Resep Kepemimpinan yang Terlupakan: Menata Hati, Bukan Menguasai
Oleh: Dr Muhammad Irfanudin Kurniawan, M.Ag
Penulis buku “Organisme Pesantren” dan Dosen Manajemen Pendidikan Islam Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Dalam hitungan hari, bangsa ini akan menyaksikan salah satu panggung politik terbesar organisasi massa Islam: Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang, 27–31 Agustus 2026. Sejumlah nama besar, dari Gus Yahya, Gus Kikin, Gus Rozin, Gus Yusuf Chudlori, hingga Menteri Agama Nasaruddin Umar, bersaing memperebutkan kursi Ketua Umum PBNU.
Di balik hiruk-pikuk bursa calon dan isu intervensi
kekuasaan yang ikut memanas, ada pertanyaan yang jarang diungkap: mampukah para
pemimpin ini dan pemimpin kita pada umumnya menata hatinya sendiri sebelum
menata hati orang lain? Ataukah kepemimpinan akan terus dimaknai sebagai
perebutan kekuasaan, bukan sebagai amanat untuk mendamaikan?
Tentu itu bukan sekadar pertanyaan retoris. Hal itu
mengingatkan kita pada nasihat KH Hasan Abdullah Sahal, pemimpin Pondok Modern
Gontor yang tahun ini pondoknya juga berumur 100 tahun seperti NU.
KH Hasan Abdullah merumuskan empat tingkatan kepemimpinan
dalam bahasa Jawa: “noto atine dewe” (menata hati sendiri), “noto
atine wong liyo” (menata hati orang lain, yang setara maupun yang lebih
muda), “noto atine wong sing luwih tuwek” (menata hati orang yang
lebih tua), dan “noto atine wong sing luwih tuwek sing lagi tukaran”
(menata hati orang-orang yang lebih tua yang sedang berselisih).
Menurut saya, inti dari semua tingkatan itu sederhana namun
berat: kepemimpinan sejati bukan tentang menguasai, tetapi tentang menata hati.
Jika kita cermati, piramida kepemimpinan noto atine ini berbanding terbalik dengan piramida kekuasaan yang lazim kita kenal. Dalam birokrasi dan partai politik, puncak karier selalu diukur dari seberapa tinggi jabatan dan seberapa luas kendali atas orang lain. Sementara dalam piramida noto atine, puncak kepemimpinan justru adalah kemampuan mendamaikan, dan untuk mencapainya, seorang pemimpin wajib memulai dari fondasi paling dasar: menguasai dirinya sendiri.
Baca juga: ISO Pesantren: Antara Standar Mutu dan Ruh Pendidikan
Fondasi pertama, noto atine dewe, adalah batu ujian
yang paling sering diabaikan. Bagaimana mungkin seorang pemimpin mampu
menenangkan rakyat atau anggotanya jika hatinya sendiri kacau oleh ambisi,
dendam, atau ketakutan?
Dalam psikologi kepemimpinan modern, Daniel Goleman menyebut
kemampuan ini sebagai self-awareness dan self-management,
komponen inti dari kecerdasan emosional. Goleman menegaskan bahwa pemimpin yang
gagal mengelola emosinya sendiri bukan hanya merugikan dirinya, tetapi juga
meracuni seluruh tim yang dipimpinnya. Namun di Indonesia, pendidikan
kepemimpinan kita masih sangat miskin pelatihan batin.
Kita sibuk mengasah visi-misi dan retorika, tetapi lupa
memberi ruang bagi calon pemimpin untuk merenung, berkaca, dan menata hatinya
terlebih dahulu.
Lalu melangkah pada tingkatan kedua dan ketiga, noto
atine wong liyo dan noto atine wong sing luwih tuwek, mengingatkan
bahwa memimpin adalah seni membangun relasi yang sehat, baik ke bawah maupun ke
atas. Seorang pemimpin yang baik tidak menakuti bawahannya, tetapi juga tidak
sekadar menjilat atasannya. Pemimpin yang baik memperlakukan bawahan dengan
empati dan menghormati atasan dengan tulus, bukan dengan kepura-puraan.
Di banyak institusi hari ini, kita melihat fenomena
sebaliknya: pemimpin yang galak terhadap stafnya, namun tunduk patuh pada
kekuasaan di atasnya. Jelas ini bukan kepemimpinan yang baik. Lebih tepatnya,
politik bertahan hidup.
Puncak dari nasihat KH Hasan Abdullah Sahal adalah tingkatan
keempat: noto atine wong sing luwih tuwek sing lagi tukaran, menata hati
orang-orang yang lebih tua yang sedang berselisih. Inilah ujian paling berat
bagi seorang pemimpin. Ketika dua pihak yang sama-sama senior, sama-sama keras
kepala, dan sama-sama memiliki pengaruh besar bertikai, seperti yang sering
kita saksikan dalam konflik internal partai atau ormas, di mana posisi pemimpin?
Pemimpin sejati tidak akan memilih kubu atau memanaskan
suasana demi keuntungan politik jangka pendek. Ia harus berani turun tangan
menjadi penengah, meski itu berarti ia harus mengambil risiko kehilangan
dukungan dari salah satu kubu.
Sejarah Indonesia mencatat terlalu banyak peristiwa di mana konflik elite menghancurkan sendi-sendi kebangsaan, mulai dari peristiwa 1965, krisis 1998, hingga polarisasi pasca-2014. Dalam setiap momen itu, yang paling sulit dicari adalah figur yang bersedia menjadi pendamai, bukan justru menjadi pembakar perselisihan demi kepentingan sesaat.
Baca juga: Menemukan “Mengapa” Pesantren Bertahan di Tengah Perubahan
Bagi saya, yang membuat filosofi kepemimpinan noto atine
begitu khas adalah urutannya yang sangat humanis dan berjenjang. Ia mengajarkan
bahwa untuk memimpin orang banyak, seseorang harus bisa memimpin dirinya
sendiri. Untuk mendamaikan orang lain, ia harus lebih dulu damai dengan dirinya
sendiri. Ini adalah etika kepemimpinan yang berakar pada budaya Nusantara,
namun memiliki resonansi universal.
Selayaknya hal itu bisa menjadi jawaban atas arus
globalisasi yang menekankan kepemimpinan karismatik dan vokal, supaya kita tidak kehilangan kekayaan lokal yang tidak kalah unggul ini.
Kita sudah terlalu lama memuja model kepemimpinan Barat yang
heroik dan ekstrovert, sementara lupa bahwa di tanah sendiri kita memiliki
tradisi kepemimpinan yang mengutamakan ketenangan, empati, dan mediasi.
Noto atine bukan sekadar ungkapan bijak di papan
pesantren. Lebih dari sekadar itu, ia adalah sebuah sistem etika yang relevan
untuk menjawab krisis kepemimpinan modern.
Sepertinya sudah saatnya kita berhenti mengukur kualitas
pemimpin dari seberapa banyak orang yang berhasil dikendalikannya, dan mulai
mengukurnya dari seberapa banyak hati yang berhasil ditatanya.
Sudah saatnya kita tidak hanya bertanya “Apa visi dan
misimu?” kepada para calon pemimpin, tetapi juga melontarkan pertanyaan yang
lebih fundamental: “Apakah engkau cukup jernih hatinya untuk menata hati kami
semua?”
Kepemimpinan sejati bukan tentang menguasai, tetapi tentang menata hati. Dan itu, mungkin, adalah satu-satunya obat yang tak pernah kedaluwarsa untuk negeri yang terus sakit karena konflik kekuasaan.