Saat Rektor IPB Berbagi Empat Maqamat Puasa dan Implementasinya dalam Kehidupan
Sadam Al Ghifari
Penulis
Admin
Editor
Bogor, MUIDigital— Halal Bi Halal Syawal 1447 H bagi keluarga besar Institut Pertanian Bogor (IPB) University menjadi momentum untuk kembali memaknai takwa dan implementasinya dalam kehidupan akademis.
Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Dr Alim Setiawan Slamet menjelaskan pelaksanaan ibadah puasa selama 30 hari Ramadhan tidak hanya melahirkan rasa lapar dan haus, tetapi menjadi tranformasi karakter yang lahir dari proses melatih diri.
Dalam tradisi tasawuf, latihan inilah yang disebut maqamat sebagai tangga spiritual menuju Allah SWT. Menurut Risalah al-Qusyairiyah (kitab tasawuf) karya Imam Al-Qusyairi memetakan maqamat puasa menjadi empat.
Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Dr Alim Setiawan Slamet, dalam acara halal bi halal bagi civitas akademika, menilai empat maqamat tersebut sangat relevan bagi setiap civitas akademika maupun secara institusi IPB University.
Alim mengungkapkan, keempat maqamat itu yakni tawadhu, qanaah, waro dan yakin. Menurutnya, berdasarkan huruf pertama dari keempat maqamat itu membentuk sebuah kata 'takwa'.
Tawadhu merupakan kerendahan hati yang sejati, bukan rendah diri yang lemah, apalagi kerendahan yang berpura-pura. Menurut Imam al-Qusyairi, tawadhu adalah ketika engkau memandang dirimu, tidak memiliki keutamaan apapun, atas seorang pun dari hamba-hamba Allah.
Baca juga: Hikmah Syawal, Rektor IPB Sampaikan Empat Nilai Utama Ramadhan yang Penting Dipertahankan
"Dan Ramadhan melatihnya dengan cara yang paling mendasar. Puasa menyetarakan semua orang, presiden dan rakyatnya, profesor dan mahasiswa, pejabat dan staf, semuanya sama-sama menahan diri, semua sama-sama lemah di hadapan Allah," kata Alim di Gedung Graha Widya Wisuda (GWW) IPB University, Dramaga, Bogor, Rabu (1/4/2026) lalu.
Dalam konteks pendidikan tinggi dan IPB University, Alim menerangkan konsep tawadhu memiliki dimensi yang sangat konkret, yaitu tidak ada superioritas keilmuan di antara disiplin ilmu.
Dia menegaskan tidak ada disiplin ilmu yang lebih mulia dari yang lain. Menurutnya, sains dan teknologi sama pentingnya dengan sosial dan humaniora. Begitu juga dengan contoh disiplin keilmuan lainnya.
Dia menyoroti kondisi global saat ini yang penuh tantangan. Kondisi tersebut tidak bisa diselesaikan oleh disiplin ilmu secara sendirian, melainkan harus berjalan bersama dengan disiplin ilmu lainnya.
"Krisis pangan menyentuh kebijakan publik, juga psikologi petani, budaya lokal dan teknologi sekaligus. Perubahan iklim membutuhkan sains, etika, hukum, dan juga pemberdayaan masyarakat bersama-sama," tegasnya.
Alim menegaskan, kolaborasi lintas disiplin ilmu bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan dan kolaborasi yang sejati hanya bisa lahir dari komunitas yang tawadhu yang tidak merasa ilmunya yang paling penting.
"Mau duduk setara, yang rela belajar dari perspektif berbeda. Inilah mengapa tawadhu menjadi nilai strategis. Justu di saat ini ketika IPB sedang menjalani transformasi keilmuan dan kelembagaan yang nyata. Transformasi semacam ini tidak bisa berjalan dengan ego keilmuan yang tinggi," ungkapnya.
Alim menekankan, tranformasi tersebut membutuhkan kesediaan untuk melepas sekat-sekat yang lama, saling mengakui bahwa tidak ada satu pun dari kita yang cukup lengkap sendirian.
