CATATAN PKU 2026: Peserta Diajak Menjaga Ikhlas sebagai Ruh Ibadah
Muhammad Sulfadli, SH (Peserta PKU MUI Sulsel 2026)
Makassar, muisulsel.or.id – Program Pendidikan Kader Ulama (PKU) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan tidak hanya menekankan penguatan keilmuan, tetapi juga pembinaan kompetensi dasar keagamaan dan kualitas ruhiyah peserta. Hal tersebut tampak dalam salah satu sesi yang diawali dengan uji kemampuan membaca Al-Qur’an sebelum dilanjutkan dengan pembahasan tentang ikhlas sebagai ruh ibadah.
Sesi tersebut disampaikan oleh Dr. KH. Yusri M. Arsyad, Lc., M.A., pada Sabtu, 23 Safar 1448 H bertepatan dengan 8 Agustus 2026. Beliau mengawali pembelajaran dengan menjelaskan pentingnya membedakan istilah ustadz dan da’i, sekaligus menekankan bahwa seorang ustadz dituntut memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, khususnya Surah Al-Fatihah.
Para peserta kemudian dipersilakan menunjukkan kemampuan membaca Surah Al-Fatihah. Di antara peserta yang mengajukan diri adalah Ust. Muhammad Ichsan, S.H., alumni IAI STIBA Makassar, dan Ust. Muhammad Sulfadli, S.H., alumni IAI STIBA Makassar.

Setelah uji bacaan, pembahasan berlanjut pada tema ikhlas. Beliau menekankan bahwa ikhlas merupakan syarat utama diterimanya ibadah. Seorang mukmin tidak cukup memperbanyak amal, tetapi harus memastikan amal tersebut dilakukan karena Allah ﷻ.
“Kita adalah proses dalam menggapai cinta.”
Menurut beliau, ikhlas menjadi jalan seorang hamba menuju tingkatan cinta kepada Allah. Salah satu tanda keikhlasan adalah kemampuan memaafkan ketika disakiti. Hal tersebut dikaitkan dengan firman Allah ﷻ:
وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.”
Beliau juga menekankan pentingnya zikir dalam kehidupan seorang mukmin.
“Ruh ibadah adalah zikir.”
Zikir, menurut beliau, tidak hanya dilakukan dengan lisan, tetapi juga dengan hati. Karena itu, nilai ibadah harus tercermin ketika seseorang keluar dari masjid dan kembali beraktivitas di tengah masyarakat.
Melalui kisah tiga orang yang bertawassul dengan amal saleh ketika terjebak di dalam gua, peserta diajak memahami bahwa amal yang dilakukan dengan ikhlas dapat menjadi sebab datangnya pertolongan Allah.
Materi tersebut menegaskan bahwa perjalanan menjadi ulama bukan hanya perjalanan intelektual, tetapi juga perjalanan hati. Ilmu, ibadah, zikir, akhlak, dan keikhlasan harus berjalan bersama dalam membentuk kader ulama yang mampu memberikan manfaat bagi umat.