Retorika Alquran Menolak Tuduhan Gila
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Puncak dari konfrontasi intelektual dan spiritual antara wahyu dan penolakan kaum musyrikin terangkum secara tajam dalam ayat ke-6: “Biayyikumul-maftun” (Siapa di antara kamu yang terfitnah/gila). Sebagian besar mufassir mengartikan “maftun” dengan pengertian “majnun” alias gila.
Apa yang
terkandung dalam ayat ini bukan sekadar pertanyaan retoris, melainkan sebuah
instrumen pendidikan bagi umat Islam untuk memahami hakikat stabilitas iman di
tengah badai fitnah.
Dalam perspektif
tafsir, makna “al-maftun” adalah orang yang terperdaya sehingga
menyimpang dan tersesat dari kebenaran. Sesungguhnya huruf “ba” dalam
firman-Nya (ayyukum) untuk menunjukkan makna mengerjakan. Merujuk pada
sosok yang tertimpa fitnah sehingga kehilangan arah dan akal sehatnya.
Melalui ayat ini,
Allah melakukan pembalikkan logika terhadap kaum kafir Quraisy. Jika mereka
menuduh Nabi Muhammad SAW gila karena membawa risalah yang asing atau berbeda
dari tradisi nenek moyang, maka Allah menegaskan bahwa sebenarnya merekalah
yang sedang mengalami “kegilaan” yang hakiki.
Mereka menuduh Nabi Muhammad SAW gila karena kedengkian tidak mau mengikuti ajaran Islam. Padahal mereka mengetahui Muhammad sejak kecil sebagaimana mereka mengetahui
anak-anak kandungnya. Mereka mengakui kebaikan akhlak, kejujuran Muhammad, dan
berbagai hal terkait Muhammad. Tapi karena yang dipilih menjadi nabi dan rasul
adalah Muhammad, maka mereka menuduhnya gila.
Nabi Muhammad
dianggap gila karena tidak mau mengikuti ajaran nenek moyang mereka atau
berlutut menyembah Tuhan berhala-berhalanya. Bahkan membawa ajaran baru dan
mendekonstruksi sesembahan mereka, sehingga mereka marah dan menentangnya dengan
keras.
Orang-orang kafir
menghujani Nabi Muhammad dengan tatapan-tatapan sinis, menertawakan dengan hati
penuh kebencian, mengejeknya dengan penuh kesombongan dan menuduhnya gila. Maka
di sinilah Allah menurunkan surat Al-Qalam, ditantanglah dalam makna tersirat
ayat keenamnya, bahwa sebenarnya merekalah yang gila.
Orang-orang yang
tidak mampu menangkap cahaya kebenaran Alquran yang dibawa Nabi Muhammad SAW
hidupnya kacau hingga gila. Mereka tertutup hati dan pendengarannya, sehingga
teguh dalam kesesatan nenek moyangnya dan menjadi gila (dalam pikiran dan
pola hidupnya) karena tidak bisa menerima kebenaran.
Allah menegaskan
juga di surat At-Takwir ayat 22 tentang keutamaan Nabi Muhammad SAW yang diberi
Alquran seraya berfirman, yang artinya; “Dan temanmu (Muhammad) itu
sekali-kali bukanlah orang yang gila”.
Rekonstruksi
peradaban Islam hanya akan terwujud jika Alquran diletakkan sebagai landasan
kehidupan, Rasulullah sebagai
keteladanan, dan dakwah digelorakan tanpa henti melalui sinergi aksi
nyata, goresan pena, serta retorika lisan yang fasih lagi bijaksana. Maka
dengan kesadaran ini semua, akan terbangunlah tatanan kehidupan yang beradab.
Kegilaan
Jahiliyah
Inilah salah satu
bentuk kegilaan di zaman jahiliyah di antara banyak kegilaan yang lain karena
belum tersentuh oleh nilai-nilai Alquran.
Suatu hari, Umar
bin Khattab duduk menyendiri. Parasnya yang tegas tampak bergantian menunjukkan
ekspresi yang aneh. Sesaat ia tertawa kecil hingga bahunya terguncang, namun
tak lama kemudian, air mata deras membasahi janggutnya.
Seorang sahabat
yang heran kemudian bertanya, “Wahai Umar, apa yang membuatmu tertawa sekaligus
menangis dalam satu waktu?”
