5 Sikap Yang Dianjurkan Rasulullah SAW Saat Terkena Musibah
Admin
Penulis
Foto: istimewa
Jakarta, MUI Digital— Musibah merupakan peristiwa yang tidak diharapkan dan kerap membawa kesulitan maupun penderitaan bagi seseorang atau sekelompok orang.
Peristiwa tersebut dapat berupa bencana alam, kecelakaan, atau berbagai keadaan buruk lainnya. Secara umum, musibah dipahami sebagai bentuk ujian atau cobaan yang datang dalam perjalanan hidup manusia. Rasulullah SAW menganjurkan lima sikap yang sepatutnya ditunjukkan ketika seseorang tertimpa musibah, yaitu:
1. Bersabar atas ujian dan cobaan
Dalam Islam, musibah dilihat sebagai ujian dari Allah SWT yang mengandung hikmah baik untuk meneguhkan iman maupun menghapus dosa. Karena itu, sikap pertama seorang Muslim saat ditimpa cobaan adalah bersabar. Kesabaran tersebut bukan sekadar menerima keadaan, tetapi kesadaran bahwa setiap ujian memiliki tujuan ilahi.
Melalui pandangan ini, seorang mukmin dapat memahami bahwa musibah bukan akhir dari kebaikan, melainkan jalan menuju rahmat Allah. Setiap ujian menjadi sarana peningkatan derajat, penambah pahala, dan pengurang dosa, bahkan meski bentuknya sekecil tertusuk duri. Rasulullah SAW bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً، أَوْ حَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً
Artinya: “Tidaklah seorang mukmin tertimpa duri atau sesuatu yang lebih menyakitkan darinya, melainkan Allah mengangkat derajatnya atau menghapus satu kesalahannya.” (HR Muslim)
Hadits di atas juga memberikan landasan teologis yang kokoh bahwa musibah membawa dua manfaat bagi seorang mukmin yakni meninggikan derajat dan menggugurkan dosa. Al-Hafizh Ibn Hajar Al-‘Asqalani (wafat 852 H) dalam kitabnya Fath al-Bary menegaskan:
وَهَذَا يَقْتَضِي حُصُولَ الأَمْرَيْنِ مَعًا: حُصُولَ الثَّوَابِ، وَرَفْعَ العِقَابِ
Artinya: “Hadits ini menunjukkan bahwa dua hal tersebut (pengangkatan derajat dan penghapusan dosa dapat terjadi secara bersamaan.” (Fath Al-Bari Syarh Sahih Al-Bukhari [Beirut: Dar Al-Ma’rifah], vol 10, h 105)
Sehingga, musibah tidak dipandang semata-mata sebagai beban melainkan sebagai proses pendidikan ilahi yang mengandung nilai pahala sekaligus penyucian diri.
Pemahaman demikian menumbuhkan keteguhan dan optimisme pada diri seorang Muslim, karena ia meyakini bahwa setiap cobaan selalu membuka kesempatan untuk semakin dekat kepada Allah SWT.
2. Ridha terhadap ketentuan Allah SWT
Bilamana sabar menjadi langkah awal tatkala menghadapi musibah, maka ridha merupakan tingkatan spiritual yang lebih tinggi. Setelah mampu menahan keluh kesah, seorang hamba dituntut menerima ketentuan Allah SWT dengan lapang dada sebagai bentuk penyerahan sepenuhnya kepada-Nya.
Karena itu, ridha bukan sekadar lanjutan dari sabar, tetapi sekaligus penyempurna yang mengubah musibah dari beban menjadi sumber ketenangan.
Sikap ini menegaskan bahwa ujian bukanlah tanda kebencian Allah, melainkan bukti cinta-Nya. Rasulullah SAW menyatakan bahwa suatu balasan sebanding dengan beratnya ujian, dan bahwa Allah menguji hamba-hamba yang dicintai-Nya. Dalam salah satu redaksi hadits disebutkan:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ ﷿ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ، فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
Artinya: “Sesungguhnya besarnya balasan sesuai besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Maka barang siapa ridha, baginya keridaan Allah dan barang siapa murka, baginya kemurkaan Allah.” (HR Tirmidzi)

Foto: istimewa
Syekh Mulla Al-Qari (wafat 1014 H) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan hubungan timbal balik antara sikap seorang hamba dan balasan dari Allah.
