Lewati ke konten utama
Selasa, 11 Agustus 2026 / 27 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Sumatera Utara

Besok MUI Sumut–AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama, Menguatkan Ukhuwah melalui Pendekatan Ibrah

3 menit baca
Besok MUI Sumut–AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama, Menguatkan Ukhuwah melalui Pendekatan Ibrah
Bagikan:

Medan,muisumut.or.id — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara berkolaborasi dengan Aliansi Indonesia Damai  (AIDA) yang berkantor di Jakarta menggelar Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan Ibrah”, Rabu, 12 Agustus 2026, di Hotel Santika Dyandra Medan.

Kolaborasi ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk memperkuat ukhuwah, membangun pemahaman yang lebih mendalam terhadap berbagai dinamika kehidupan keagamaan, serta mendorong masyarakat agar mampu mengambil ibrah dari pengalaman masa lalu untuk membangun kehidupan umat yang lebih damai dan berkeadaban.

Halaqah menghadirkan sejumlah tokoh dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam. Tidak hanya ulama dan akademisi, forum ini juga menghadirkan tokoh yang memiliki pengalaman langsung dalam dinamika gerakan keislaman dan peristiwa kekerasan di Indonesia. Keragaman perspektif tersebut diharapkan membuka ruang dialog yang konstruktif mengenai pentingnya menjaga ukhuwah dan mencegah terulangnya berbagai persoalan yang pernah terjadi.

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI, Dr. Basnang Said, dijadwalkan menjadi keynote speaker.

Sementara itu, Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. KH. Maratua Simanjuntak, akan menyampaikan sambutan sekaligus opening remark.

Adapun narasumber yang akan hadir adalah Ketua MUI Pusat Bidang Kerukunan, Dr. KH. Abdul Moqsith Ghazali; Ust. Arif Siswanto, mantan petinggi Jamaah Islamiyah; Mulyono Sutrisman, korban Bom Kuningan 2004; serta Hasibullah Satrawi, pengamat Timur Tengah.
Kehadiran para narasumber tersebut memberikan perspektif yang beragam. Arif Siswanto memiliki pengalaman dalam lingkungan Jamaah Islamiyah, sementara Mulyono Sutrisman hadir membawa pengalaman sebagai korban Bom Kuningan 2004. Dua perspektif pengalaman tersebut diharapkan dapat memberikan pembelajaran berharga mengenai dampak kekerasan sekaligus pentingnya membangun jalan perdamaian.

Perspektif mengenai kerukunan umat akan diperkuat oleh Dr. KH. Abdul Moqsith Ghazali, sedangkan Hasibullah Satrawi akan memberikan perspektif mengenai dinamika Timur Tengah dan pengaruhnya terhadap perkembangan diskursus keislaman.
Diskusi akan dipandu oleh Ketua MUI Sumatera Utara, Dr. H. Akmal Syahputra, sebagai moderator.

Peserta halaqah berasal dari berbagai unsur, yakni pimpinan MUI Sumatera Utara, MUI kabupaten/kota, organisasi kemasyarakatan Islam, pimpinan pondok pesantren, Badan Kemakmuran Masjid (BKM), serta sekitar 30 peserta dari jaringan Islamiyah.

Mengambil Ibrah dari Pengalaman Masa Lalu
Tema “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan Ibrah” menjadi relevan di tengah tantangan kehidupan umat yang semakin kompleks. Perbedaan pemahaman, polarisasi, perkembangan teknologi informasi, serta derasnya arus narasi keagamaan di ruang digital membutuhkan respons yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga reflektif.

Pendekatan ibrah mengajak umat untuk tidak berhenti pada sebuah peristiwa, tetapi menggali pelajaran yang dapat diambil darinya. Pengalaman konflik, kekerasan, perbedaan pandangan, maupun berbagai dinamika perjalanan umat dapat menjadi bahan evaluasi untuk membangun kehidupan keagamaan yang lebih matang dan bijaksana.

Dalam konteks tersebut, kolaborasi MUI Sumatera Utara dan AIDA diharapkan dapat menghadirkan ruang dialog yang sehat bagi para ulama dan tokoh umat. Halaqah ini tidak sekadar menjadi forum untuk berbicara, tetapi juga menjadi ruang untuk mendengar pengalaman, melakukan refleksi, dan membangun kesepahaman.

Ulama memiliki peran strategis dalam membimbing umat agar mampu menyikapi perbedaan secara bijaksana, menjaga persaudaraan, serta mencegah berkembangnya pemahaman dan tindakan yang dapat merusak persatuan.

Melalui halaqah ini, MUI Sumatera Utara bersama AIDA mendorong agar pengalaman masa lalu tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi menjadi sumber pembelajaran untuk memperkuat ukhuwah dan membangun masa depan umat yang lebih damai.

Dari sejarah, umat belajar. Dari pengalaman, umat mengambil ibrah. Dan dari ukhuwah, umat menemukan kekuatan untuk berjalan bersama.