Khutbah Jumat: Komitmen Menjaga Kerukunan Sosial sebagai Tanggung Jawab Bersama
Khutbah Jumat: Komitmen Menjaga Kerukunan Sosial sebagai Tanggung Jawab Bersama
Oleh: Admin
Editor: Admin
Oleh: Abd. Hakim Abidin, M.A., Redaktur Keislaman MUI Digital
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ النَّاسَ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِيَتَعَارَفُوا، وَأَمَرَ بِالْإِصْلَاحِ بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ لِيَتَآلَفُوا، وَجَعَلَ الْأُلْفَةَ وَالْمَحَبَّةَ وَالسَّلَامَ مِنْ أَعْظَمِ النِّعَمِ عَلَى عِبَادِهِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُحْصَى، وَنَسْتَغْفِرُهُ مِنْ جَمِيعِ الذُّنُوبِ وَالْخَطَايَا.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، جَمَعَ اللهُ بِهِ الْقُلُوبَ، وَأَلَّفَ بِهِ بَيْنَ النُّفُوسِ، وَأَخْرَجَ بِهِ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ، وَخَابَ الْخَاسِرُونَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، وَاجْعَلُوا تَقْوَى اللهِ مَنْهَجًا فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ، وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ، وَاحْفَظُوا لِمُجْتَمَعِكُمْ أُلْفَتَهُ وَأَمْنَهُ؛ فَإِنَّ اجْتِمَاعَ الْكَلِمَةِ وَتَآلُفَ الْقُلُوبِ مِنْ أَجَلِّ نِعَمِ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ. وَقَالَ الله تعالى: (إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya.
Ketahuilah, bahwa ketakwaan tidak hanya diwujudkan melalui kesalehan pribadi, seperti memperbanyak ibadah, dzikir, dan membaca Alquran, tetapi juga harus tercermin dalam kesalehan sosial, yakni bagaimana kita memperlakukan sesama manusia, menjaga persaudaraan, menghormati perbedaan, serta menghadirkan kemaslahatan bagi lingkungan dan masyarakat.
Salah satu persoalan penting yang harus menjadi perhatian kita bersama adalah menjaga kerukunan, persatuan, dan kedamaian di tengah kehidupan bermasyarakat. Sebab, kehidupan yang aman dan tenteram merupakan salah satu nikmat Allah SWT yang sangat besar. Nikmat tersebut terkadang baru benar-benar kita rasakan nilainya ketika perselisihan, permusuhan, dan konflik mulai merusak kehidupan masyarakat.
Hadirin yang Dimuliakan Allah,
Kerukunan sosial atau perdamaian di tengah masyarakat bukan sekadar keadaan ketika tidak terjadi pertengkaran atau konflik. Lebih dari itu, kerukunan sosial merupakan kondisi kehidupan yang memungkinkan setiap orang menjalankan aktivitasnya dengan aman, memperoleh hak-haknya, melindungi keluarga dan kehormatannya, serta menjalani kehidupan tanpa dihantui rasa takut dan ancaman.
Kerukunan sosial adalah naungan yang memberikan rasa aman bagi seluruh anggota masyarakat. Di dalam suasana yang damai, umat Islam dapat menjalankan ibadah dengan tenang, keluarga dapat membangun kehidupan dengan tenteram, anak-anak dapat belajar dengan baik, para pekerja dapat menjalankan tanggung jawabnya, dan masyarakat dapat mengembangkan potensi untuk kemajuan bersama.
Ketika keamanan dan ketenteraman terpelihara, setiap orang dapat mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk kepentingan agama, pendidikan, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan pembangunan. Siapa pun memiliki kesempatan untuk memberikan kontribusi terbaik bagi kehidupan bersama.
Sebaliknya, ketika kerukunan rusak dan kehidupan masyarakat dipenuhi permusuhan, energi yang semestinya digunakan untuk membangun justru habis untuk mempertahankan pertikaian. Waktu terbuang untuk saling menyalahkan, hubungan persaudaraan menjadi renggang, dan kepentingan masyarakat yang lebih besar sering kali dikorbankan demi kepentingan kelompok maupun golongan.
