Gagasan Kaukus Parlemen Dunia Mengemuka dalam Hari Dialog Antar-Peradaban Internasional
Jakarta, MUI Digital— Gagasan pembentukan Kaukus Parlemen Dunia muncul dalam perhelatan International Day for Dialogue among Civilizations (Hari Dialog Antar Peradaban Internasional) yang digelar di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Gagasan disampaikan Ketua Kaukus Parlemen untuk Perdamaian Dunia DPR/DPD RI, Ahmad Doli Kurniawan.
“Langkah ini dinilai strategis untuk memulihkan krisis kepercayaan global terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dinilai lambat dalam menyelesaikan berbagai konflik kemanusiaan,” ujar dia dalam kegiatan yang diinisiasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) bekerja sama dengan DPR RI dan DPD RI ini.
Baca juga: Peringati Hari Dialog Antar-Peradaban, Dubes Saudi: Perdamaian adalah Seruan Ilahi
Di hadapan para duta besar negara sahabat yang hadir, Doli menyatakan situasi geopolitik global saat ini semakin memprihatinkan karena konflik dan perang terus terjadi tanpa henti di berbagai belahan dunia.
“Tidak hanya di Timur Tengah atau Palestina. Menurutnya, perdamaian kini telah menjadi komoditas yang sangat mahal,” ujar dia.
Dia menekankan membangun peradaban itu dimulai dengan membangun perdamaian dunia.
“Oleh karena itu, jika saat ini kita baru memiliki Kaukus Parlemen Indonesia untuk Perdamaian Dunia, saya kira pada waktunya kita perlu membentuk Kaukus Parlemen Dunia," ujar Doli di hadapan para diplomat asing yang hadir.
Doli menilai, gerakan kolektif antarparlemen dari berbagai negara ini dapat menjadi instrumen penting untuk memperbaiki kinerja penegakan perdamaian di level global, sekaligus merespons keraguan publik internasional terhadap PBB.
"Agar keraguan, agar ketidakpercayaan terhadap PBB yang tadi sempat disampaikan, pelan-pelan bisa kita perbaiki. Caranya adalah dengan mendukung negara kita masing-masing dengan pandangan yang sama," lanjutnya.
Baca juga: Wamenlu Anis Matta: Dominasi 5 Abad Barat Mulai Runtuh, Saatnya Asia Pimpin Peradaban
Lebih lanjut, Doli menegaskan bahwa inisiasi pembentukan kaukus perdamaian ini bukan sekadar ikut-ikutan, melainkan sebuah tanggung jawab hukum dan moral yang melekat pada setiap legislator Indonesia sesuai mandat Pembukaan UUD 1945.
"Ini adalah bentuk tanggung jawab dan kewajiban kita sebagai warga negara Indonesia untuk menjalankan amanah konstitusi kita. Bahkan kami takut, kalau tidak melakukan hal seperti ini, kita dianggap tidak mengindahkan atau bahkan melanggar konstitusi kita," kata politisi Golkar tersebut.
Dia juga memberikan apresiasi tinggi kepada MUI serta negara-negara seperti China yang menjadi inisiator hari dialog internasional ini di level PBB.
Di akhir pidatonya, Doli mengajak seluruh masyarakat Indonesia dan komunitas internasional untuk terus mendukung pemerintah masing-masing dalam melawan segala bentuk penjajahan dan kezaliman.