Bila seorang mukmin menerima ketentuan Allah dengan ikhlas, maka Allah pun akan meridhainya. Sebaliknya, bila ia merespons dengan amarah dan keluhan, maka kemurkaan Allah lebih layak menimpanya:
أَنَّ نُزُولَ الْبَلَاءِ عَلَامَةُ الْمَحَبَّةِ فَمَنْ رَضِيَ بِالْبَلَاءِ صَارَ مَحْبُوبًا حَقِيقِيًّا لَهُ تَعَالَى، وَمَنْ سَخِطَ صَارَ مَسْخُوطًا عَلَيْهِ
Artinya: “Turunnya bala’ (cobaan) merupakan tanda cinta Allah. Maka barangsiapa yang ridha terhadap ujian itu, akan menjadi hamba yang benar-benar dicintai oleh-Nya. Sebaliknya, siapa yang membencinya (tidak rela), maka ia akan menjadi orang yang dimurkai.” (Mirqah Al-Mafatih Syarh Misykah Al-Masabih [Beirut: Dar Al-Fikr], vol 3, h 114)
Karenanya, ridha bukan sekadar menerima musibah melainkan pula proses menyelaraskan hati dengan kehendak Allah. Pada tingkat inilah seorang mukmin memperoleh ketenangan, lantaran ia memahami bahwa setiap ujian merupakan bentuk kasih sayang Allah yang menuntunnya menuju kedewasaan dan peningkatan spiritual.
3. Bertobat dan mengintrospeksi diri
Setelah memahami pentingnya sikap sabar dan ridha, seorang mukmin juga perlu menjadikan musibah sebagai momentum evaluasi diri.
Tidak semua musibah merupakan hukuman, terkadang ia datang setelah seseorang terjatuh dalam maksiat atau kesalahan. Maka langkah yang tepat bukan hanya bersabar atau menerima, melainkan segera bertobat dengan sungguh-sungguh.
Dengan cara ini, musibah menjadi pengingat atas kelalaian manusia sekaligus pendorong untuk kembali kepada ketaatan. Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang bertobat dari dosa bagaikan tidak pernah melakukan dosa sama sekali:
التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ
Artinya: “Seseorang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak punya dosa.” (HR Ibn Majah)
Menurut Syekh Mulla Al-Qari, hadits tersebut bermakna bahwa kondisi seseorang setelah bertobat tidak sekadar kembali seperti sebelumnya, justru dapat menjadi lebih tinggi derajatnya. Sebab, tobat yang tulus mampu mengubah dosa menjadi kebaikan, hal ini menggambarkan betapa luas kasih sayang Allah kepada hamba yang kembali kepada-Nya:
كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ أَيْ: فِي عَدَمِ الْمُؤَاخَذَةِ، بَلْ قَدْ يَزِيدُ عَلَيْهِ بِأَنَّ ذُنُوبَ التَّائِبِ تُبَدَّلُ حَسَنَاتٍ
Artinya: “Seperti orang yang tidak memiliki dosa, yakni dalam hal tidak adanya pertanggungjawaban atas dosa-dosanya. Bahkan bisa lebih dari itu, karena dosa-dosa orang yang bertobat dapat diganti menjadi kebaikan.” (Mirqah Al-Mafatih Syarh Misykah Al-Masabih [Beirut: Dar Al-Fikr], vol 4, h 1636)
Dengan demikian, melakukan introspeksi, memperbaiki kesalahan, dan memohon ampun kepada Allah merupakan langkah penting agar musibah memberikan manfaat dan tidak berlalu begitu saja.
Pada tahap ini, musibah tidak lagi sekadar menjadi beban, tetapi berubah menjadi jalan untuk kembali kepada Allah, memperbarui iman, dan memperdalam kedekatan spiritual dengan-Nya.

Foto: istimewa
4. Mengucapkan istirja’ dan memohon pertolongan Allah SWT
Salah satu sikap yang dianjurkan tatkala terkena musibah adalah mengucapkan istirja’, yang menegaskan bahwa seluruh hidup berada dalam kuasa Allah SWT. Istirja’ menjadi bentuk nyata keyakinan tauhid bahwa setiap ketentuan Allah mengandung hikmah dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.
