Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Diplomasi Islam Wasathiyah Indonesia Berpotensi Jadi Model Dunia

3 menit baca 408 dibaca
Yuli
Mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Aljazair, Yuli Mumpuni Widarso. Foto: Fitri/ MUI Digital
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital – Diplomasi Islam Wasathiyah yang dikembangkan Indonesia memiliki potensi besar menjadi model bagi dunia internasional dalam menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari konflik, polarisasi, hingga krisis kemanusiaan.

Hal tersebut disampaikan mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Aljazair, Yuli Mumpuni Widarso, saat menjadi narasumber dalam Pelatihan Dasar Diplomasi Wasathiyah yang diselenggarakan Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional (HLNKI) Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Aula Buya Hamka, Gedung MUI Pusat, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Menurut Yuli, diplomasi dewasa ini tidak lagi menjadi domain eksklusif pemerintah. Selain jalur diplomasi resmi (first track diplomacy), kini berkembang diplomasi publik (second track diplomacy) yang melibatkan organisasi masyarakat, akademisi, tokoh agama, hingga pelaku usaha dalam mendukung kepentingan bangsa di tingkat internasional.

“Dulu diplomasi hanya dilakukan oleh pemerintah. Sekarang berkembang menjadi public diplomacy yang melibatkan seluruh aktor yang dapat mendukung kepentingan bangsa di tingkat internasional,” ujarnya.

Dia menjelaskan, perkembangan tersebut melahirkan konsep multi-track diplomacy, yaitu kolaborasi antara diplomasi resmi pemerintah dan diplomasi publik yang dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat.

Dalam konteks itu, MUI mengembangkan Diplomasi Islam Wasathiyah sebagai strategi diplomasi yang berlandaskan nilai moderasi, toleransi, keadilan, dan perdamaian. 

Konsep tersebut telah menjadi salah satu pijakan gerakan diplomasi MUI sejak Musyawarah Nasional MUI Tahun 2015.

Baca juga: Prof Sudarnoto: Kaderisasi Kunci Keberlanjutan Diplomasi Umat

“Diplomasi Wasathiyah adalah diplomasi jalan tengah. Diplomasi yang inklusif, menghormati pihak lain, mengedepankan dialog, dan menolak sikap ekstrem,” katanya.

Yuli menjelaskan bahwa konsep Islam Wasathiyah bersumber dari ajaran Alquran tentang umat pertengahan (ummatan wasathan), yang menekankan keseimbangan, keadilan, dan kemaslahatan dalam kehidupan bermasyarakat maupun hubungan antarbangsa.

Menurutnya, diplomasi Islam tidak hanya berorientasi pada kepentingan politik, tetapi juga mengandung misi moral untuk menyebarkan nilai kemanusiaan, kasih sayang, dan persaudaraan universal.

“Diplomasi dalam Islam bukan sekadar strategi politik untuk mencapai kepentingan negara, melainkan kewajiban moral yang berakar pada nilai keadilan, kasih sayang, dan persaudaraan umat manusia,” ungkapnya.

Baca juga: Gagasan Kaukus Parlemen Dunia Mengemuka dalam Hari Dialog Antar-Peradaban Internasional

Yuli menilai Indonesia memiliki modal yang kuat untuk menjadi rujukan dunia dalam praktik Islam Wasathiyah. 

Dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan pengalaman panjang dalam mengelola keberagaman, Indonesia dinilai mampu menghadirkan model diplomasi yang mengedepankan dialog dan perdamaian.

“Kalau bicara Islam Wasathiyah, jangan melihat ke Timur Tengah. Lihatlah Indonesia. Kita harus membangun brand bahwa diplomasi Indonesia adalah diplomasi Wasathiyah yang dapat menjadi model dunia,” kata dia.

Dia menambahkan, selama ini MUI telah mengimplementasikan Diplomasi Islam Wasathiyah melalui berbagai program, seperti pelatihan diplomasi, dialog lintas agama, penguatan moderasi beragama, kerja sama internasional, hingga diplomasi kemanusiaan untuk Palestina.

Menurut Yuli, dukungan terhadap Palestina merupakan wujud implementasi nilai kemanusiaan universal yang diajarkan Islam. 

Baca juga: Peringati Hari Dialog Antar-Peradaban, Dubes Saudi: Perdamaian adalah Seruan Ilahi

Karena itu, MUI terus mendorong kolaborasi dengan berbagai lembaga filantropi untuk membantu rakyat Palestina melalui bantuan kemanusiaan dan program pembangunan.

Selain itu, MUI juga aktif mempromosikan toleransi, menangkal ekstremisme dan radikalisme, serta membangun kerja sama dengan berbagai tokoh dan organisasi lintas agama sebagai bagian dari kontribusi Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia.

Di akhir pemaparannya, Yuli mengajak para peserta pelatihan untuk menjadi bagian dari diplomasi publik Indonesia dengan membawa nilai-nilai Islam Wasathiyah ke ruang nasional maupun internasional.

“Indonesia sudah dipandang sebagai model oleh dunia. Tantangannya adalah bagaimana kita mampu menerjemahkan harapan itu menjadi kontribusi nyata bagi perdamaian dan kemanusiaan global,” kata dia.