Lewati ke konten utama
Jumat, 28 Agustus 2026 / 15 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Ketika Kemajuan Tak Selalu Berarti Kemuliaan

9 menit baca 816 dibaca
KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D

Oleh: KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D

Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Ketika Kemajuan Tak Selalu Berarti Kemuliaan
Ilustrasi konser di negara maju yang menjadi salah satu panggung hiburan paling populer. Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Ada satu penyakit hati yang datang tanpa suara, yaitu silau melihat kehidupan orang lain. Kita melihat mereka lebih kaya, lebih maju, lebih berpengaruh. Kota-kota mereka tertata, teknologi berkembang, universitas maju, ekonomi kuat, perjalanan lintas negara begitu mudah. Di zaman media sosial, semua itu bahkan hadir setiap hari di telapak tangan kita.

Lalu, tanpa disadari, muncul pertanyaan di dalam hati: Mengapa orang-orang yang tidak beriman justru tampak begitu menikmati dunia? Apakah kelapangan dunia merupakan tanda bahwa mereka lebih mulia di sisi Allah?

Alquran menjawab kegelisahan itu dengan sangat tegas:

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ. مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

“Jangan sekali-kali engkau terpedaya oleh kegiatan orang-orang kafir yang bergerak di berbagai negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal.” (QS. Ali ‘Imran: 196-197)

Perhatikan diksi “La yaghurrannaka (لَا يَغُرَّنَّكَ), “Jangan sekali-kali engkau tertipu”. Larangan ini bukan perintah untuk menutup mata terhadap kemajuan orang lain. Islam tidak mengajarkan umatnya membenci ilmu, teknologi, kekuatan ekonomi, kedisiplinan, atau kemajuan peradaban hanya karena hal-hal itu dimiliki bangsa lain.

Yang dilarang adalah tertipu. Melihat keberhasilan material, kemudian menganggapnya sebagai ukuran mutlak kemuliaan. Melihat dunia, lalu lupa akhirat. Melihat yang tampak, tetapi kehilangan kemampuan membaca hakikat.

Allah juga menggunakan ungkapan (تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ). Imam at-Thabari dalam Jami‘ al-Bayan menjelaskan “taqallub” dalam konteks aktivitas dan pergerakan mereka di bumi. Al-Qurthubi juga menjelaskan tentang perjalanan mereka, termasuk aktivitas perdagangan dan berbagai urusan dunia.

Ayat ini berbicara tentang sesuatu yang sangat konkret, yakni orang beriman mungkin melihat mereka bepergian dari negeri ke negeri, berdagang, memperoleh keuntungan, hidup aman, mempunyai kekuatan ekonomi dan menikmati berbagai fasilitas kehidupan. Tapi sebagaimana ditegaskan di awal ayatnya, itu semua jangan sampai membuat kita tertipu.

Jangan sampai semua itu mengguncangkan iman. Mengapa? Ayat berikutnya menjawab “Mata’un qolilun” (مَتَاعٌ قَلِيلٌ) yang berarti kesenangan yang sedikit”. Memang hanya dua kata, tetapi dua kata itu mengubah perspektif kehidupan. Dunia bukan tidak bernilai. Dunia bernilai sebagai jalan, bukan sebagai tujuan terakhir.

Persoalan muncul ketika sesuatu yang sementara diperlakukan seolah-olah abadi; sesuatu yang seharusnya menjadi sarana berubah menjadi tujuan; dan sesuatu yang seharusnya berada di tangan justru masuk dan menguasai hati.

Baca juga: “DNA” Pejuang: Menagih Spiritualitas, Karakter, dan Tanggung Jawab Kemerdekaan

Kelapangan Dunia Bukan “Sertifikat” Keridhaan Allah

Ada kesalahan teologis yang sejak dahulu menghantui manusia: mengukur cinta Tuhan dengan keadaan ekonomi. Ketika kaya, seseorang berkata: “Allah sedang memuliakanku.” Namun, ketika miskin, ia berkata:“Allah sedang menghinakanku.”