Baca juga: Hikmah Syawal, Prof Sudarnoto: Takwa Berarti Harus Membela Kemanusiaan
Alim menukil pernyataan Jim Collins, seorang penulis asal Amerika Serikat, dalam bukunya yang berjudul Good to Greet yang menyebut pemimpin terbaik adalah mereka yang mempunyai ambisi besar untuk misinya, tetapi rendah hati secara personal.
"Dan di IPB, tawadhu bisa kita artikan, kita harus lebih banyak mendengar sebelum memutuskan. Bersedia belajar dari siapapun, dan mendahulukan kepentingan bangsa diatas ego keilmuan ataupun ego jabatan," terangnya.
Sementara qanaah adalah kepuasan hati yang lahir dari kejernihan tujuan, bukan pasrah tanpa usaha, melainkan kemampuan untuk mendefinisikan keberhasilan dari dalam, bukan dari luar.
Menurut Imam al-Qusyairi, qanaah mengajarkan ketika seseorang merasa cukup karena hatinya penuh dengan Allah, hatinya terarah pada tujuan yang lebih tinggi, bukan karena enggan berusaha atau takut bersaing.
"Ramadhan melatih qanaah dengan cara yang paling konkret. Ketika berpuasa, makanan ada, minuman tersedia, tetapi kita memilih untuk tidak mengambilnya. Bukan karena tidak mampu atau tidak mau, melainkan karena sadar ada tujuan yang lebih tinggi dari sekadar memuaskan hasrat," jelasnya.
Ketika berpuasa, makanan dan minuman ada, tetapi memilih untuk tidak mengambilnya. Bukan karena tidak mampu atau tidak mau, melainkan karena sadar ada tujuan yang lebih tinggi dari sekadar memuaskan hasrat.
Ramadhan membuktikan bahwa manusia jauh lebih tangguh dan jauh lebih sedikit membutuhkan dari yang ia bayangkan. Dalam konteks pendidikan tinggi, Alim mengatakan, qanaah berbicara tentang kejernihan tujuan di tengah hiruk pikuk kompetisi global.
Menurutnya, perguruan tinggi hari ini menghadapi godaan yang sangat nyata, yaitu berlomba-lomba mengejar rangking, hingga mengejar akreditasi, namun terkadang melupakan pertanyaan yang paling fundamental: untuk siapa semua ini?.
"Qanaah mengingatkan kita untuk tidak tersesat dalam mengejar angka dan kemudiaan kehilangan makna. Ini bukan berarti kita berhenti berinovasi. Sebaliknya, qanaah memberi kita kebebasan untuk berinovasi dengan tulus," tegasnya.
Alim menekankan, penelitian yang lahir dari qanaah adalah penelitian yang benar-benar ingin menjawab masalah nyata. Bukan penelitian yang dirancang semata-mata hanya untuk memenuhi indikator kinerja. Dengan demikian, pertanyaannya tidak selalu apa yang kita lakukan, tetapi mengapa kita ada.
Alim menegaskan IPB University ada untuk Indonesia, ada untuk petani, ada untuk nelayan, ada untuk masyarakat yang bergantung pada kekayaan alam bangsa ini. Menurutnya, qanaah bisa menjadi kompas bagi civitas akademika IPB University dari setiap langkah yang dituju.
Dalam aspek wara', menekankan kehati-hatian yang lahir dari nurani. Bukan sekedar kepatuhan pada aturan, melainkan kepekaan batin untuk secara aktif menjaga diri dari segala yang mengaburkan kebenaran. Meskipun secara hukum hal itu diperbolehkan.
"Ramadhan melatih wara' dengan sangat detail. Puasa yang sempurna bukan hanya menahan lapar. Ia menahan lisan, pandangan dan segala yang sia-sia. 30 hari melatih kita untuk bertanya sebelum bertindak. Apakah ini perlu? Apakah ini benar? Kebiasaan ini jika terus dipelihara akan membentuk refleks moral yang menjadi karakter," ungkapnya.
Dalam konteks pendidikan tinggi, Alim menilai wara' sebagai integritas akademik. Menurutnya, wara' sekarang ini sedang diuji oleh berbagai tekanan yang tidak ringan.
Misalnya, tekanan untuk mempublikasikan dengan cepat, bisa menggoda kita untuk memotong jalan. Tekanan untuk memenuhi target, bisa mendorong kita untuk melebih-lebihkan hasil.