Keutamaan istirja’ semakin jelas melalui sabda Rasulullah SAW bahwa barangsiapa yang mengucapkannya ketika ditimpa musibah, disertai doa memohon pahala dan pengganti yang lebih baik, niscaya akan memperoleh rahmat Allah:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ، فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللهُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ اجْرُنِي فِي مُصِيبَتِي، وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَجَرَهُ اللهُ فِي مُصِيبَتِهِ، وَأَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا
Artinya: “Tidaklah seorang Muslim tertimpa musibah lalu ia mengucapkan apa yang Allah perintahkan: ‘Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku dan gantilah dengan yang lebih baik, melainkan Allah akan memberinya pahala atas musibah tersebut dan Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.” (HR Muslim)
Selain keutamaannya, para ulama menjelaskan bahwa istirja’ berfungsi sebagai perisai spiritual bagi hati yang sedang rapuh. Imam As-Safirini Al-Hanbali (wafat 1188 H) menuturkan bahwa ucapan istrija lebih dari sebatas doa, namun juga pelindung dari godaan setan yang kerap memanfaatkan keguncangan jiwa untuk menanamkan pikiran negatif, membangkitkan kembali kesedihan, atau menyalakan keresahan yang telah mereda:
قَالَ الشَّيْخُ شَمْسُ الدِّينِ الْمِينَحِيُّ فِي كِتَابِهِ (تَسْلِيَةِ أَهْلِ الْمَصَائِبِ)، وَهُوَ مِنْ أَئِمَّةِ الْمَذْهَبِ: قَدْ جَعَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ كَلِمَاتِ الِاسْتِرْجَاعِ وَهِيَ قَوْلُ الْمُصَابِ إنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إلَيْهِ رَاجِعُونَ مَلْجَأً وَمَلَاذًا لِذَوِي الْمَصَائِبِ .وَعِصْمَةً لِلْمُمْتَحَنِينَ مِنْ الشَّيْطَانِ، لِئَلَّا يَتَسَلَّطَ عَلَى الْمُصَابِ فَيُوَسْوِسَ لَهُ بِالْأَفْكَارِ الرَّدِيئَةِ، فَيَهِيجَ مَا سَكَنَ وَيَظْهَرَ مَا كَمَنَ، فَإِذَا لَجَأَ إلَى هَذِهِ الْكَلِمَاتِ الْجَامِعَاتِ لِمَعَانِي الْخَيْرِ وَالْبَرَكَةِ فَقَدْ اعْتَصَمَ بِهَا مِنْ وَسْوَسَةِ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّ قَوْلَهُ إنَّا لِلَّهِ تَوْحِيدٌ وَإِقْرَارٌ بِالْعُبُودِيَّةِ وَالْمُلْكِ
Artinya: “Syekh Syamsuddin Al-Mīnahī dalam kitabnya Tasliyat Ahl Al-Maṣhā’ib, salah satu ulama besar mazhab, berkata: Allah SWT telah menjadikan kalimat-kalimat istirja‘ yaitu ucapan orang yang tertimpa musibah Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn sebagai tempat berlindung dan sandaran bagi mereka yang ditimpa musibah. Kalimat ini juga menjadi penjaga bagi orang-orang yang diuji, agar setan tidak menguasainya lalu membisikkan pikiran-pikiran buruk, yang dapat membangkitkan kembali apa yang sudah tenang, dan menampakkan apa yang tersembunyi. Ketika seseorang berlindung kepada kalimat-kalimat yang mengandung berbagai makna kebaikan dan keberkahan ini, maka ia telah menyelamatkan dirinya dari bisikan setan. Sebab ucapannya ‘Innā lillāh’ adalah pernyataan tauhid dan pengakuan atas kehambaan serta kepemilikan Allah terhadap dirinya.” (Ghidza Al-Albab Fi Syarh Mandzumah Al-Adab [Mesir: Muassasah Qurtubhah], vol 2, h 332)
Oleh karenanya, bacaan istirja’ bukan hanya menenangkan hati yang sedang terguncang, tetapi juga mengembalikan kesadaran seorang hamba akan hakikat hubungannya dengan Allah bahwa ia sepenuhnya milik-Nya, dan segala yang diberi, diambil, atau diuji merupakan bagian dari hikmah-Nya.