Alquran membantah logika itu. Allah SWT berfirman:

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ. وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ. كَلَّا

“Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Namun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!” (QS. Al-Fajr: 15-17)

Ada kata penting dalam ayat ini, “ibtalahu” (ابْتَلَاهُ), “Dia mengujinya”. Kelapangan adalah ujian, kesempitan juga ujian. Kekayaan ujian, kemiskinan ujian. Kekuasaan ujian, bahkan popularitas pun ujian.

Karena itu, pertanyaan iman bukan hanya: “Berapa banyak yang aku miliki?” Tetapi: “Apa yang terjadi pada diriku karena apa yang aku miliki?” Apakah kekayaan membuat semakin bersyukur atau semakin angkuh? Apakah kekuasaan membuat semakin melayani atau semakin zalim? Apakah ilmu membuat semakin tawadhu’ atau justru merasa paling mengetahui?

Baca juga: Luka karena Pedang Dapat Sembuh, Luka karena Ucapan Dapat Diwariskan

Dunia adalah Penjara Orang Beriman

Dalam Shahih Muslim, disebutkan satu riwayat hadis, bahwa Rasulullah Saw bersabda:

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR Muslim)

Hadis ini sama sekali bukan ajaran agar muslim hidup miskin, malas, kumuh, atau terbelakang. Islam tidak memusuhi kemajuan. Maknanya ialah bahwa sebesar apa pun kenikmatan seorang mukmin di dunia, jika dibandingkan dengan apa yang Allah persiapkan baginya di akhirat, dunia terasa seperti penjara. Sebaliknya, sebesar apa pun kenikmatan dunia seseorang yang berakhir dalam kekufuran, dibandingkan dengan kesudahan akhiratnya, dunia itulah “surga”-nya.

Jadi persoalannya bukan mempunyai dunia atau tidak mempunyai dunia. Persoalannya adalah siapa yang memiliki siapa?, Apakah kita memiliki dunia? Atau justru dunia yang memiliki kita?

Rasulullah Saw memberikan definisi kekayaan yang sangat mendalam:

لَيْسَ الْغِنَىٰ عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَٰكِنَّ الْغِنَىٰ غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” (HR Bukhari dan Muslim)

Inilah wilayah “tazkiyatun nafs, atau penyucian jiwa. Seseorang bisa mempunyai banyak tetapi selalu merasa kurang. Bisa tinggal di rumah besar, tetapi dadanya sempit. Bisa mempunyai jutaan pengikut tetapi merasa kesepian. Bisa mengunjungi puluhan negara, tetapi tidak pernah menemukan ketenteraman dalam dirinya.

Tradisi “tazkiyatun nafs” para ulama kita sejak dahulu mengingatkan: persoalan terbesar bukan keberadaan dunia di tangan, melainkan ketika kecintaan kepada dunia menguasai hati. Karena hati mempunyai kebutuhan yang tidak seluruhnya dapat dibayar dengan uang. Ada lapar yang tidak terpuaskan dengan makanan. Ada dahaga yang tidak selesai dengan minuman. Ada kegelisahan yang tidak selesai dengan perjalanan wisata. Ada ruang dalam diri manusia yang menuntut makna, tujuan, cinta dan hubungan dengan Yang Mahatinggi.

Karena itulah Allah berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Al-Ra‘d: 28)

Tentu ayat ini tidak berarti Islam mengabaikan aspek biologis, psikologis, ekonomi, keluarga dan sosial dalam kesehatan manusia. Semua itu mempunyai tempatnya. Tetapi manusia bukan sekadar tubuh. Manusia juga mempunyai ruh dan hati.

Baca juga: Berdoalah Saja, Jangan Mengatur Allah!

Ketika Psikologi Modern Berbicara tentang Makna

Menariknya, ilmu psikologi modern juga semakin menyadari bahwa kesejahteraan manusia tidak dapat direduksi menjadi kekayaan atau kesenangan. Martin E. P. Seligman, salah seorang tokoh penting positive psychology, misalnya, mengembangkan kerangka kesejahteraan yang dikenal dengan PERMA: Positive Emotion, Engagement, Relationships, Meaning, dan Accomplishment.