Sudah sepatutnya, kita harus menyadari bahwa menjaga perdamaian bukan perkara sederhana dan bukan pula tanggung jawab satu kelompok tertentu. Ini merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemimpin, tokoh agama, tokoh masyarakat, pendidik, aparat negara, hingga setiap individu dalam kehidupan sehari-hari.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Sesungguhnya Islam telah meletakkan dasar-dasar kehidupan yang rukun dan damai sejak Rasulullah SAW membangun masyarakat Islam di Madinah Al-Munawwarah. Salah satu langkah penting yang dilakukan Rasulullah SAW adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Persaudaraan tersebut bukan sekadar ikatan emosional, melainkan diwujudkan melalui kepedulian, solidaritas, saling membantu, dan kesediaan berbagi dalam menghadapi kesulitan hidup.
Rasulullah SAW juga membangun tatanan kehidupan masyarakat Madinah dengan memperhatikan keberadaan berbagai kelompok dan komunitas yang berbeda. Hubungan antarkelompok dibangun berdasarkan penghormatan terhadap hak, pemenuhan janji, keadilan, dan tanggung jawab bersama.
Demikianlah kehidupan masyarakat yang ideal, tidak dibangun di atas kebencian dan permusuhan, melainkan di atas nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan kemaslahatan.
Prinsip tersebut ditegaskan oleh Allah SWT dalam Alquran:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (zaman Jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara.” (QS. Ali Imran: 103)
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa persatuan merupakan perintah agama, sedangkan perpecahan merupakan sesuatu yang harus dihindari.
Allah SWT menegaskan bahwa persaudaraan dan persatuan adalah nikmat yang harus dijaga, bukan justru dirusak oleh sikap egois, fanatisme berlebihan, kebencian, dan kepentingan sesaat.
Dalam konteks kehidupan bangsa Indonesia, pesan ini sangat penting untuk kita renungkan. Masyarakat kita memiliki latar belakang suku, bahasa, budaya, organisasi, tradisi, dan keyakinan yang beragam. Perbedaan tersebut merupakan kenyataan sosial yang tidak mungkin dihilangkan. Karena itu, yang diperlukan bukanlah menyeragamkan seluruh kehidupan masyarakat, melainkan membangun kesadaran untuk saling menghormati dan hidup berdampingan secara damai.
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadikan perbedaan sebagai alasan permusuhan. Justru melalui perbedaan, setiap dari kita dituntut untuk mengenal, menghargai, dan membangun hubungan yang baik satu sama lain.
Rasulullah SAW bahkan menjadikan keselamatan orang lain dari gangguan lisan dan tangan sebagai salah satu ukuran penting kualitas keislaman seseorang. Dalam hadisnya beliau bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberikan pelajaran yang sangat mendalam. Kesalehan seorang Muslim tidak cukup hanya diukur dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga dari sejauh mana kehadirannya memberikan rasa aman bagi orang lain.
Jangan sampai seseorang rajin beribadah, tetapi lisannya menyakiti orang lain. Jangan sampai seseorang mengaku memperjuangkan agama, tetapi perbuatannya justru menimbulkan keresahan, permusuhan, dan kerusakan di tengah masyarakat.
Seorang muslim seharusnya menjadi sumber ketenteraman, bukan sumber ketakutan. Kehadirannya membawa manfaat, perkataannya menyejukkan, dan tindakannya tidak merugikan orang lain.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Jika kerukunan sosial memiliki kedudukan yang begitu penting dalam kehidupan manusia, maka menjaganya merupakan tanggung jawab yang harus diwujudkan melalui perkataan dan perbuatan. Tanggung jawab tersebut dimulai dari perilaku setiap individu dalam berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.
