Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Khutbah

Khutbah Idul Adha: Implementasi Ibadah Qurban dalam Kehidupan Bermasyarakat

7 menit baca 7.792 dibaca
Admin

Oleh: Admin

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Implementasi Ibadah Qurban dalam Kehidupan Bermasyarakat
Masyarakat menenangkan sapi yang akan dijadikan hewan qurban. Foto: Unplash
Bagikan:

Oleh: Dr KH Sofyan Rosyada, MBA, Ketua Dewan pertimbangan MUI Kota Tangerang

Khutbah I

السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَللّٰهُ اَكْبَرُ،اَللّٰهُ اَكْبَرُ، اَللّٰهُ اَكْبَرُ، اَللّٰهُ اَكْبَرُ،اَللّٰهُ اَكْبَرُ، اَللّٰهُ اَكْبَرُ اَللّٰهُ اَكْبَرُ،اَللّٰهُ اَكْبَرُ، اَللّٰهُ اَكْبَرُ، لَآاِلٰهَ اِلَّا اَللّٰهُ وَاللّٰهُ اَكْبَرُ، اَللّٰهُ اَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ بَعَثَ   نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اَللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحْمَةً لِلْأَنَامِ، وَاخْتَصَّهُ بِشَرِيْعَةٍ سَمْحَاءَ مُشْتَمِلَةٍ عَلَى الْحِكَمِ وَالْاَحْكَامِ، اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلاَمُ،وَ اَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَفْضَلُ الْاَنَامِ وَمِصْبَاحُ الظُّلاَمِ وَرَسُوْلُ الْمَلِكِ الْعَلَّامِ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ السَّادَةِ الْكِرَامِ.

وَبَعْدُ، فَيَاأَيُّهَاالنَّاسُ اِتَّقُوْااللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَقَالَ اَللّٰهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالٰى، اَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ (لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ)، صَدَقَ اَللّٰهُ اَالْعَظِيْم.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Pada hari yang penuh kemuliaan ini, umat Islam di seluruh dunia menggemakan takbir, tahlil, dan tahmid sebagai ungkapan syukur atas kebesaran Allah.

Idul Adha mengingatkan kita pada keteladanan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan putranya, Nabi Ismail ‘Alaihissalam dalam menjalankan perintah Allah dengan penuh keikhlasan dan pengorbanan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.

Idul Adha bukan sekadar hari raya. Ia adalah momentum agung untuk menilai kembali kualitas iman, keikhlasan, dan kepedulian sosial kita.

Allah SWT mengabadikan kisah pengorbanan agung dalam firman-Nya:

يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ

“Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu....” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Kisah ini bukan sekadar sejarah, melainkan cermin keimanan. Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam menunjukkan ketaatan tanpa syarat. Dan Nabi Ismail ‘Alaihissalam menunjukkan kesabaran tanpa batas.

Demikianlah, dua generasi, satu nilai, yakni ketaatan total kepada Allah.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Di sinilah letak hakikat qurban. Allah SWT menegaskan:

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ

“Daging dan darahnya tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)

Maka qurban sejatinya adalah pengorbanan ego, inti ibadah qurban bukan hanya menyembelih hewan, tetapi menundukkan “aku” dalam diri kita. Ego sering muncul dalam bentuk keinginan untuk selalu diutamakan, rasa berat untuk berbagi, kecintaan berlebihan pada harta dan sikap merasa lebih tinggi dari orang lain

Melalui qurban, seseorang dilatih untuk melepaskan keterikatan tersebut. Ia mengeluarkan harta yang dicintai, bukan karena terpaksa, tetapi karena ketaatan kepada Allah. Ini adalah bentuk nyata melawan ego yang cenderung menahan dan memiliki. Dalam Alquran ditegaskan:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗ

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92)

Puncak kebaikan justru lahir saat seseorang mampu mengalahkan egonya. Maka, qurban pada hakikatnya menjadi latihan spiritual untuk mengendalikan diri, merendahkan hati dan menumbuhkan kepedulian.

Ketika ego berhasil “disembelih”, maka yang muncul adalah keikhlasan, empati, dan semangat berbagi. Sekali lagi, demikian itulah hakikat qurban yang sesungguhnya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Ketahuilah, qurban juga sejatinya adalah pengorbanan kepentingan pribadi. Bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga simbol dari pengorbanan kepentingan pribadi demi nilai yang lebih tinggi.