Kehidupan yang baik bukan hanya kehidupan yang menyenangkan. Manusia juga membutuhkan keterlibatan, hubungan yang sehat, pencapaian dan makna.

Viktor E. Frankl, psikiater dan neurolog Austria serta penggagas logoterapi, bahkan menjadikan pencarian makna sebagai salah satu tema utama pemikirannya. Dalam karya-karyanya tentang logoterapi, termasuk Man’s Search for Meaning dan The Will to Meaning, Frankl menunjukkan betapa pentingnya tujuan dan makna dalam kemampuan manusia menghadapi penderitaan.

Frankl tentu berbicara sebagai psikiater, bukan mufasir. Seligman berbicara dalam bahasa psikologi, bukan dalam bahasa tafsir. Karena itu, kita tidak perlu memaksakan teori mereka menjadi “bukti” Alquran.

Namun, menarik melihat sebuah titik perjumpaan: manusia tidak cukup hanya dibuat nyaman; manusia membutuhkan makna.

Dan bagi seorang mukmin, makna tertinggi kehidupan tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia bermuara kepada Allah. Jangan pula mudah menghakimi Barat. Di sinilah kita perlu bersikap adil. Ayat (لَا يَغُرَّنَّكَ) tidak boleh dijadikan legitimasi untuk mengatakan bahwa setiap orang nonmuslim pasti tidak bahagia, atau bahwa setiap masyarakat Barat pasti mengalami kehampaan spiritual. Klaim seperti itu terlalu menyederhanakan manusia dan tidak cukup kuat secara ilmiah.

Penelitian lintas negara Pew Research Center, misalnya, menemukan bahwa orang yang aktif berpartisipasi dalam komunitas keagamaan cenderung melaporkan tingkat kebahagiaan dan keterlibatan sosial yang lebih tinggi di banyak negara dibandingkan kelompok pembanding tertentu. Namun, para penelitinya juga menegaskan bahwa hubungan tersebut bersifat kompleks dan data korelasional tidak dengan sendirinya membuktikan sebab-akibat.

Ini pelajaran penting bagi dakwah: semangat harus berjalan bersama kejujuran ilmiah. Karena itu, jangan mengejek Barat. Belajarlah dari kemajuannya. Pelajari sainsnya. Ambil kedisiplinannya. Tiru profesionalismenya. Bangun teknologi yang lebih baik. Pelajari budaya risetnya. Bangun ekonomi yang kuat. Tetapi jangan kehilangan kemampuan melakukan kritik terhadap pandangan hidup yang bertentangan dengan nilai wahyu.

Seorang muslim tidak diperintahkan menjadi anti-Barat. Tetapi ia juga tidak boleh silau kepada Barat. Ia mengambil hikmah tanpa kehilangan kiblat.

Baca juga: Sebuah Refleksi ketika Kehormatan Diukur dengan Kekayaan

Kita Terus Bergerak, tetapi Menuju ke Mana?

Ada ruang tadabbur yang menarik dari kata: تَقَلُّبُ. Secara tafsir, makna yang harus didahulukan adalah apa yang diterangkan para mufasir mu‘tabar: pergerakan dan aktivitas mereka di berbagai negeri.

Namun, sebagai tadabbur, bukan sebagai tafsir definitif, kata ini dapat mengingatkan kita pada karakter manusia modern yang terus bergerak. Dari satu kota ke kota berikutnya. Dari satu destinasi wisata ke destinasi berikutnya. Dari satu kendaraan menuju kendaraan yang lebih mahal. Dari satu gawai menuju seri terbaru. Dari satu jabatan menuju jabatan berikutnya. Dari seribu pengikut menuju sejuta pengikut.

Kita terus bergerak. Tetapi pernahkah kita bertanya: Hati ini sebenarnya sedang bergerak menuju ke mana?

Bepergian tentu bukan masalah. Rasulullah SAW dan para sahabat pun melakukan perjalanan. Rekreasi, menikmati alam dan melihat negeri-negeri lain merupakan bagian yang wajar dari kehidupan.