Ada beberapa hal sederhana tetapi sangat penting yang dapat kita lakukan untuk menjaga kerukunan dan membangun kehidupan masyarakat yang damai.
Pertama, membiasakan diri menyebarkan salam dan menumbuhkan sikap saling menghormati.
Salah satu cara paling mudah untuk membangun kedekatan dan mempererat hubungan antarmanusia adalah membiasakan diri mengucapkan salam.
Salam bukan sekadar sapaan atau tradisi ketika seseorang bertemu dengan orang lain. Lebih dari itu, salam mengandung doa, harapan keselamatan, dan pesan kedamaian.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa menyebarkan salam merupakan jalan untuk menumbuhkan kecintaan dan mempererat persaudaraan. Beliau bersabda:
لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak akan sempurna imannya hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang apabila kalian melakukannya, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa salam memiliki kedudukan penting dalam membangun kehidupan yang penuh kasih sayang. Dengan menyebarkan salam, kita sedang menanamkan rasa aman, menghilangkan jarak, mencairkan hubungan yang kaku, dan mendekatkan hati yang sebelumnya mungkin saling berjauhan.
Karena itu, marilah kita hidupkan kembali budaya salam di tengah keluarga, lingkungan masyarakat, tempat kerja, lembaga pendidikan, sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi. Ajarkan kepada anak-anak dan generasi muda agar terbiasa mengucapkan salam, menghormati orang lain, dan menunjukkan sikap santun dalam setiap pergaulan.
Jangan sampai generasi kita tumbuh menjadi generasi yang pandai berbicara, tetapi kehilangan kesantunan. Mungkin cerdas dalam pengetahuan, tetapi sangat disayangkan jika miskin penghormatan kepada sesama.
Kedua, menjaga lisan dan membiasakan diri mengucapkan perkataan yang baik.
Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,
Di antara fondasi penting dalam membangun kerukunan sosial adalah menjaga perkataan. Sebab, banyak perselisihan yang pada mulanya hanya berawal dari ucapan yang tidak terkendali. Satu kalimat yang menyakitkan dapat merusak persahabatan yang telah dibangun bertahun-tahun.
Satu tuduhan tanpa dasar dapat menghancurkan kehormatan seseorang. Bahkan, sebuah perkataan yang tidak dipikirkan dengan baik dapat memicu permusuhan yang meluas.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa perkataan yang baik merupakan sedekah. Beliau bersabda:
وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
“Perkataan yang baik adalah sedekah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis yang lain, Rasulullah SAW menasihati agar seorang muslim menjauhi perilaku mencela, melaknat, berkata kotor, dan berkata kasar. Beliau bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ، وَلَا اللَّعَّانِ، وَلَا الْفَاحِشِ، وَلَا الْبَذِيءِ
“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, dan berkata kotor.” (HR Tirmidzi)
Hadis ini harus menjadi pedoman bagi kita dalam menjaga hubungan sosial. Seorang mukmin tidak sepatutnya menjadikan lisannya sebagai alat untuk merendahkan, menghina, atau mempermalukan orang lain.
Terlebih pada zaman sekarang, ruang lingkup perkataan manusia semakin luas. Apa yang dahulu hanya disampaikan melalui percakapan langsung, kini dapat disebarkan melalui pesan singkat, komentar di media sosial, unggahan, video, dan berbagai platform digital lainnya.
Satu kalimat yang ditulis di media sosial dapat dibaca oleh ribuan orang. Sebuah komentar yang mengandung penghinaan dapat menyebar dengan cepat. Sebuah berita yang belum jelas kebenarannya dapat menimbulkan keresahan dan bahkan memecah belah masyarakat.
Oleh karena itu, setiap muslim harus berhati-hati terhadap apa yang diucapkan, ditulis, dan disebarkan. Jangan mudah menghina orang lain, jangan menyebarkan kebencian, dan jangan menjadikan perbedaan pandangan sebagai alasan untuk menyerang kehormatan sesama.