Selain itu, tekanan persaingan bisa membuat kita mengabaikan etika di sudut-sudut yang tidak terlihat. "Wara' hadir disitu sebagai penjaga. Menolak data yang dimanipulasi, meskipun tidak ada yang tau. Mencantumkan keterbatasan penelitian dengan jujur, meskipun itu mungkin membuat atau mengurangi kesan kehebatan kita," ungkapnya.
"Wara' adalah keberanian untuk tetap benar ketika tidak ada yang mengawasi. Dan itulah standar tertinggi dari sebuah lembaga ilmu. Institusi yang berprinsip adalah institusi yang dipercaya. Dan kepercayaan adalah modal yang paling mahal dan paling lama dibangun, namun paling cepat hancur jika sekali saja dikhianati," tegasnya.
Baca juga: Hikmah Syawal, Ramadhan Bukan Latihan Sementara Melainkan Sepanjang Hayat
Sementara yakin, adalah keyakinan yang tertanam begitu dalam hingga tidak bisa diguncang oleh keraguan ataupun kesulitan. Dalam kepemimpinan, keyakinan adalah spirit yang menggerakkan tindakan besar di tengah ketidakpastian.
"Ramadhan adalah latihan yakin yang paling murni. Kita tidak melihat pahala yang dijanjikan. Kita tidak bisa memverifikasi bahwa amalan kita diterima. Tetapi kita tetap bangun sebelum fajar, tetap menahan diri, tetap sujud di malam hari. Karena apa? Karena imanan waktisaban karena iman dan penuh keyakinan," ujarnya.
Dalam konteks pendidikan tinggi, Alim menilai yakin adalah energi yang menggerakkan transforlasi ketika hasilnya belum terlihat. Menurut dia, riset unggulan tidak selalu menghasilkan terobosan dalam satu atau pun dua tahun.
"Perubahan sistem mungkin tidak bisa dirasakan hanya dalam satu semester. Dampak nyata dari sebuah kebijakan kadang baru terasa bertahun-tahun kemudiaan. Di sinilah yakin yang menjadi pembeda antara institusi yang gigih dan institusi yang mudah menyerah," ujarnya.
Alim mengajak dosen IPB University untuk merasa yakin bahwa ilmu yang diajarkan akan menjadi bekal yang menentukan bagi masa depan mahasiwa.
Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan, meskipun belum ada yang mengutipnya, harus yakin bahwa penelitian tersebut bisa menjadi batu bata yang membangun fondasi peradaban.
Dalam acara yang mengangkat tema "Jernihkan Hati, Eratkan Silaturahmi, Perkuat Kolaborasi" ini menghadirkan Wakil Ketua Umum MUI KH Cholil Nafis untuk memberikan tausiyah.
Dalam tausiyahnya, Wakil Ketua Umum MUI KH Cholil Nafis mengingatkan pentingnya memiliki kejernihan hati bagi umat Islam setelah melaksanakan ibadah pada Ramadhan.
Ulama kelahiran Sampang, Madura, pada 1 Juni 1975 ini menjelaskan, kejernihan hati membuat seseorang tidak memiliki rasa iri, dengki dan sombong, serta hidupnya hanya untuk meraih ridha Allah SWT.
Selain itu, Kiai Cholil menerangkan, orang yang memiliki kejernihan hati sudah pasti memiliki kecerdasan dalam hidupnya. Sementara orang cerdas, belum tentu memiliki kejernihan hati.
"Acara Halal bi Halal tidak hanya seremonial, melainkan upaya untuk merawat kejernihan hati, antara lain, dengan saling silaturahim dan saling memaafkan. Kejernihan hati juga akan melahirkan kecerdasan, terutama kecerdasan untuk menyelesaikan masalah," kata Kiai Cholil.
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini menerangkan, pengembangan diri manusia juga berangkat dari kejernihan hatinya.
Menurut dia, kejernihan hati sangat penting bagi umat Islam, terutama mengenai tauhid, dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari dengan baik.
"Apabila sudah memiliki kejernihan hati dan bisa memilihara tauhid, hidup kita hanya kepada Allah. Ketika melakukan penelitian, bukan karena ingin dikutip, melainkan karena melaksanakan perintah Allah. Tidak ada kepentingan duniawi, tidak ada kepentingan diri, tapi semata-mata berpasrah diri kepada Allah," ujarnya.
