Lewati ke konten utama
Senin, 10 Agustus 2026 / 26 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Sulawesi Selatan

CATATAN PKU 2026: Qawā‘id Fiqhiyyah Jadi ‘Pisau Analisis’, Anggota PKU Hadapi Persoalan Kontemporer

2 menit baca
CATATAN PKU 2026: Qawā‘id Fiqhiyyah Jadi ‘Pisau Analisis’, Anggota PKU Hadapi Persoalan Kontemporer
Bagikan:
Muhammad Sulfadli, SH (Peserta PKU MUI Sulsel 2026)

MAKASSAR, muisulsel.or.id  — Program Pendidikan Kader Ulama (PKU) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan membekali 25 calon kiai muda dengan pemahaman al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah sebagai perangkat penting dalam menganalisis dan menjelaskan persoalan hukum kepada umat.

Materi bertajuk “Al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah: Fondasi, Sejarah, dan Perannya dalam Ijtihad Kontemporer” disampaikan oleh Dr. K.H. Abdul Wahid Haddade, Lc., M.H.I., Sekretaris Bidang Fatwa MUI Sulsel, pada Sabtu, 24 Safar 1448 H bertepatan dengan 8 Agustus 2026, di Sultan Alauddin Hotel & Convention, Makassar.

“Jadikanlah Qawā‘id sebagai Pisau Analisis” Salah satu pesan utama yang disampaikan adalah “Jadikanlah qawā‘id sebagai pisau analisis kita dalam menjelaskan hukum kepada umat.”

Menurut beliau, qawā‘id fiqhiyyah tidak cukup hanya dihafalkan, tetapi harus digunakan sebagai perangkat untuk memahami, mengklasifikasikan, dan menganalisis berbagai persoalan fikih.

Pembahasan juga menyinggung hubungan ushul fikih dengan kaidah fikih. Imam al-Bayḍāwī mendefinisikan ushul fikih sebagai:
مَعْرِفَةُ دَلَائِلِ الْفِقْهِ إِجْمَالًا، وَكَيْفِيَّةُ الِاسْتِفَادَةِ مِنْهَا، وَحَالُ الْمُسْتَفِيدِ

Sementara Syekh Ali Jum‘ah menjelaskannya sebagai:
مَنْهَجٌ فِي التَّعَامُلِ مَعَ النُّصُوصِ الشَّرْعِيَّةِ

Peserta juga diperkenalkan dengan lima kaidah besar fikih, yaitu الأُمُورُ بِمَقَاصِدِهَا, اليَقِينُ لَا يَزُولُ بِالشَّكِّ, المَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيرَ, الضَّرَرُ يُزَالُ, dan العَادَةُ مُحَكَّمَةٌ.

Menjembatani Fikih Klasik dan Kontemporer

Menurut beliau, penguasaan kaidah fikih membantu menjembatani khazanah fikih klasik dengan persoalan kontemporer seperti jual beli online, kejahatan siber, aset digital, kecerdasan buatan, hingga persoalan sosial kemasyarakatan.

Salah satu prinsip penting yang ditekankan adalah:

الحُكْمُ عَلَى الشَّيْءِ فَرْعٌ عَنْ تَصَوُّرِهِ

“Menetapkan hukum atas sesuatu bergantung pada gambaran yang benar tentang sesuatu tersebut.”
Karena itu, seorang ulama perlu memahami fakta secara utuh sebelum menetapkan hukum, termasuk melakukan taṣawwur dan takyīf terhadap persoalan.

Kembali kepada Kebenaran

Selain kemampuan analitis, beliau mengingatkan pentingnya sikap ilmiah untuk menerima kebenaran:

الرُّجُوعُ إِلَى الحَقِّ خَيْرٌ مِنَ التَّمَادِي فِي البَاطِلِ

“Kembali kepada kebenaran lebih baik daripada terus bertahan dalam kebatilan.”

Melalui materi tersebut, PKU MUI Sulsel mendorong lahirnya kader ulama yang tidak hanya menguasai teks dan kaidah, tetapi juga mampu membaca realitas, menganalisis persoalan secara sistematis, serta memberikan jawaban hukum yang tepat dan bertanggung jawab kepada umat.