Termasuk perkara yang sangat berbahaya adalah menyebarkan berita bohong dan informasi yang belum dipastikan kebenarannya.
Allah SWT telah memerintahkan kita untuk melakukan tabayyun atau memeriksa kebenaran setiap berita sebelum mempercayai dan menyebarkannya.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Tentu ayat ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakat kita saat ini. Kita hidup di tengah perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat. Setiap orang dapat menjadi penerima sekaligus penyebar informasi. Namun, kemudahan tersebut harus diimbangi dengan tanggung jawab dan kedewasaan dalam menggunakan teknologi.
Jangan sampai kita menjadi bagian dari orang-orang yang menyebarkan fitnah, memperbesar persoalan, dan memperkeruh keadaan hanya karena tidak mampu menahan diri untuk membagikan sebuah informasi.
Ingatlah, tidak semua berita yang kita terima harus disebarkan. Tidak semua informasi yang sedang ramai diperbincangkan harus kita komentari. Dan tidak semua perbedaan pendapat harus diakhiri dengan permusuhan.
Sebelum berbicara dan menulis, hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah perkataan ini benar? Apakah bermanfaat? Apakah akan membawa kebaikan atau justru menimbulkan kerusakan?
Sebab, sebuah perkataan merupakan tanggung jawab. Dampaknya dapat menjangkau jauh melampaui apa yang dibayangkan oleh orang yang mengucapkannya.
Ketiga, membangun semangat tolong-menolong dan kepedulian sosial.
Hadirin yang Dirahmati Allah,
Fondasi lain yang sangat penting dalam menjaga kerukunan adalah membangun semangat kerja sama dan tolong-menolong dalam kebaikan. Kehidupan masyarakat tidak mungkin berjalan dengan baik apabila setiap orang hanya memikirkan kepentingannya sendiri dan tidak peduli terhadap kesulitan orang lain.
Islam mengajarkan bahwa manusia harus saling membantu, saling menguatkan, dan saling memberikan manfaat. Kepedulian sosial bukan hanya diwujudkan melalui bantuan materi, tetapi juga melalui perhatian, tenaga, pikiran, ilmu pengetahuan, dan berbagai bentuk kontribusi positif lainnya.
Allah SWT berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.” (QS Al-Ma’idah: 2)
Ini adalah pedoman yang jelas, bahwa kerja sama harus dibangun di atas kebaikan dan ketakwaan, bukan di atas kepentingan yang merugikan orang lain.
Tolong-menolong dalam kebaikan memiliki cakupan yang sangat luas. Hal ini dapat diwujudkan melalui kegiatan sosial, membantu masyarakat yang sedang mengalami kesulitan, memberikan perhatian kepada kaum dhuafa, mendukung pendidikan, menjaga lingkungan, memperkuat solidaritas, serta berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang membawa manfaat bagi masyarakat.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, semangat tersebut juga dapat diwujudkan melalui kerja sama antarkelompok, organisasi, lembaga keagamaan, dan berbagai unsur masyarakat untuk menyelesaikan persoalan bersama.
Kita tidak boleh membiarkan perbedaan organisasi, pilihan, pandangan, maupun latar belakang sosial menjadi penghalang untuk bekerja sama dalam urusan kemanusiaan dan kemaslahatan.
Bukankah kita semua menginginkan kehidupan masyarakat yang aman, pendidikan yang lebih baik, lingkungan yang sehat, kesejahteraan yang merata, serta masa depan generasi yang lebih cerah?
Maka, marilah kita membangun kesadaran bahwa kemajuan masyarakat bukan hanya tanggung jawab pemerintah, bukan hanya tugas para pemimpin, dan bukan pula pekerjaan satu kelompok tertentu. Kemajuan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan partisipasi seluruh elemen masyarakat.
Semakin kuat kepedulian sosial di antara kita, semakin kokoh pula ikatan persaudaraan dan persatuan yang dapat kita bangun.
