Seperempat Abad Setelah 9/11, Citra Muslim di Amerika Masih Hadapi Stigma Negatif
Seperempat Abad Setelah 9/11, Citra Muslim di Amerika Masih Hadapi Stigma Negatif
Jakarta, MUI Digital— Pandangan warga Amerika Serikat terhadap Muslim kini semakin negatif, dalam kurun waktu 25 tahun setelah serangan 11 September 2001 atau 9/11.
Sebuah studi yang dirilis awal bulan ini menemukan bahwa pandangan tersebut saat ini dua kali lebih negatif dibandingkan dengan kondisi setelah serangan 9/11.
Sejumlah perang yang dipimpin Amerika Serikat dengan alasan pemberantasan terorisme, terutama di Afghanistan dan Irak, turut membentuk citra negatif terhadap Muslim di tengah masyarakat Amerika.
Hal serupa juga dipengaruhi oleh sejumlah politisi terkemuka yang membangun citra politik dengan mendiskreditkan Muslim dan kelompok masyarakat yang terpinggirkan lainnya, serta serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.
Survei Pew Research Center menemukan, 43 persen orang dewasa di Amerika Serikat meyakini Muslim kurang patriotik dibandingkan warga Amerika lainnya. Sementara itu, 42 persen responden mengatakan Muslim memberikan dampak negatif terhadap negara.
“9/11 memberikan keleluasaan untuk semakin mendiskreditkan Muslim dan menginvasi negara-negara Muslim,” kata Mirvette Judeh, Presiden Arab American Caucus of California, kepada The New Arab yang dikutip MUI Digital pada Selasa (15/9/2026).
Menurutnya, peristiwa 9/11 juga memberikan ruang bagi pemerintah untuk meningkatkan pengawasan terhadap masyarakat.
Dia menyebut 9/11 memberikan keleluasaan kepada pemerintah untuk mengawasi semua orang. Peristiwa itu menghancurkan negara-negara kami dan menghancurkan komunitas kami di sini.
“Seluruh komunitas didiskreditkan dan diteror. Saya merasa kebencian dan ketakutan justru semakin buruk,” ujarnya.
Pada Maret 2002, atau enam bulan setelah serangan 9/11, sebanyak 25 persen orang dewasa yang disurvei Pew mengatakan Islam lebih mungkin mendorong kekerasan dibandingkan agama-agama lain.
Dalam survei lain yang dilakukan tahun ini, angka tersebut meningkat menjadi 51 persen responden.
Meski pandangan terhadap Muslim masih sangat negatif 25 tahun setelah 9/11, keterlibatan warga Muslim Amerika dalam kehidupan sipil justru semakin meningkat.
Banyak di antara mereka yang mencalonkan diri untuk jabatan publik dan mengambil berbagai peran di ruang publik.
“Optimisme itu muncul dari kenyataan bahwa komunitas kami semakin nyaman untuk tampil dan terlihat,” kata Amr Shabaik, Direktur Hukum Council on American-Islamic Relations (CAIR) cabang Los Angeles, kepada The New Arab (TNA).
“Komunitas lain juga pernah mengalami hal serupa dan kemudian melihat peningkatan partisipasi,” lanjutnya.
Salah satu contoh menonjol dari keberhasilan politisi Muslim Amerika adalah Wali Kota New York Zohran Mamdani, yang menyampaikan salah satu pidato utama dalam upacara peringatan 9/11 pada Jumat.
Meski sempat muncul petisi yang meminta agar dirinya dilarang berbicara dalam acara tersebut, Mamdani justru mendapat sambutan hangat.
Dia juga menjadi satu-satunya pejabat terpilih senior yang tetap berada di lokasi upacara setelah seluruh nama korban dibacakan.
Di antara keluarga korban yang hadir dalam upacara tersebut terdapat Michael Massaroli Jr., yang kehilangan ayahnya dalam serangan 11 September.
Sebagai anggota keluarga korban terakhir yang menyampaikan pidato, ia mengimbau masyarakat agar tidak menjadikan tragedi 9/11 sebagai alasan untuk menyebarkan kebencian.
“Saya rasa hal terakhir yang ingin saya sampaikan kepada semua orang adalah bahwa menggunakan tragedi ini untuk menyebarkan kebencian sama sekali tidak menghormati warisan ayah saya maupun warisan seluruh korban,” katanya.
Dia mengungpkan selama 25 tahun terakhir, dirinya harus tumbuh dewasa sambil menyaksikan orang-orang menggunakan tragedi ini untuk membenci saudara dan saudari Muslim, membenci orang-orang yang tidak terlihat seperti mereka.
“Itu salah dan sama sekali tidak menghormati para korban di sini,” ujarnya.