Lewati ke konten utama
Selasa, 3 November 2026 / 23 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
f0d85010-af8f-4c47-b62a-eb456447c588
Berita

Kiai Said Aqil di Standardisasi Dai MUI: Ceramah Harus Sarat Ilmu, Bukan Lelucon dan Caci Maki

Kiai Said Aqil di Standardisasi Dai MUI: Ceramah Harus Sarat Ilmu, Bukan Lelucon dan Caci Maki

/ 23 Jumadil Awal 1448 H 2 menit baca 131 dibaca

JAKARTA, MUI Digital— Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj, mengkritik maraknya ceramah agama yang diisi lelucon dan caci maki dari awal hingga akhir. Menurut dia, praktik semacam itu bukan dakwah.

Hal itu disampaikan Kiai Said dalam Standardisasi Dai Angkatan ke-51 yang digelar Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Aula Universitas YARSI, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Senin (2/11/2026).

"Itu yang kita katakan memalukan. Kadang-kadang dakwah, Masya Allah, isinya lelucon, kadang-kadang dari awal sampai akhir isinya caci maki. Enggak boleh, enggak boleh itu, bukan dakwah itu namanya," ujar Kiai Said.

Pengasuh Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan, ini menilai sebagian ceramah saat ini kehilangan substansinya. Selain tidak bisa dibenarkan, pola dakwah seperti itu justru mencoreng citra dakwah Islam.

Meski demikian, Kiai Said tidak menolak humor dalam berdakwah. Selingan candaan, kata dia, boleh saja agar jamaah tidak jenuh. Syaratnya, porsinya tidak mendominasi hingga menggeser bobot keilmuan ceramah.

"Dakwah, ya sekali-kali ada lucu dikit-dikit, sedikit enggak apa-apalah supaya tidak monoton. Tapi tidak boleh kalau dari awal sampai akhirnya ketawa, enggak boleh," tutur dia.

Dalam kesempatan itu, Kiai Said juga menguraikan peran umat Islam sebagai umat wasathiyah (moderat). Merujuk QS Al-Baqarah ayat 143, dia menyebut umat Islam dituntut mengambil peran secara menyeluruh, yakni peran keagamaan (diniyyan), peradaban (hadhariyyan), budaya (tsaqafiyyan), sosial (ijtima'iyyan), hingga kemanusiaan (insaniyyan madaniyyan).

Karena itu, menurut Kiai Said, ceramah seorang dai semestinya membangkitkan kesadaran intelektual dan mendorong kontribusi nyata umat. Ceramah tidak boleh berhenti pada retorika kosong, simbol seremonial, atau sekadar memancing emosi jamaah lewat caci maki terhadap pihak yang berbeda.

Kiai Said berharap Standardisasi Dai MUI dapat mendorong para dai meningkatkan kualitas keilmuan, metode penyampaian, dan keteladanan akhlak. Dengan begitu, dakwah dapat hadir membawa pencerahan dan kedamaian bagi umat. 

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads