Ketum MUI: Umat Islam Harus Kuat dan Berperan Aktif Hadapi Masalah Global
Ketum MUI: Umat Islam Harus Kuat dan Berperan Aktif Hadapi Masalah Global
Jakarta, MUI Digital—Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar mengajak seluruh elemen umat Islam untuk memperkuat konsolidasi, membangun kapasitas diri, dan berperan aktif dalam menyelesaikan berbagai persoalan global.
Menurutnya, umat Islam tidak boleh bersikap pasif atau berdiam diri di tengah maraknya krisis kemanusiaan dan penindasan yang menimpa masyarakat Muslim dunia.
Pesan tersebut disampaikan Kiai Anwar Iskandar dalam Simposium Ilmiah bertajuk "Pembentukan Fatwa dan Fikih Realitas Menurut Al-Allamah Abdullah bin Bayyah" yang berlangsung di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (3/10/2026).
Wakil Rais Aam PBNU ini menegaskan bahwa kekuatan (quwwah) merupakan syarat mutlak agar suara dan perjuangan umat Islam dapat diperhitungkan di panggung internasional.
"Mudah-mudahan hari ini menjadi sebuah pertemuan pertama dan jangan menjadi pertemuan terakhir agar kita membangun sebuah kekuatan umat Islam. Karena hanya dengan kekuatan kita ini dihitung, kalau kita lemah pasti akan diinjak," ujar Kiai Anwar,
Menyoroti berbagai krisis global, mulai dari tindakan genosida di Yerusalem, situasi di Gaza, hingga maraknya Islamofobia dan intoleransi sistemik di India, Amerika, dan Australia, Kiai Anwar menyerukan agar umat tidak menjadi penonton atas penderitaan sesama.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien, Kediri, Jawa Timur ini menerangkan bahwa kontribusi dan peran aktif umat Islam dalam menghadapi persoalan (muskilatul ummah) merupakan bentuk pelaksanaan jihad di jalan Allah (jihad fisabilillah).
"Oleh karena itu, menjadi kewajiban kita bersama bagaimana kita berjihad fisabilillah semampu-mampu kita. Kita bisa berjihad dengan harta, kita bisa berjihad dengan ilmu, kita bisa berjihad dengan quwwah. Bahkan kita bisa berjihad dengan kepedulian (al-ihtimam wal mubalah) terhadap apa yang menjadi masalah umat sekarang ini. Jangan diam! Kalau diam, kita akan menjadi bagian orang-orang yang tidak disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala," tegasnya.
Untuk mewujudkan peran aktif tersebut secara nyata, Kiai Anwar menyambut baik gagasan fikih realitas dan konsep moderasi (wasathiyah) yang dibawa oleh para ulama internasional tersebut.
MUI menyatakan kesiapannya untuk membangun kolaborasi strategis dengan berbagai lembaga non-pemerintah (NGO) dunia yang memiliki kepedulian terhadap perdamaian global.
"Kami senang dari Majelis Ulama apabila ke depan ada sebuah memorandum of understanding (MoU) untuk bekerja sama antara kita sesama NGO yang mempunyai perhatian terhadap perdamaian dunia dan moderasi kehidupan. Pemahaman dari buku-buku penting seperti ini akan menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menyebarkan perdamaian di atas bumi Allah," kata Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini.
Acara simposium ilmiah tersebut turut dihadiri oleh Peneliti Senior di Forum Abu Dhabi untuk Perdamaian Dr Muhammad Mahbub bin Bayyah, Mantan Sekretaris Jenderal Dewan Tertinggi Islam Dr Muhammad Sholahuddin Al-Mustawi, serta Ketua MUI Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Niam Sholeh.