kota Yatsrib, yang di kemudian hari beliau namakan dengan Madinah. Di tempat tinggal yang baru ini, Rasulullah SAW pun berharap besar bisa mencintai Madinah sebagaimana beliau mencintai Makkah. Di dalam Shahih Bukhari doa beliau itu terekam:

اَللّٰهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِيْنَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ

“Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Makkah, atau lebihkanlah cinta itu.” (HR Al-Bukhari)

Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah SWT,

Cinta tanah air adalah fitrah dan naluri yang tumbuh dari nurani keimanan manusia. Orang yang mencintai sesuatu, apa pun itu, termasuk tanah air, maka ia akan memelihara dan merawat apa yang ia cintai. Ia akan menyempurnakan segala kekurangan yang ada pada apa yang ia cintai itu.

Orang yang mencintai juga akan selalu bersedia berkorban untuk kemaslahatan dan kepentingan yang ia cintai itu. Ia akan melindungi apa yang ia cintai itu. Ia tidak akan mengkhianati dan menodai cintanya itu dengan segala hal dan perbuatan yang merusak dan menghancurkan apa yang ia cintai itu. Begitulah seharusnya cinta kita terhadap tanah air kita ini, Indonesia.

Akhirnya, semoga doktrin “Hubbul wathan minal iman” yang kita warisi dari para ulama dan kaum santri para pejuang negeri terdahulu, etos juangnya dapat senantiasa kita rawat dan kita pupuk, agar terus tumbuh berkembang dan menghasilkan aneka buah pembangunan Indonesia, yang hasilnya dapat kita nikmati bersama, dan juga kita wariskan kepada anak cucu kita, generasi penerus bangsa. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads