Wamenkes Benjamin Paulus Octavianus Kunjungi MUI, Perkuat Sinergi Penanganan TBC dan Vaksinasi
Fitri Aulia Lestari
Penulis
Muhammad Fakhruddin
Editor
Jakarta, MUI Digital — Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, menegaskan pentingnya penguatan sinergi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam penanganan penyakit dan percepatan vaksinasi di Indonesia.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk melanjutkan kerja sama yang selama ini dinilai efektif dalam mendukung program kesehatan nasional, khususnya melalui fatwa MUI yang mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat.
“Jadi kehadiran kami ke MUI, selain untuk bersilaturahmi, juga karena selama ini dalam berbagai kegiatan untuk kepentingan kesehatan masyarakat, kami berkali-kali dibantu oleh MUI. Apalagi, fatwa-fatwa MUI memiliki peran yang sangat penting,” ujarnya di Kantor MUI, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (2/4/2026).
Baca juga: Ungkap Peran Vital Ulama Masa Covid-19, Ketua MPR RI: Begitu MUI Mengatakan Halal, Vaksinasi Jalan
Benjamin juga menyinggung tren kasus campak yang mulai menurun, namun tetap perlu diantisipasi melalui penguatan vaksinasi.
“Seperti hari ini kan ada mengenai agak tinggi kasus campak, sekarang minggu ke-12 sudah mulai turun, tetapi vaksinasi tetap penting untuk mencegah agar penyakit tidak menjadi berat. Kalau orang sudah divaksin, reaksinya lebih ringan,” jelasnya.
Selain itu, ia menegaskan bahwa penanganan tuberkulosis menjadi prioritas pemerintah, mengingat Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus.
“Kita datang ke sini banyak hal yang kita ditugaskan, selain untuk pemberantasan penyakit tuberkulosis, kita perlu ke daerah-daerah karena Indonesia nomor dua di dunia,” tegasnya.
Menurutnya, MUI memiliki peran strategis dalam menjembatani kebijakan kesehatan dengan keyakinan masyarakat, terutama di tengah maraknya hoaks.
Baca juga: Penetapan Halal Vaksin NUsaGard Melalui Kajian Mandalam
Benjamin juga menekankan pentingnya koordinasi terkait aspek kehalalan vaksin seiring perkembangan ilmu pengetahuan.
“Kalau ada masalah vaksin berhubungan dengan halal dan tidak halal, MUI sudah punya bidangnya. Kita akan berkonsultasi terhadap semua penemuan baru,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa dunia kesehatan harus siap menghadapi potensi munculnya penyakit baru, sebagaimana pengalaman pandemi COVID-19.
“Kita enggak tahu penyakit apa yang akan datang. Bisa jadi ke depan ada penyakit baru, jadi kita harus siap perang melawan penyakit, termasuk dari sisi pencegahan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Benjamin menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan MUI dalam memastikan vaksin sesuai dengan kaidah agama.
“Tadi diingatkan oleh Prof. Niam bahwa harus disiapkan vaksin yang sesuai dengan kaidah agama. Kalau ada vaksin, itu harus diutamakan. Jadi prinsip-prinsip yang disampaikan oleh MUI harus bekerja sama dengan Kemenkes, sehingga umat juga tenang divaksin, karena tahu ini aman dan tidak melanggar akidah,” ujarnya.
Ia pun menegaskan bahwa kunjungan ini bertujuan memperkuat kolaborasi untuk kepentingan kesehatan masyarakat secara luas.
“Jadi datang ke sini untuk menjembatani, intinya kita ingin masyarakat sehat dan kita ingin bekerja sama dengan MUI untuk menolong bangsa ini,” pungkasnya.
Kunjungan tersebut disambut oleh Ketua MUI Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Ni'am Sholeh, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Ulama Indonesia, Buya Amirsyah Tambunan, Wasekjen MUI Adib Khumaidi, Ketua MUI Bidang Kesehatan Fasli Jalal, serta jajaran pimpinan MUI lainnya.