Waspadai Disorientasi Jamaah Haji Lansia, Ini yang Penting Diperhatikan
Sanib
Penulis
Admin
Editor
Laporan jurnalis MUI Digital, langsung dari Makkah, Arab Saudi
Makkah, MUI Digital — Jamaah haji Indonesia, khususnya lanjut usia (lansia) diimbau untuk mewaspadai kondisi disorientasi atau kebingungan yang kerap terjadi pada masa awal kedatangan di Tanah Suci.
Hal itu disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Pusat Kesehatan Haji Republik Indonesia, Dani Pramudya, kepada Tim Media Center Haji di Makkah, Kamis (14/5/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut umumnya dipicu oleh kelelahan setelah perjalanan panjang, perubahan cuaca ekstrem, kurang istirahat, hingga proses adaptasi dengan lingkungan baru di Makkah.
“Kondisi ini umumnya dipicu oleh kelelahan perjalanan panjang, perubahan cuaca ekstrem, kurang istirahat, hingga adaptasi lingkungan baru di Makkah,” ujarnya.
Dani menjelaskan, jamaah yang mengalami kebingungan atau penurunan orientasi membutuhkan waktu pemulihan sekitar 24 hingga 48 jam.
Selama masa tersebut, jamaah diminta memperbanyak istirahat dan menjaga asupan cairan serta makanan. “Recovery-nya bisa 24 jam, bahkan sampai 48 jam atau dua hari. Selama masa pemulihan itu, jamaah harus cukup istirahat, asupan makanan dijaga, dan kebutuhan cairan benar-benar terpenuhi. Dengan banyak minum, tubuh akan lebih cepat pulih dan orientasi bisa kembali membaik,” katanya.
Baca juga: Jamaah Haji Diimbau Tak Aji Mumpung Ibadah Sunnah, Fokus Jaga Fisik Jelang Armuzna
Setelah kondisi mulai stabil, jamaah dianjurkan melakukan adaptasi secara bertahap. Mulai dari mengenali lingkungan hotel, berjalan ringan di sekitar pemondokan, hingga perlahan mulai dibimbing menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan ibadah umrah.
Menurut Dani, aktivitas berat sebaiknya tidak langsung dilakukan agar kondisi fisik jamaah tetap terjaga menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
“Jangan langsung dipaksakan aktivitas berat. Mulai dari latihan ringan, jalan pelan-pelan, mengenali lingkungan sekitar. Setelah itu istirahat lagi. Tujuannya agar saat memasuki puncak haji di Arafah, jamaah benar-benar dalam kondisi fit,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya pendampingan terhadap jamaah yang mengalami disorientasi, terutama lansia. Keluarga, ketua rombongan, maupun teman sekamar diminta tidak meninggalkan jamaah sendirian.
“Yang paling penting, jangan ditinggal sendirian. Harus ada yang mendampingi di sampingnya, mengingatkan dia sedang berada di mana, siapa yang mendampingi, dan apa yang sedang dilakukan. Pendampingan ini sangat penting untuk membantu orientasi jamaah kembali pulih,” katanya.
Dani menambahkan, kelompok yang paling rentan mengalami kondisi tersebut adalah jamaah berusia di atas 60 tahun, terutama yang telah memiliki gejala penurunan daya ingat atau penyakit penyerta seperti diabetes melitus dan hipertensi.
Karena itu, petugas kesehatan haji terus melakukan pemantauan terhadap jamaah berisiko tinggi agar tetap dapat menjalankan rangkaian ibadah haji dengan aman hingga puncak pelaksanaan haji.