Ucapan singkat tersebut menautkan kembali jiwa kepada ketenteraman tauhid sekaligus menutup celah bagi setan untuk menyesatkan hati yang tengah rapuh.
5. Membantu dan peduli kepada sesama yang tertimpa musibah
Di samping memperkuat hubungan vertikal dengan Allah melalui sabar, ridha, taubat, dan istirja’, kesempurnaan sikap saat menghadapi musibah dapat tercermin dalam kepeduliannya kepada sesama.
Musibah bukan hanya menjadi ujian pribadi, melainkan juga momentum guna membangkitkan solidaritas sosial. Karena itu, Islam menempatkan perhatian dan bantuan kepada korban bencana sebagai bagian dari keimanan dan akhlak mulia, sekaligus penguat ukhuwah dalam sebuah komunitas.

Foto: istimewa
Bentuk bantuan dapat beragam sesuai kemampuannya, bisa berupa harta, tenaga, keahlian, bahkan doa. Dalam Islam, seluruh bentuk kepedulian bernilai ibadah karena mencerminkan empati dan kasih sayang dalam kehidupan sosial umat. Rasulullah SAW menegaskan bahwa menolong orang lain pada hakikatnya adalah menanam kebaikan untuk diri sendiri:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ القِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ العَبْدِ مَا كَانَ العَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
Artinya: “Barangsiapa yang meringankan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah akan meringankan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari Kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan, Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR Muslim)
Syekh Mulla Al-Qari menerangkan bahwa hadits di atas bukan hanya menegaskan keutamaan menolong antar sesama, tetapi juga menunjukkan adanya hukum kausalitas spiritual bahwa balasan Allah selalu sepadan dengan amal hamba-Nya.
Setiap bantuan yang diberikan kepada orang lain akan kembali sebagai pertolongan Allah, baik berupa ketenteraman batin, bantuan nyata, maupun perlindungan dari marabahaya:
فِيهِ تَنْبِيهٌ عَلَى فَضِيلَةِ عَوْنِ الأَخِ عَلَى أُمُورِهِ، وَإِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ المُكَافَأَةَ عَلَيْهَا بِجِنْسِهَا مِنَ العِنَايَةِ الإِلٰهِيَّةِ؛ سَوَاءٌ كَانَ بِقَلْبِهِ أَوْ بِبَدَنِهِ، أَوْ بِهِمَا لِدَفْعِ المَضَارِّ، أَوْ جَلْبِ المَنَافِعِ؛ إِذِ الكُلُّ عَوْنٌ
Artinya: “Hadits ini menunjukkan keutamaan membantu urusan saudara seiman, serta isyarat bahwa balasan bantuan itu sejenis amalnya, berupa perhatian dan pertolongan Ilahi baik bantuan melalui hati, melalui fisik, atau keduanya, untuk menolak bahaya maupun mendatangkan manfaat, karena semuanya termasuk bentuk pertolongan.” (Mirqah Al-Mafatih Syarh Misykah Al-Masabih [Beirut: Dar Al-Fikr], vol 7, h 3104)
Dari sini, dapat dipahami bahwa membantu korban musibah bukanlah kewajiban sosial semata, namun juga sarana untuk meraih rahmat Allah. Musibah yang menimpa orang lain menjadi ujian bagi kita apakah kita hadir dengan sikap empati atau justru berpaling. Bagi seorang mukmin, setiap peluang untuk menolong adalah jalan mendekat kepada Allah melalui amal yang paling dicintai-Nya yaitu menghadirkan kemudahan bagi sesama.
Demikianlah lima sikap yang diajarkan oleh Nabi Agung Muhammad SAW dalam menghadapi musibah, dengan memahami dan mengamalkannya kita berharap mampu menjalani setiap kesulitan dengan ketenangan, keteguhan, dan keyakinan bahwa setiap ujian membawa hikmah Ilahi.
Semoga kita semua diberi kemampuan untuk meneladani tuntunan mulia ini dan menjadi hamba yang senantiasa dekat dengan Allah SWT dalam setiap keadaan. Wallahu a’lam bis shawab. (A Zaeini Misbaahuddin Asyuari, ed: Nashih)