Prof Sudarnoto: Kaderisasi Kunci Keberlanjutan Diplomasi Umat
Jakarta, MUI Digital – Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional (HLNKI) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof Sudarnoto Abdul Hakim, menyatakan pentingnya kaderisasi dalam memperkuat dan melanjutkan perjuangan diplomasi umat di tengah berbagai tantangan global yang semakin kompleks.
Hal tersebut disampaikannya saat menyampaikan materi “Kiat-Kiat Diplomasi MUI” dalam Pelatihan Dasar Diplomasi Wasathiyah yang diselenggarakan Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional (HLNKI) MUI di Aula Buya Hamka, Gedung MUI Pusat, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya MUI untuk memperkenalkan dasar-dasar diplomasi wasathiyah kepada peserta sekaligus menyiapkan kader-kader yang mampu berkontribusi dalam diplomasi kemanusiaan, diplomasi publik, dan kerja sama internasional berbasis nilai-nilai Islam Wasathiyah.
Menurut Prof Sudarnoto, diplomasi umat merupakan perjuangan jangka panjang yang membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas, komitmen, dan pemahaman yang baik terhadap isu-isu global.
“Salah satu poin penting untuk proses continuity atau keberlanjutan perjuangan dan memperkuat gerakan diplomasi publik adalah kaderisasi. Ini adalah perjuangan panjang, tidak bisa satu minggu, dua minggu, atau tiga pekan,” ujarnya.
Dia menjelaskan bahwa berbagai persoalan internasional, khususnya yang berkaitan dengan Palestina, membutuhkan upaya yang berkelanjutan.
Konflik yang terus berlangsung, pelanggaran kemanusiaan, hingga ketidakpastian situasi global menuntut hadirnya generasi penerus yang mampu melanjutkan perjuangan diplomasi umat.
Menurutnya, selain jalur diplomasi resmi yang dilakukan negara, organisasi masyarakat sipil dan lembaga keagamaan juga memiliki peran penting dalam memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan melalui diplomasi publik.
Dalam kesempatan tersebut, Prof Sudarnoto juga menekankan bahwa pelatihan diplomasi wasathiyah merupakan langkah strategis untuk membangun kapasitas kader yang mampu membawa nilai-nilai Islam Wasathiyah ke dalam ruang diplomasi nasional maupun internasional.
“Pelatihan ini sangat spesifik karena dikaitkan dengan Wasathiyatul Islam. Harapannya, diplomasi yang dilakukan berbasis pada nilai-nilai Islam wasathiyah,” katanya.
Baca juga: Gagasan Kaukus Parlemen Dunia Mengemuka dalam Hari Dialog Antar-Peradaban Internasional
Dia mengungkapkan bahwa MUI saat ini tengah mengupayakan standar pelatihan diplomasi berbasis Islam Wasathiyah.
Menurutnya, langkah tersebut akan menjadi bagian penting dalam memperkuat kapasitas kader untuk menjalankan diplomasi kemanusiaan dan diplomasi publik secara lebih profesional.
Lebih lanjut, Prof Sudarnoto menegaskan bahwa kaderisasi menjadi kebutuhan mendesak agar perjuangan umat tidak berhenti pada satu generasi.
Dengan hadirnya kader-kader yang memahami diplomasi, isu kemanusiaan, dan dinamika global, peran Indonesia dan umat Islam dalam memperjuangkan perdamaian dunia dapat terus diperkuat.
“Karena itu, kaderisasi harus terus dilakukan agar perjuangan diplomasi umat memiliki keberlanjutan dan semakin kuat di masa depan,” kata dia.
Pelatihan Dasar Diplomasi Wasathiyah menghadirkan sejumlah diplomat dan pakar hubungan internasional, di antaranya Dubes Yuli Mumpuni Widarso, Dubes Bunyan Saptomo, Dubes Salman Al Farisi, dan Dubes Safira Machrusah.
Kegiatan ini juga diisi dengan sesi diskusi kelompok yang membahas diplomasi wasathiyah, diplomasi bilateral, diplomasi multilateral, serta diplomasi publik dalam konteks hubungan internasional Indonesia.