Lewati ke konten utama
Selasa, 7 Juli 2026 / 21 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Hikmah Syawal, Ramadhan Bukan Latihan Sementara Melainkan Sepanjang Hayat

3 menit baca 1.117 dibaca
Makna Ramadhan dan Idul Fitri dalam Mewujudkan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat
Ilustrasi Idul Fitri Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital—  Ramadhan dan Idul Fitri belum ini dilalui segenap umat Islam. Namun apa sebenarnya esensi Ramadhan dan bagaimana menjaga ruh spiritualitas ini tetap terjaga di bulan-bulan berikutnya? 

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, mengatakan Ramadhan bukan sekadar latihan sementara, tetapi pendidikan untuk menguasai diri sepanjang hayat. Imam Asy-Syafi’i berkata:

إِذَا لَمْ تَسْتَطِعْ أَنْ تَحْبِسَ نَفْسَكَ، اسْتَوْلَتْ عَلَيْكَ شَهَوَاتُكَ

“Jika engkau tidak mampu menahan dirimu, maka hawa nafsumu akan menguasaimu.”

“Ungkapan ini menegaskan pentingnya pengendalian diri dalam kehidupan seorang muslim,” kata dia, kepada MUI Digital, di Jakarta, Rabu (25/3/2026).  

Dia menjelaskan, nafsu (syahwat) pada dasarnya adalah bagian dari fitrah manusia, tetapi jika tidak dikendalikan, ia akan menguasai dan mengarahkan manusia pada hal-hal yang berlebihan, bahkan menyimpang.

Baca juga: Israel Larang Shalat Idul Fitri di Masjid Al-Aqsa, Ketua MUI: Umat Islam Harus Melawan

Kiai Cholil, begitu akrab disapa, mengatakan, kemampuan menahan diri (ḥabs an-nafs) adalah inti dari akhlak dan spiritualitas Islam. Dalam konteks Ramadhan, latihan puasa mengajarkan kita untuk mengendalikan keinginan yang paling dasar sekalipun, seperti makan dan minum. 

“Jika latihan ini tidak dilanjutkan setelah Ramadhan, maka hawa nafsu akan kembali mendominasi,” tutur dia. 

Lebih lanjut, Kiai Cholil menambahkan, ungkapan ini juga mengandung peringatan bahwa manusia tidak bisa netral yakni jika tidak menguasai dirinya, maka dirinya akan dikuasai. 

Oleh karena itu, kata Pengasuh Pesantren Cendekia Amanah, Depok Jawa Barat ini, pengendalian diri harus menjadi kebiasaan yang terus dijaga, agar seseorang tetap berada di jalan yang benar dan tidak terjerumus dalam sikap berlebihan (israf) atau perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Imam al-Ghazali berkata:

الصَّوْمُ نِصْفُ الصَّبْرِ، وَالصَّبْرُ هُوَ حَبْسُ النَّفْسِ عَمَّا تَشْتَهِي

“Puasa adalah setengah dari kesabaran, dan kesabaran itu menahan diri dari apa yang diinginkan.”

Dia menjabarkan, kesabaran didefinisikan sebagai kemampuan mengendalikan diri dari keinginan yang tidak semestinya. Artinya, sabar bukan sekadar pasif menerima keadaan, melainkan  aktif mengendalikan dorongan diri agar tetap berada dalam batas yang benar.

“Kekuatan sejati manusia bukan pada kebebasan mengikuti keinginan, melainkan pada kemampuan mengendalikan keinginan tersebut,” kata Kiai Cholil. 

Baca juga: 3 Esensi Ramadhan dan Idul Fitri untuk Maslahat Bangsa dan Negara

Ungkapan tersebut, menurut Kiai dia, memiliki kaitan yang sangat erat dengan konsep efisiensi dalam kehidupan. Efisiensi pada hakikatnya adalah kemampuan menggunakan sesuatu secara tepat, tidak berlebihan, dan sesuai kebutuhan. Sementara kesabaran—sebagaimana dijelaskan dalam ungkapan tersebut—adalah kemampuan menahan diri dari dorongan keinginan yang berlebihan.

“Di sinilah titik temu keduanya. Efisiensi tidak mungkin terwujud tanpa pengendalian diri,” tutur dia.  

Dia mengatakan, banyak pemborosan terjadi bukan karena kebutuhan, tetapi karena keinginan yang tidak terkendali. Puasa melatih seseorang untuk mengatakan “cukup” terhadap sesuatu yang sebenarnya diinginkan.