Keempat, menjaga hak sesama dan menegakkan keadilan dalam kehidupan masyarakat.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Kerukunan sosial tidak akan dapat terwujud secara kokoh apabila tidak disertai dengan penghormatan terhadap hak-hak setiap orang dan penegakan keadilan. Sebab, perdamaian bukan berarti membiarkan ketidakadilan. Kerukunan bukan berarti menutup mata terhadap pelanggaran hak. Dan persatuan bukan berarti membenarkan segala tindakan, sekalipun tindakan tersebut merugikan orang lain.
Masyarakat akan merasa aman ketika setiap orang mengetahui bahwa hak-haknya dilindungi, kehormatannya dihargai, dan keadilan ditegakkan. Sebaliknya, apabila ketidakadilan dibiarkan, tindakan sewenang-wenang tidak ditindak, dan orang yang lemah terus-menerus menjadi korban, maka kepercayaan masyarakat akan melemah dan potensi konflik akan semakin besar.
Oleh karena itu, Islam menempatkan keadilan sebagai salah satu prinsip utama dalam kehidupan manusia. Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90)
Di sini pesannya jelas dan tegas, bahwa keadilan dan kebaikan merupakan perintah Allah SWT, sedangkan kezaliman, kemungkaran, dan tindakan melampaui batas merupakan perkara yang dilarang.
Karena itu, mari kita membangun kehidupan sosial yang menjunjung tinggi keadilan. Hormatilah hak orang lain sebagaimana kita ingin hak kita dihormati. Jangan mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak kita. Jangan merugikan orang lain demi keuntungan pribadi. Jangan pula menggunakan kekuasaan, jabatan, kedudukan, maupun pengaruh untuk menindas pihak yang lebih lemah.
Para pemimpin hendaknya menjalankan amanah dengan adil. Para tokoh agama hendaknya memberikan teladan dalam menjaga persaudaraan. Para pendidik hendaknya menanamkan nilai kejujuran dan penghormatan kepada sesama. Begitu jugha, setiap anggota masyarakat harus berusaha menjaga hak dan kewajiban masing-masing.
Dengan keadilan, masyarakat akan memiliki kepercayaan. Dengan kepercayaan, hubungan sosial akan semakin kuat. Dan dengan hubungan sosial yang kuat, kehidupan yang damai dan tenteram akan lebih mudah diwujudkan.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Dari seluruh uraian tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa menjaga kerukunan sosial bukanlah pekerjaan yang cukup dilakukan melalui seruan dan slogan. Ini harus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kita dapat memulainya dari diri sendiri, dari keluarga, dari lingkungan tempat tinggal, dari tempat kerja, dan dari komunitas masing-masing.
Marilah kita menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain. Marilah kita membiasakan salam dan menyebarkan kasih sayang. Marilah kita tidak mudah terprovokasi oleh berita yang belum jelas kebenarannya. Marilah kita memperkuat kepedulian sosial, saling membantu dalam kebaikan, serta menghormati hak dan kehormatan setiap manusia.
Jangan biarkan perbedaan menjadi sumber perpecahan. Jangan biarkan kebencian mengalahkan persaudaraan. Jangan biarkan kepentingan kelompok merusak kepentingan masyarakat yang lebih luas.
Kita harus memahami bahwa menjaga perdamaian merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan sekaligus tanggung jawab kemanusiaan. Sebab, agama tidak hadir untuk melahirkan permusuhan, melainkan membimbing manusia menuju kehidupan yang lebih baik, adil, bermartabat, dan penuh kasih sayang.
Sekali lagi, marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah SWT dan menjaga keselamatan serta kerukunan masyarakat dari segala sesuatu yang dapat merusak kedamaian, menghancurkan persaudaraan, dan melemahkan persatuan.