Seseorang diajak untuk menekan ego, keinginan, dan keterikatan duniawi, lalu menggantinya dengan keikhlasan, kepedulian, serta ketaatan kepada Tuhan.

Melalui ibadah qurban, manusia belajar bahwa berbagi dan mendahulukan orang lain adalah bentuk pengorbanan yang mulia, sekaligus sarana untuk membersihkan hati dari sifat serakah dan individualis.

Ibadah qurban juga murupakan pengorbanan terhadap kecintaan yang berlebihan terhadap dunia. Ibadah ini mengajarkan manusia untuk melepaskan kecintaan yang berlebihan terhadap hal-hal duniawi, seperti harta, status, atau kenyamanan.

Melalui qurban, seseorang dilatih untuk tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama, melainkan sebagai sarana untuk berbuat kebaikan. Dengan berbagi dan berkorban, hati menjadi lebih lapang, tidak terikat pada materi, serta lebih fokus pada nilai keikhlasan dan kedekatan kepada Tuhan.

Rasulullah SAW bersabda:

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللّٰهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ

“Tidak ada amalan yang dilakukan oleh anak Adam pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah selain mengalirkan darah (hewan qurban).”(HR. Tirmidzi)

Oleh karena itu, jika qurban hanya berhenti pada penyembelihan, maka kita kehilangan makna besarnya. Qurban harus hidup dalam sistem kehidupan kita, terutama dalam kehidupan bermasyarakat.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Qurban dapat dipahami sebagai fondasi keadilan sosial karena mendorong distribusi kekayaan dari yang mampu kepada yang membutuhkan. Melalui pembagian daging qurban, nilai kebersamaan dan kepedulian sosial ditegakkan, sehingga kesenjangan dapat sedikit dikurangi.

Qurban mengajarkan bahwa kesejahteraan tidak seharusnya dinikmati secara individu, melainkan dibagi secara adil, sehingga tercipta masyarakat yang lebih seimbang, harmonis, dan saling memperhatikan.

Islam tidak membiarkan kekayaan berputar di kalangan tertentu saja. Dan qurban adalah mekanisme distribusi yang nyata, yang kaya memberi, yang lemah terbantu.

Qurban juga menjadi sarana yang kuat untuk menumbuhkan dan mempererat solidaritas umat. Melalui proses berqurban, mulai dari pengumpulan hingga pembagian, tercipta kebersamaan, gotong royong, dan rasa saling peduli antarsesama.

Tidak hanya yang menerima manfaat, tetapi juga yang memberi merasakan ikatan emosional dan spiritual yang lebih dalam. Sekali lagi, qurban bukan sekadar ibadah individu, melainkan momentum untuk memperkuat persatuan, kebersamaan, dan rasa sepenanggungan dalam kehidupan bermasyarakat.

Ketika daging dibagikan, yang tersebar bukan hanya makanan, tetapi rasa persaudaraan, kepedulian, dan kebersamaan.

Qurban juga berperan sebagai pendidikan karakter yang mengajarkan nilai-nilai penting dalam kehidupan, seperti keikhlasan, pengendalian diri, kepedulian, dan tanggung jawab sosial. Melalui ibadah qurban, seseorang dilatih untuk rela melepaskan sesuatu yang dicintai demi kebaikan yang lebih besar, serta belajar berbagi dengan sesama tanpa pamrih.

Proses ini membentuk pribadi yang tidak hanya taat secara spiritual, tetapi juga berjiwa sosial, rendah hati, dan peka terhadap kebutuhan orang lain. Ia melatih keikhlasan, membentuk empati, dan menghancurkan sifat kikir.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Realitas hari ini menunjukkan bahwa problem umat bukan hanya ekonomi, tetapi juga hilangnya kepedulian. Ada yang hidup dalam kelaparan, sementara yang lain hidup dalam kelimpahan tanpa berbagi. Ada yang membutuhkan uluran tangan, namun diabaikan oleh lingkungannya. Di sinilah ibadah qurban harus hadir menunjukkan makna urgensinya.

Qurban tidak semata-mata dipahami sebagai ibadah tahunan yang dilakukan pada waktu tertentu, tetapi juga dapat dimaknai sebagai gerakan sosial berkelanjutan.

Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya—seperti kepedulian, berbagi, dan keadilan—seharusnya terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan semangat qurban mendorong umat untuk tidak berhenti pada momen Idul Adha saja, melainkan konsisten membantu sesama, mengurangi kesenjangan sosial, dan memperkuat solidaritas sepanjang waktu.