Ikhlas dan yakin
Selama Ramadhan, umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa yang melatih diri mengenai keyakinan dan keikhlasan. Salah satu sebabnya, seseorang yang berpuasa tidak bisa mengetahui amal ibadah puasanya dapat diterima atau tidak oleh Allah SWT.
"Dalam melaksanakan ibadah puasa, umat Islam diajarkan untuk memiliki rasa ikhlas dan yakin puasanya dapat diterima, selama puasanya itu benar, menjalankan kewajiban berdasarkan Alquran dan Hadist, dan hanya untuk Allah," terangnya.
Kiai Cholil menjelaskan, secara umum mengenai keyakinan terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu ilmul yaqin (keyakinan berdasarkan ilmu/informasi), 'ainul yaqin (keyakinan berdasarkan penglihatan/bukti), dan haqqul yaqin(keyakinan berdasarkan pengalaman langsung/kebenaran hakiki).
"Dalam konteks ini, perbuatan kita di dunia ini seakan-akan melihat Allah, minimal kita merasa dilihat Allah. Bisa tidak kita berperilaku ihsan, bukan karena manusia, melainkan karena Allah. Begitu juga dalam memperlakukan manusia, harus karena Allah, bukan karena manusia, apalagi karena jabatannya," ujarnya.
Baca juga: Syawal Menguji Konsistensi dan Mendidik Generasi
Rais Syuriah PBNU ini juga mengajak civitas akademika IPB University menjadi manusia berdampak sebagai manifestasi dari sebuah hadist yang berbunyi khairunnas anfa'uhum linnas yang berarti sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.
"Penelitian kita berdampak. Pengajaran kita kepada mahasiswa berdampak. Kemudiaan bagaimana pengabdian kepada masyarakat berdampak, bukan sekedar malaksanakan rutinitas," kata Kiai Cholil.
Kiai Cholil menekankan, sekecil apapun ilmu yang diberikan, terutama kepada masyarakat, bisa menjadi ilmu yang besar dan bermanfaat bagi masyarakat.
Menurutnya, menjadi manusia yang berdampak bisa menjadi tanda bahwa ibadah puasa di bulan Ramadhan diterima Allah SWT.
Kiai Cholil menjelaskan, tanda puasa seseorang diterima adalah bisa lebih baik dalam menjalani kehidupan setelah bulan Ramadhan. Tidak hanya lebih baik dalam hubungan kepada manusia, tetapi bisa lebih baik hubungan kepada Allah SWT.
"Ketika Ramadhan bisa khatam Alquran, maka setelah Ramadhan kebiasaan itu harus tetap dilanjutkan bahkan ditingkatkan. Minimal bisa membaca satu ayat setiap hari. Gapapa, yang penting setiap hari diajak bicara oleh Allah," sambungnya.
Selain itu, Kiai Cholil berpesan agar civitas akademika IPB senantiasa melaksanakan sholat malam sebagai sarana interaksi dengan Allah.
"Terutama sebelum adzan Shubuh, perbanyak baca istighfar. Kemudian juga banyak membaca shalawat. Karena kalau kita baca shalawat sekali, kita akan diberikan oleh Allah rahmat-Nya 10 kali lipat," ungkapnya.
Kiai Cholil menerangkan, apabila bisa konsisten mengamalkan kebiasaan ini, Allah SWT akan membimbing hamba-Nya ke jalan yang baik.
Dalam momen ini, CEO Amanah Zakat mengajak civitas akademika IPB University menjadi manusia yang pemaaf. Kiai Cholil menegaskan, acara Halal bi Halal tidak hanya ceremonial, melainkan upaya untuk meraih kejernihan hati.
"Tanpa minta maaf, sudah saling memaafkan. Jadi puasa yang dilaksanakan di bulan Ramadhan, kemudian maaf-maafan, ini sudah bagaikan anak yang baru dilahirkan ibu yang tidak punya dosa apa-apa. Karena dosa kepada Allah, mudah-mudahan sudah dimaafkan saat Ramadhan. Dosa di antara kita, pada kesempatan ini kita sudah maaf-maafan," kata dia.