Iran Ajak Umat Islam Indonesia Jaga Persatuan, Isu Syiah–Sunni Disebut Upaya Memecah Belah
Irma Zuha Attamimi
Penulis
Azharun N
Editor
JAKARTA, MUI Digital – Duta Besar Iran untuk Indonesia Yang Mulia Mohammad Boroujerdi mengajak umat Islam di Indonesia tidak terjebak perpecahan akibat isu perbedaan antara Syiah dan Ahlussunnah wal Jamaah (Sunni).
Dia menilai, narasi yang mempertentangkan kedua kelompok tersebut merupakan upaya pihak luar untuk memecah belah umat Islam.
Dalam kunjungannya ke Kantor MUI pada Senin (6/4/2026), ia menyebut sekitar 45 tahun lalu, isu perpecahan antara Syiah dan Sunni tidak mencuat seperti saat ini.
Dia menyebut, berkembangnya narasi tersebut tidak terlepas dari peran pihak yang ingin melemahkan persatuan umat Islam, khususnya yang dikaitkan dengan kepentingan zionisme Israel.
“Isu Syiah dan Sunni ini merupakan fitnah yang diproduksi oleh pihak-pihak yang memusuhi Islam. Tujuannya adalah untuk mengkotak-kotakkan umat,” ujarnya.
Dia menegaskan, umat Islam tidak boleh terjebak dalam arus provokasi yang justru menguntungkan pihak-pihak yang ingin melihat perpecahan.
Para ulama dan tokoh agama, lanjutnya, pada dasarnya memahami kondisi riil di lapangan serta pentingnya menjaga persatuan umat.
Lebih jauh, dia menekankan bahwa dalam berbagai situasi penting, termasuk dalam sejarah perjuangan Islam di masa Nabi Muhammad SAW, umat Islam bersatu tanpa mempersoalkan perbedaan yang bersifat internal.
Semangat kebersamaan dan perjuangan bersama menjadi hal utama dalam menghadapi tantangan.
“Kita tidak boleh kehilangan fokus hanya karena sibuk memperdebatkan apakah ini Syiah atau Sunni. Persatuan harus menjadi prioritas,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Ia juga menyampaikan sikap saling menghormati antar umat Islam.
Dia mencontohkan, dirinya siap menjadi makmum di belakang imam dari kalangan ulama Indonesia sebagai bentuk penghormatan dan persatuan.
Dia turut merujuk pada pandangan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang telah mengeluarkan fatwa bahwa menghina simbol-simbol yang dihormati oleh kelompok atau mazhab lain, termasuk Ahlussunnah wal Jamaah, adalah perbuatan yang diharamkan.
“Fatwa tersebut menegaskan pentingnya saling menghormati antar umat Islam, serta menghindari tindakan yang dapat memicu perpecahan,” jelasnya.
Dia pun menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa persatuan umat Islam merupakan kunci utama dalam menghadapi berbagai tantangan global. “Persatuan adalah jalan menuju kemenangan,” kata dia. (Irma Zuha At-Tamimi)