Anis Matta di Hari Dialog Peradaban: PBB Seperti Payung Bocor, Gagal Hentikan Genosida Gaza
Sadam Al Ghifari
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital— Wakil Menteri Luar Negeri RI, Anis Matta, melontarkan kritik keras terhadap kinerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dinilainya mandul dalam menjaga perdamaian.
Anis mengibaratkan institusi payung politik terbesar di dunia tersebut sudah usang dan rapuh bak payung bocor karena gagal menghentikan genosida yang menimpa bangsa Palestina di Gaza.
Pernyataan itu disampaikan Anis Matta saat menjadi pembicara dalam forum internasional peringatan International Day for Dialogue among Civilizations (Hari Dialog Antar Peradaban Internasional) di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/6/2026).
"Lembaga yang menjadi payung kita sekarang ini seperti payung yang sudah bocor. Tidak bisa melindungi kita dari hujan, tidak bisa melindungi kita dari panasnya matahari," ujar Anis Matta.
Anis menambahkan, ketidakberdayaan PBB terlihat jelas saat aksi kekerasan di Gaza terus berkecamuk tanpa ada tindakan nyata yang mampu menghentikannya.
Baca juga: Menhaj Sambut Kedatangan Muysrif Diny, Sukses Spiritual Haji Tetap Dipertahankan
Menurutnya, banyak pihak yang mempertanyakan peran PBB ketika peristiwa genosida yang terjadi kepada bangsa Palestina di Gaza.
"Orang semua berharap dan bertanya pada waktu yang sama: apa yang bisa dilakukan oleh PBB untuk itu? Itu yang menyebabkan kita menjadi tidak percaya kepada institusi besar itu. Bukan karena kita tidak menginginkannya, tetapi kita merasa bahwa dia semakin tua dan tidak bisa melakukan tugas-tugasnya dengan baik," tegasnya.
Menurut Anis, krisis PBB dan Dewan Keamanan merupakan cerminan dari krisis sistemik yang jauh lebih besar, yakni krisis ideologi, institusi, hingga kelangkaan kepemimpinan global.
Dia menilai fondasi tata kelola dunia yang dibangun 80 tahun lalu pasca-Perang Dunia II kini telah memasuki fase kematian.
Baca juga: Gandeng DPR-DPD, MUI akan Gelar Dialog Antar-Peradaban Internasional Sikapi Konflik Global
Dunia saat ini, lanjut Anis, sedang berada dalam fase transisi yang penuh gejolak akibat adanya konflik supremasi (conflict of supremacy) di antara para kekuatan besar (great powers).
Proses pergantian tatanan lama menuju tatanan baru ini diibaratkannya seperti fase kontraksi pada ibu hamil yang menyakitkan dan memicu rentetan perang panjang.
"Kita sedang berada dalam proses transisi menggantikan tatanan lama ini dengan tatanan baru,” kata dia.
Dia menyebutkan, yang sudah pasti adalah tatanan lama ini mati, yang baru belum muncul. Dalam proses kemunculannya, itu seperti proses ibu hamil. Akan banyak kontraksi selama proses kehamilan itu. “Semua konflik yang kita saksikan sekarang ini ada dalam perspektif itu," jelasnya.
Anis mencontohkan konflik-konflik regional yang berlarut-larut seperti Perang Ukraina di teater Eropa serta perang yang melibatkan Iran di teater Timur Tengah sebagai bukti nyata dari hancurnya ekuilibrium atau keseimbangan global.
Mantan Wakil Ketua DPR RI ini menggarisbawahi bahwa perang yang melibatkan Iran dan konflik Palestina harus dijadikan sebagai momentum krusial (milestone) untuk melahirkan tata kelola dunia baru yang lebih adil bagi umat manusia secara umum, termasuk mengakhiri ketidakadilan ekonomi global.
Baca juga: Wakil Ketua MPR RI: Perdamaian Global Mustahil tanpa Kemerdekaan Palestina
Sebagai jalan keluar dari krisis multi-dimensi ini, Anis mengajak komunitas internasional untuk memanfaatkan momentum Hari Dialog Antar Peradaban untuk menyatukan visi dan menyusun sebuah solusi konkret yang ia sebut sebagai "Proposal Peradaban Bersama".
Dia menyebut, momentum dialog ini adalah penting untuk mengumpulkan satu proposal peradaban bersama.
Proposal peradaban bersama ini adalah menemukan satu model sosial, model ekonomi, dan model politik baru yang bisa menyatukan lima hal, yang pertama adalah agama.
Forum internasional ini digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) bekerja sama dengan DPD RI dan DPR RI. Mengangkat tema "Memperkuat Iman dan Membangun Perdamaian: Menyelaraskan Peradaban Global dari Indonesia untuk Dunia", agenda strategis ini turut mengusung lima misi utama demi meretas jalan perdamaian dunia.
Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh, antara lain, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, cendekiawan Muslim Prof Din Syamsuddin, dan Ketua Kaukus Parlemen untuk Perdamaian Dunia Ahmad Doli Kurniawan.
Hadir pula anggota DPR RI Mardani Ali Sera, serta Duta Besar negara sahabat seperti Dubes Arab Saudi Faisal Abdullah H Amodi, Dubes Turki Talip Küçükcan, dan Dubes Timor Leste Roberto Sarmento de Oliveira Soares.