Lewati ke konten utama
Senin, 2 November 2026 / 22 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
1000619446
Berita

Sekjen MUI Buya Amirsyah Tambunan Ajak Dai Jaga Ukhuwah, Bukan Pemecah Belah

Sekjen MUI Buya Amirsyah Tambunan Ajak Dai Jaga Ukhuwah, Bukan Pemecah Belah

/ 22 Jumadil Awal 1448 H 2 menit baca 53 dibaca

Jakarta, MUI Digital--Sekretaris Jenderal (Sekjen) MUI Buya Amirsyah Tambunan mengajak dai untuk senantiasa menjaga persaudaraan serta menghindari penggunaan kata-kata yang berpotensi memecah belah masyarakat.

Menurut Buya Amirsyah, dinamika dan wawasan dakwah saat ini menuntut para dai untuk lebih arif dalam menyikapi berbagai perbedaan. Dia berpesan agar para dai senantiasa mengedepankan situasi yang kondusif demi mencegah terjadinya perpecahan di tengah umat akibat salah dalam menyampaikan pesan.

​"Melihat situasi kita, jangan sampai ukhuwah kita tercerai-berai gara-gara kita salah menyampaikan, ya kan? Kata-kata yang kemudian memecah belah umat," ujar Buya Amirsyah Tambunan di hadapan para peserta Standardisasi Dai Angkatan ke-51 Komisi Dakwah MUI yang diselenggarakan di Universitas Yarsi, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Senin (2/11/2026).

Lebih lanjut, Buya Amirsyah Tambunan menekankan bahwa orientasi perjuangan para dai harus berakar pada nilai-nilai keislaman yang moderat dan berwawasan kebangsaan. 

Buya Amirsyah juga mengingatkan peran strategis dai di tengah masyarakat tidak hanya sebatas menyampaikan ajaran agama, tetapi juga menjadi perekat sosial yang menyejukkan. Selain itu, Buya Amirsyah berharap para dai dapat memahami orientasi penghikmatan dalam berbangsa dan bernegara. 

Dalam konteks politik, Buya Amirsyah menekankan bahwa orientasi politik para dai adalah politik kebangsaan, bukan politik praktis. Sikap ini diperlukan agar para dai tetap independen dan mampu menjadi mitra kritis pemerintah (sodiqul hukumah) demi kemaslahatan umat dan bangsa.

Selain aspek ukhuwah dan kebangsaan, Buya Amirsyah turut menyoroti pentingnya penerapan Islam Wasathiyah (Islam moderat) dalam berdakwah. 

"Pemahaman yang moderat ini penting untuk menghindarkan umat dari sikap berlebihan (ifrat) maupun menganggap remeh ajaran agama (tafrit). Dengan pemahaman wasathiyah, dakwah yang disampaikan akan benar-benar mencerminkan sifat rahmatan lil alamin," tegasnya. 

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads