Waketum MUI: Diplomasi Islam Wasatiyah Perlu Diperkenalkan ke Dunia
Waketum MUI: Diplomasi Islam Wasatiyah Perlu Diperkenalkan ke Dunia
Jakarta, MUI Digital – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Marsudi Syuhud, menekankan pentingnya diplomasi Islam wasatiyah sebagai upaya memperkenalkan model keberislaman Indonesia kepada masyarakat dunia.
Hal itu disampaikan kiai Marsudi Syuhud seusai menghadiri Pelatihan Diplomasi Islam Wasatiyah Tingkat Dasar MUI yang digelar di Aula A R Fachruddin FEB UHAMKA, Sabtu (26/9/2026).
Kegiatan tersebut diselenggarakan melalui kerja sama MUI, Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka), dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).
Pelatihan ini turut dihadiri Sergei Gennadievich Tolchenov, Duta Besar Federasi Rusia, serta sejumlah tokoh dan pimpinan MUI.
Kehadiran perwakilan diplomatik tersebut menjadi bagian dari ruang pembelajaran dan penguatan wawasan diplomasi dalam konteks hubungan antarbangsa.
Menurutnya, Islam yang berkembang di Indonesia memiliki karakter tawasuth, moderat, seimbang, dan mengedepankan prinsip rahmatan lil ‘alamin.
Nilai-nilai tersebut, kata dia, perlu diperkenalkan melalui diplomasi kepada berbagai negara, baik negara-negara Muslim maupun non-Muslim.
“Model keislaman di Indonesia adalah model keislaman yang tawasuth, yang moderat, yang balance, yang seimbang. Yang mengedepankan Islam rahmatanil alamin,” ujar Kiai Marsudi.
Dia menjelaskan, diplomasi Islam wasatiyah diharapkan dapat menjadi sarana untuk menyampaikan bahwa Islam memiliki nilai-nilai kedamaian dan nilai universal yang dapat diterima oleh bangsa-bangsa di dunia.
“Agar bisa memahami bahwa Islam rahmatanil alamin itu kompatibel untuk seluruh nilai-nilai kedamaian, nilai-nilai universal yang bisa diterima oleh bangsa-bangsa di dunia,” katanya.
Lebih lanjut, kiai Marsudi juga menyoroti konflik yang masih terjadi di berbagai belahan dunia.
Menurutnya, pengalaman sejarah menunjukkan bahwa peperangan dan konflik terus muncul dari masa ke masa sehingga diperlukan pendekatan diplomasi untuk membangun perdamaian.
“Semenjak saya ngeliat di TV hitam putih di rumah zaman dulu, itu ada perang terus. Sampai sekarang ternyata enggak pernah berhenti itu, ada terus itu,” tuturnya.
Dalam konteks tersebut, dia mengajak umat Islam untuk mempelajari kembali praktik diplomasi yang telah dicontohkan Rasulullah SAW dalam membangun hubungan antarkelompok dan menata kehidupan masyarakat.
Dia mencontohkan Perjanjian Hudaibiyah sebagai salah satu bagian dari sejarah Rasulullah SAW dalam mengupayakan perdamaian melalui kesepakatan.
Menurutnya, hubungan dengan pihak lain, baik Muslim maupun non-Muslim, juga memiliki landasan dalam ajaran Islam.
“Diplomasi kita, bagaimana mengajarkan atau mengajak sebagaimana Rasulullah dulu menyampaikan dalam menata sebuah negara itu membuat damai. Jika sudah ada negara yang tadinya permusuhan kemudian bisa didamaikan betapapun itu lewat perjanjian, lakukan itu,” kata dia.
Karena itu, lanjut kiai Marsudi, pelatihan dan sertifikasi diplomasi Islam wasatiyah diperlukan untuk memperdalam pemahaman sekaligus membangun standar kompetensi diplomasi yang dapat diterapkan dalam konteks Indonesia.
“Nah, hanya kita memperdalam ini, kita ajarkan, kita treningkan, kita sertifikasi agar punya standar diplomasi. Baik khususnya standar diplomasi Indonesian culture yang Islamnya tawasud untuk dibawa ke dunia,” ujarnya.
Dia menyatakan, pelatihan tersebut pada intinya diarahkan untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu membawa nilai-nilai Islam wasatiyah dan karakter keberislaman Indonesia dalam ruang diplomasi internasional.