Namun, apabila perjalanan hanya menjadi cara untuk terus-menerus melarikan diri dari kehampaan, kegelisahan itu akan ikut masuk ke dalam koper. Boleh jadi seseorang telah mengelilingi separuh dunia, tetapi belum pernah melakukan perjalanan beberapa sentimeter menuju kedalaman hatinya sendiri.

Media Sosial dan Fatamorgana Kebahagiaan

Ayat ini terasa semakin relevan pada zaman media sosial. Kita hidup pada masa ketika manusia sering membandingkan seluruh kehidupan dirinya dengan potongan terbaik kehidupan orang lain. Kita melihat foto liburannya, bukan kegelisahannya. Kita melihat mobilnya, bukan bebannya. Kita melihat prestasinya, bukan malam-malam panjang perjuangannya. Kita melihat senyumnya, tetapi tidak mengetahui pergulatan yang sedang terjadi dalam hatinya.

Alquran mengingatkan:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 131)

Perhatikan ungkapan Alquran yang berbunyi: زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا yang berarti “Bunga kehidupan dunia”. Bunga memang indah. Bunga boleh dinikmati. Tetapi bunga tidak selamanya mekar. Standar langit berbeda, Rasulullah Saw bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَىٰ صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR Muslim)

Di sinilah ukuran langit berbeda dengan ukuran dunia.  Dunia bertanya: Berapa hartamu? Iman bertanya: Dari mana dan untuk apa hartamu? Dunia bertanya: Apa jabatanmu? Iman bertanya: Berapa banyak manusia memperoleh manfaat dari jabatanmu? Dunia bertanya: Berapa banyak manusia mengenalmu? Iman bertanya: Apakah Allah meridhaimu? Dunia menghitung apa yang masuk ke rekening. Sementara, tazkiyatun nafs mengingatkan kita untuk menghitung apa yang masuk ke dalam hati.

Baca juga: Mengobati Krisis Spiritualitas Umat di Era Digital

Yang Menentukan adalah Kesudahan

Pada akhirnya, QS Ali ‘Imran 196 di awal tulisan ini mendidik cara kita memandang kehidupan. Jangan rendah diri hanya karena rumah orang lain lebih besar. Jangan kehilangan rasa syukur karena kendaraan orang lain lebih mahal. Jangan menganggap kehidupan gagal hanya karena perjalanan orang lain terlihat lebih cepat. Dan jangan pula merasa otomatis lebih mulia hanya karena kita seorang muslim.

Identitas iman adalah amanah. Iman semestinya melahirkan ilmu yang lebih tinggi, akhlak yang lebih luhur, kerja yang lebih profesional, ekonomi yang lebih kuat, kepedulian sosial yang lebih luas, dan peradaban yang membawa rahmat bagi manusia.

Seorang mukmin boleh kaya. Tetapi kekayaan berada di tangannya, bukan di hatinya. Ia boleh mempunyai kekuasaan. Tetapi kekuasaan tidak boleh menguasai jiwanya. Ia boleh terkenal. Tetapi ia tidak hidup untuk tepuk tangan manusia. Ia boleh mengelilingi dunia. Tetapi ia tahu ke mana perjalanan terakhirnya.

Sebab setelah semua perjalanan selesai, kita semua akan pulang. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam berfirman-Nya:

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A‘la: 17)

Maka lihatlah kemajuan dunia. Pelajarilah. Kejarlah prestasi. Bangunlah ilmu. Kuatkan ekonomi. Ciptakan teknologi. Bangunlah peradaban. Nikmatilah yang halal dan baik. Tetapi jangan silau. Sebab orang yang silau kehilangan kemampuan melihat arah. Sedangkan seorang mukmin mempunyai arah yang jauh melampaui dunia: Allah dan kehidupan akhirat.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan: “Seberapa banyak dunia yang berhasil kita nikmati?” Tetapi: “Dalam keadaan bagaimana kita akan kembali kepada Allah?” Sebab yang menentukan bukan sekadar indahnya permulaan, tetapi baiknya kesudahan—husnul khatimah. Wallahu a’lam bis shawab.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.