Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Sekjen MUI Serukan Hijrah Transformatif Menuju Indonesia Bermartabat

3 menit baca 608 dibaca
Sekjen Ok
Sekjen MUI, Buya Amirsyah Tambunan. Foto: Latifahtul Jannah/ MUI Digital
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital—Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Amirsyah Tambunan, menyatakan kemunduran peradaban, kemiskinan, dan berbagai persoalan sosial yang menjerat Indonesia berakar dari merosotnya moralitas serta tata kelola yang buruk. 

Menurutnya, bangsa ini mendesak untuk melakukan "hijrah transformatif" demi mengikis habis praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Hal ini disampaikannya dalam menyambut momentum Tahun Baru 1448 Hijriyah. 

Buya Amirsyah menyoroti adanya paradoks besar yang terjadi di Tanah Air. Di satu sisi, Indonesia ditakdirkan Tuhan sebagai bangsa yang sangat kaya dengan sumber daya alam melimpah. Namun di sisi lain, kekayaan tersebut belum mampu menyejahterakan seluruh rakyatnya.

"Indonesia ditakdirkan sebagai bangsa yang kaya dengan sumber daya alam yang melimpah. Namun rakyatnya miskin karena tata kelola yang miskin karakter dan moral," ujar Buya Amirsyah, Senin (15/6/2026). 

Menurut Buya Amirsyah,  kemerosotan moral nasional terlihat jelas dari masih maraknya praktik korupsi, tindakan kekerasan seksual, hingga melemahnya integritas di berbagai sektor.

Oleh karena itu, dia menyerukan agar momentum hijrah tidak lagi dimaknai sebatas seremonial atau perpindahan fisik semata, melainkan sebuah komitmen kolektif untuk bergerak menuju tindakan nyata yang solutif.

Baca juga: Hijrah Bukan Sekadar Berpindah Tempat, Melainkan Mengubah Orientasi Hidup

Secara terminologi, dia menjelaskan bahwa hijrah dalam kehidupan berbangsa harus diartikan sebagai proses perpindahan dari keadaan, perilaku, atau lingkungan yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik dan diridhai Allah SWT. Bagi Indonesia, hijrah transformatif ini mencakup dua pilar utama.

Pertama adalah hijrah nilai yang berfokus pada pembentukan karakter anak bangsa sejak dini. Kedua, menjadikan semangat hijrah sebagai momentum memperbaiki jati diri bangsa dengan menanamkan nilai integritas, kejujuran, serta menjauhi praktik KKN.

Buya Amirsyah kemudian merefleksikan sejarah kesuksesan Nabi Muhammad SAW yang berhasil membangun peradaban madani melalui jalur hijrah. Keberhasilan historis ini, lanjutnya, sejalan dengan pesan teologis dalam Alquran.

Baca juga: Tahun Baru Hijriyah, MUI Ajak Anak Muda Teladani Rasulullah

Salah satunya dimuat dalam QS Al-Baqarah ayat 218 yang menegaskan bahwa orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah akan mendapatkan rahmat-Nya. 

Begitu pula dengan janji Allah dalam QS An-Nisa Ayat 100 mengenai kelapangan tempat dan kelimpahan rezeki bagi mereka yang berhijrah di jalan-Nya.

Baca juga: Menag Ingatkan Pentingnya Dialog dan Rawat Persaudaraan

Guna mewujudkan Indonesia yang bermartabat, bermutu, adil, dan makmur, Buya Amirsyah merumuskan langkah praktis yang harus segera diimplementasikan. Langkah tersebut dimulai dari sektor penegakan hukum dan birokrasi.

Kekuasaan, tegasnya, harus dikembalikan khitahnya sebagai instrumen untuk menegakkan kesejahteraan dan berpihak pada masyarakat kecil, bukan sebagai alat pemuas keserakahan kelompok tertentu.

"Dibutuhkan hijrah transformatif agar wajah Indonesia berubah menjadi bangsa yang bermartabat," kata dia.