Semoga Allah SWT menjadikan kita bagian dari orang-orang yang menghadirkan kedamaian, menebarkan kebaikan, memperkuat persaudaraan, serta memberikan manfaat bagi agama, bangsa, dan seluruh umat manusia.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَلَّفَ بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ فَأَصْبَحُوا بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا، وَجَعَلَ السَّلْمَ وَالسَّلَامَ لِمُجْتَمَعِهِمْ أَسَاسًا وَعُنْوَانًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ: إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَحْفَظُ سِلْمَ الْمُجْتَمَعِ وَأُلْفَتَهُ إِصْلَاحَ ذَاتِ الْبَيْنِ؛ فَقَدْ أَمَرَ اللهُ بِذلِكَ، فَقَالَ، (إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ).
وَاتَّقُوا اللهَ يا عِبَادَ اللَّهِ ، وَاعْلَمُوا أَنَّ أَوْطَانَنَا وَمُجْتَمَعَاتِنَا أَمَانَةٌ فِي أَعْنَاقِنَا، وَإِنَّ حِفْظُ أَمْنِهَا وَاسْتِقْرَارِهَا وَسِلْمِهَا الاجْتِمَاعِي وَاجِبٌ دِينِي وَوَطَنِيَّ لَا يَجُوزُ التَّفْرِيطُ فِيهِ بِحَالٍ، فَجَدِيرٌ بِنَا أَنْ نَكُونَ يَدًا وَاحِدَةً، وَسَدًّا مَنِيعًا ضِدَّ كُلِّ مَا يُهَدِّدُ وَحْدَتَنَا وَيُعَبِّرُ أُلْفَتَنَا.
هَذَا وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى إِمَامِ الْمُرْسَلِينَ، مُحَمَّدٍ الهَادِي الأَمِينِ، فَقَدْ أَمَرَكُمْ رَبُّكُمْ بِذَلِكَ حِينَ قَالَ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا).
اللَّهُمَّ صَلَّ وَسَلَّم عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمتَ عَلَى نَبِيِّنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ نَبِيِّنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى نَبِيِّنَا إِبْرَاهِيمَ وعَلَى آلِ نَبِيِّنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِينَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ، وَعَنِ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَعَنْ جَمْعِنَا هَذَا بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ المُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدُّعَاءِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرَّقْنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفْرُقًا مَعْصُوْمًا، وَلَا تَدَعْ فِينَا وَلَا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُومًا.
اللَّهُمَّ أَعِزُّ الإسْلامَ وَاهْدِ الْمُسْلِمِينَ إِلَى الْحَقِّ، وَاجْمَعُ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الخَيْرِ، وَاكْسِرُ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلامَ وَالْأَمْنَ لِعِبَادِكَ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ كُنْ عَوْنًا لِّلْمُسْلِمِينَ والمُسْتَضْعَفِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَكُنْ مَعَهُمْ وَثَبِّتْهُمْ وَارْبِطْ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَصَبَرْهُمْ، وَاخْذُلْ عَدُوَّكَ وَعَدُوَّهُمْ، وَاجْعَلِ الدَّائِرَةِ عَلَيْهِ يَا ذَا الجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الثبات في الأَمْرِ ، والعَزِيمَة عَلَى الرُّشْدِ، ونَسْأَلُكَ شُكُرَ نِعْمَتِكَ، وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ، ونَسْأَلُكَ قُلُوبًا سَليمة، والسنة صادقة، ونَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرٍ مَا تَعْلَمُ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيَّدُهُ بِالْحَقِّ وَأَيَّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبُّ العَالَمِينَ، اللَّهُمَّ أَسْبِغْ عَلَيْهِ نِعْمَتَكَ، وَأَيَّدْهُ بِنُورِ حِكْمَتِكَ، وَسَبِّدُهُ بِتَوفِيقِكَ، وَاحْفَظْهُ بِعَينِ رِعَايَتِكَ.
اللَّهُمَّ أُنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا فِي ثِمَارِنَا وَزُرُوعِنَا وَكُلَّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ الله، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَايِ ذِي الْقُرْبى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.