Sambil menghela
napas panjang, sang singa padang pasir itu menjawab dengan suara parau, “Aku
tertawa saat mengenang betapa bodohnya akalku di masa jahiliyah. Pernah suatu
ketika dalam perjalanan, rasa lapar yang hebat melilit perutku, sementara
perbekalan telah habis. Aku menatap satu-satunya ‘tuhan’ yang kubawa—sebuah
berhala yang terbuat dari adonan gandum.”
“Dengan rasa
sungkan yang konyol, aku berbisik, ‘Wahai tuhan, izinkan aku memakan telingamu.’
Karena lapar tak kunjung hilang, aku kembali meminta izin untuk melahap tangan,
kaki, hingga seluruh tubuh tuhanku sendiri sampai ludes. Aku tertawa melihat
betapa gilanya saat itu; menyembah sesuatu yang berakhir di dalam perutku
sendiri.”
Seketika, wajah
Umar berubah kelam. Suaranya bergetar saat melanjutkan kisahnya.
“Namun, aku
menangis karena dosa yang takkan pernah bisa kuhapus. Dahulu, aku memiliki
seorang anak yang kusangka laki-laki karena ibunya selalu mendandaninya dengan
pakaian jantan. Hingga suatu hari, aku menyadari bahwa ia adalah seorang anak
perempuan. Kematian akan aib memaafkan hatiku, mengaktifkan rasa kemanusiaanku.”
“Aku membawa ke
padang pasir yang sunyi dan mulai menggali lubang. Dengan polosnya, jemari
kecilnya ikut membersihkan debu yang menempel di janggutku, lalu ia bertanya, ‘Untuk
apa lubang ini, Abi?’ Aku berbohong dan menjawab, ‘Ini tempat bermainmu.’”
“Begitu lubang
itu cukup di dalam, dengan penuh semangat aku mendorongnya masuk dan
menimbunnya hidup-hidup. Aku masih ingat bagaimana suaranya perlahan menghilang
ditelan bumi.”
“Saat itu, yang terpikirkan
hanyalah menonton semu, namun sekarang... setiap kali aku memikirkannya, suara
tangis pilu anakku kembali terngiang, menyayat hati yang kini telah terpenuhi
hidayah.”
Solusi Anti
Gila
Pada akhirnya, Alquran
bukan sekadar barisan teks suci untuk dibaca, melainkan petunjuk keselamatan
agar manusia tidak kehilangan kewarasan di tengah dunia yang makin gila.
Menjadikan
Alquran sebagai petunjuk (hudan) hidup adalah cara paling masuk akal
untuk menghindarkan diri dari disorientasi. Agar tak lagi mengejar
bayang-bayang materi hingga lupa jalan pulang ke pelukan keluarga dan ridha
Allah SWT.
Ketika ego dan
kesombongan berhasil dikikis lewat semangat iqra’ (membaca), saat itulah
ayat-ayat-Nya akan mengalir masuk, menstabilkan detak jantung, dan menjernihkan
pola pikir yang sempat semrawut.
Percayalah, hanya
dengan kembali kepada petunjuk Alquran, seseorang akan menemukan ketenangan
yang nyata. Ini adalah sebuah jaminan akan keselamatan seseorang dari kegilaan
zaman. Dengan petunjuk Alquran ia akan tetap tegak berdiri sebagai manusia yang
bermartabat hingga akhir perjalanan nanti.
Alquran hadir
untuk mengembalikan pada titik fitrah. Surat Al-‘Alaq sudah memberikan
pencerahan, bahwa dengan membaca, seseorang bisa mengetahui Tuhan yang benar
untuk disembah, mengetahui hakikat asal usul manusia yang sama, dan menyadari
bahwa Allah menjadi sumber pengetahuan dengan qalam dan pengajaran-Nya,
sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya.
Orang-orang kafir
Quraisy melakukan penentangan dan penolakan yang luar biasa terhadap
diturunkannya surat Al-‘Alaq. Mereka menuduh gila, dukun, pendusta dan hal
negatif lainnya terhadap Muhammad, sosok yang mendapatkan wahyu Tuhan, yang diangkat
menjadi nabi dan rasul, dan diturunkan atasnya surat Al-‘Alaq.
Allah kemudian memberikan pembelaan dan penegasan bahwa Nabi Muhammad SAW dan orang-orang yang berada dalam petunjuk nikmat Alquran tidak akan gila, tapi justru mengantarkannya untuk berakhlak mulia, mendapatkan pahala yang tidak putus, dan semakin yakin dengan janji-janji Allah.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.