Dengan demikian, qurban menjadi inspirasi untuk membangun masyarakat yang lebih peduli dan berkeadilan secara berkelanjutan.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Hari ini Allah tidak meminta kita menyembelih anak kita, tetapi Allah meminta kita menyembelih keserakahan yang menguasai hati, keegoisan yang merusak hubungan, cinta dunia yang melalaikan akhirat dan sikap acuh terhadap penderitaan sesama.

Jika ini kita lakukan, maka akan lahir masyarakat yang adil dalam distribusi, kuat dalam persaudaraan dan dan tinggi dalam kepedulian.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Nilai qurban harus kita jadikan sebagai prinsip hidup. Sebab Rasulullah SAW pernah bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim)

Nilai-nilai dalam hadis ini harus menjadi fondasi dalam kehidupan bermasyarakat. Jika nilai ini hidup, maka akan lahir masyarakat yang saling menolong dalam kebaikan, saling menjaga dalam kesulitan dan saling menguatkan dalam ujian.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Idul Adha harus menjadi titik perubahan dari individu yang egois menjadi pribadi yang dermawan, dari masyarakat yang acuh menjadi masyarakat yang peduli.

Qurban dapat dijadikan sebagai jalan menuju perbaikan umat dengan menanamkan nilai keikhlasan, kepedulian, dan pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah ini tidak hanya bermakna ritual, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun kesadaran sosial agar umat lebih peduli terhadap sesama dan menjauhi sifat egois.

Melalui semangat qurban, umat didorong untuk memperbaiki diri, memperkuat solidaritas, serta menciptakan kehidupan yang lebih adil dan harmonis, sehingga terbentuk masyarakat yang lebih baik secara moral maupun sosial.

Jamaah yang Dimuliakan Allah,

Marilah kita jadikan momen Idul Adha ini sebagai sarana untuk memperkuat keimanan, keikhlasan, dan kepedulian kita kepada sesama.

Mari kita bawa semangat pengorbanan ini dalam kehidupan sehari-hari, dengan saling membantu, menjaga persaudaraan, dan menebarkan kebaikan di tengah masyarakat.

Semoga setiap amal ibadah qurban yang kita lakukan diterima oleh Allah SWT dan menjadi jalan untuk membersihkan hati serta memperbaiki diri.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa, ikhlas, dan senantiasa istiqamah dalam kebaikan, dan semoga kita diberikan kekuatan untuk terus memperbaiki diri dan umat, serta dijauhkan dari segala fitnah dan keburukan. Amin ya Rabbal ‘alamin.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَآئِرِالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

اَللّٰهُ اَكْبَرُ (7x) اَللّٰهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً.

اَلْحَمْدُلِلّٰهِ الَّذِيْ اَعَادَالْاَعْيَادَ وَكَرَّرَ. اَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالٰى اَنْ خَلَقَ وَصَوَّرَ. وَاَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً يَثْقَلُ بِهَا الْمِيْزَانُ فِى الْمَحْشَرِ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَامُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ اِلٰى الْاَسْوَدِ وَالْاَحْمَرِ.

اَللّٰهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ الْفَائِزِيْنَ بِالشَّرَفِ الْاَفْخَرِ.

اَمَّابَعْدُ، فَيَا عِبَادَاللّٰهِ اِتَّقُوااللّٰهَ فِيْمَا اَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى اللّٰهُ عَنْهُ وَحَذَّرَ. وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللّٰهَ تَعَالٰى صَلّٰى عَلٰى نَبِيِّهِ قَدِيْمًا، فَقَالَ تَعَالٰى: اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلٰى النَّبِيِّ  يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ  عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِالْخَلْقِ صَاحِبِ الْوَجْهِ الْاَنْوَرِ. وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنْ كُلِّ الصَّحَابَةِ اَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهمَّ اَعِزَّالْاِسْلاَمَ وَالْمُسْلمِيْنَ، وَاَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةِ الْمُسْلمِيْنَ، وَاَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ اَعْدَاءَ الدِّيْنَ، وَاَعْلِ كَلِمَتَكَ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ. اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. رَبَّنَااٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ،اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَإِيْتَآءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِوَالْبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ  يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ  اَكْبَرُ.    

اَللّٰهُ اَكْبَرُ (3x) لاَاِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ وَاللّٰهُ اَكْبَرُ، اَللّٰهُ اَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.