Lewati ke konten utama
Jumat, 30 Oktober 2026 / 19 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Kiai Cholil Turki
Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, tampil sebagai salah satu pembicara dalam Konferensi Internasional yang diselenggarakan oleh International Union of Muslim Scholars di Istanbul, Turki, Kamis (29/10/2026) waktu setempat. Foto: Istimewa
Berita

Di Panggung Internasional Turki, Kiai Cholil Berbagi Kesuksesan RI Wujudkan Persatuan Melalui Islam Moderat

Di Panggung Internasional Turki, Kiai Cholil Berbagi Kesuksesan RI Wujudkan Persatuan Melalui Islam Moderat

/ 19 Jumadil Awal 1448 H 2 menit baca 120 dibaca

Jakarta, MUI Digital— Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M  Cholil Nafis, memaparkan rekam jejak dan keberhasilan bangsa Indonesia dalam merawat persatuan nasional melalui paham Islam Wasathiyah (moderat) di panggung internasional.

Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara dalam Konferensi Internasional yang diselenggarakan oleh International Union of Muslim Scholars di Istanbul, Turki, Kamis (29/10/2026) waktu setempat. 

Dalam forum yang dihimpun oleh ulama dan cendekiawan Muslim dari berbagai belahan dunia tersebut, Kiai Cholil menyampaikan makalah berbahasa Arab bertajuk “Membangun Persatuan Umat yang Wasathi”. 

Kiai Cholil menegaskan bahwa pengalaman empiris Indonesia dalam mengintegrasikan pemahaman agama yang moderat dengan falsafah Pancasila terbukti ampuh menjaga keharmonisan di tengah keberagaman suku, budaya, mazhab, dan agama.

Dia menyebut, di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, umat Muslim perlu meneguhkan nilai-nilai universal Islam, seperti keadilan, kasih sayang, keseimbangan, penghormatan terhadap martabat manusia, dan perdamaian, seraya membuka ruang ijtihad untuk merespons perubahan zaman. 

“Prinsipnya jelas: teguh dalam nilai, adaptif dalam solusi, dan inklusif dalam kerja sama," ujar Kiai Cholil dalam keterangannya, Jumat (30/10/2026). 

Menurut Kiai Cholil, gagasan Islam Wasathiyah bukan hanya memiliki relevansi yang kuat bagi Indonesia atau iklim internal dunia Islam belaka. 

Lebih jauh dari itu, Islam Wasathiyah menyajikan kerangka etis yang sangat dibutuhkan dalam menjawab berbagai krisis dan tantangan global saat ini, seperti polarisasi sosio-politik, konflik horizontal, intoleransi, ketimpangan sosial, hingga disrupsi teknologi yang disruptif.

Kiai Cholil juga menyoroti peran penting MUI moderasi beragama yang diterapkan di Indonesia  sebagai bukti nyata bahwa persatuan nasional dapat diwujudkan tanpa harus mengorbankan kebinekaan.

Keberagaman yang dimiliki oleh suatu bangsa, tegasnya, tidak boleh dijadikan alih-alih sumber perpecahan, melainkan harus diposisikan sebagai pijakan awal untuk memperkuat dialog dan kolaborasi demi kepentingan kemanusiaan universal.

"Pengalaman Indonesia melalui Islam Wasathiyah dan peran Majelis Ulama Indonesia menunjukkan pentingnya membangun persatuan tanpa menyeragamkan pemikiran, serta mengelola keragaman tanpa mengorbankan prinsip," tuturnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini mengajak komunitas internasional untuk mengadopsi dan menjadikan nilai-nilai Islam Wasathiyah sebagai ikhtiar kolektif dalam mewujudkan tatanan dunia yang lebih adil, damai, dan bermartabat. 

Kiai Cholil menggarisbawahi bahwa kunci perdamaian dunia terletak pada pemahaman dasar bahwa persatuan tidak menuntut keseragaman, pembaruan tidak harus menghilangkan prinsip agama, dan perbedaan pandangan tidak boleh berujung pada konflik destruktif.

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads