Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Diplomat Senior: Konflik Iran, Palestina, dan Perubahan Iklim Bukti Pentingnya Diplomasi Multilateral

3 menit baca 429 dibaca
Diplomasi
Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Afrika Selatan merangkap Kerajaan Lesotho, Kerajaan Eswatini dan Botswana pada 2018-2022, Salman Al Farisi. Foto: Fitri/ MUI Digital
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital – Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Afrika Selatan merangkap Kerajaan Lesotho,  Kerajaan Eswatini dan Botswana pada 2018-2022, Salman Al Farisi, menyatakan berbagai krisis global yang terjadi saat ini, mulai dari konflik Iran dan Palestina hingga perubahan iklim, menunjukkan semakin pentingnya diplomasi multilateral sebagai sarana membangun kerja sama dan mencari solusi bersama antarnegara.

Hal itu disampaikannya dalam Pelatihan Dasar Diplomasi Wasathiyah yang diselenggarakan Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional (HLNKI) Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Aula Buya Hamka, Gedung MUI Pusat, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Menurut Salman, dunia saat ini menghadapi situasi yang semakin kompleks dengan berbagai konflik dan tantangan lintas negara yang tidak dapat diselesaikan secara sepihak.

“Konflik di Ukraina belum selesai, konflik di Palestina terus terjadi, kemudian muncul ketegangan yang melibatkan Iran dan berbagai negara lainnya. Belum lagi tantangan perubahan iklim yang dampaknya dirasakan seluruh dunia,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa multilateralisme merupakan bentuk kerja sama internasional yang melibatkan banyak negara untuk mencapai tujuan bersama, seperti menjaga perdamaian, menciptakan stabilitas, dan meningkatkan kesejahteraan global.

Baca juga: Diplomasi Islam Wasathiyah Indonesia Berpotensi Jadi Model Dunia

“Stabilitas dunia tidak bisa diwujudkan tanpa kerja sama. Karena itu, diplomasi multilateral menjadi fondasi penting untuk menghadapi berbagai tantangan global,” katanya.

Salman mencontohkan isu perubahan iklim yang tidak mungkin ditangani oleh satu negara saja. Menurutnya, dampak bencana lingkungan dan perubahan cuaca ekstrem menuntut adanya kolaborasi internasional yang kuat, baik dalam bidang teknologi, pendanaan, maupun kebijakan.

Selain itu, ia menyoroti berbagai persoalan global lainnya seperti pandemi, keamanan siber, migrasi, dan kejahatan lintas negara yang membutuhkan pendekatan kolektif melalui forum-forum internasional.

Dalam konteks tersebut, Salman menilai diplomasi multilateral berperan penting sebagai instrumen untuk membangun dialog, melakukan mediasi konflik, dan merumuskan kesepakatan bersama berdasarkan hukum internasional.

Baca juga: Di Gedung DPR, Kepala Perwakilan PBB Puji Kepemimpinan Diplomasi Indonesia dari Era Soekarno hingga Prabowo

“Diplomasi multilateral adalah cara untuk mengelola kerja sama antarnegara melalui negosiasi, konsultasi, dan pencarian konsensus demi mencapai tujuan bersama,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa dinamika geopolitik dunia saat ini semakin dipengaruhi oleh rivalitas negara-negara besar. Karena itu, negara-negara berkembang perlu memanfaatkan forum multilateral untuk menyuarakan kepentingannya dan menjaga keseimbangan dalam tata dunia internasional.

Menurut Salman, Indonesia memiliki posisi strategis sebagai negara middle power yang selama ini mengedepankan politik luar negeri bebas aktif dan diplomasi sebagai instrumen utama dalam memperjuangkan kepentingan nasional.

“Indonesia perlu terus memperkuat perannya dalam berbagai forum internasional untuk menjaga perdamaian, memperjuangkan keadilan, dan menghadapi tantangan global yang semakin kompleks,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, Salman juga menegaskan bahwa nilai-nilai Islam Wasathiyah yang mengedepankan moderasi, keadilan, dialog, dan kerja sama sangat relevan dengan semangat diplomasi multilateral yang dibutuhkan dunia saat ini.

Karena itu, ia berharap pelatihan diplomasi yang diselenggarakan MUI dapat melahirkan kader-kader yang memiliki pemahaman yang baik tentang hubungan internasional sekaligus mampu berkontribusi dalam membangun perdamaian dunia melalui pendekatan yang moderat dan konstruktif.