Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

AS dan Iran Masih Berselisih Soal Inspektur Nuklir dan Aset Beku

3 menit baca 613 dibaca
Perundingan AS Iran
Ilustrasi perundingan AS Iran. Foto: AI Modified/ChatGPT
Bagikan:

Jakarta, MUIDigital – Meski telah mencapai sejumlah kesepakatan awal dalam perundingan terbaru, Amerika Serikat dan Iran masih memiliki perbedaan pandangan terkait beberapa isu penting, mulai dari inspeksi program nuklir hingga pencairan aset Iran yang dibekukan.

Di kutip MUI Digital dari Aljazeera pada Ahad, (26/6/2026). Terkait aset yang dibekukan, negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa telah tercapai kesepakatan dengan Amerika Serikat untuk mencairkan dana Iran senilai 12 miliar dolar AS.

Namun, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyampaikan bahwa jika aset tersebut dicairkan, penggunaannya akan difokuskan untuk pembelian produk pertanian asal Amerika Serikat.

“Aset itu akan digunakan untuk memperkaya petani Amerika dan memberi makan rakyat Iran,” kata Vance.

Senada dengan itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa dana yang dicairkan nantinya akan digunakan untuk membeli kebutuhan pangan dari petani Amerika.

“Uang yang dicairkan akan digunakan untuk membeli makanan, dan makanan tersebut akan dibeli secara eksklusif melalui Amerika Serikat dari para petani kami,” ujar Trump.

Baca juga: LAKK MUI Beberkan Bahaya Medis Perilaku LGBT, dari Raja Singa hingga HIV

Akan tetapi, Iran membantah adanya pembatasan penggunaan dana tersebut. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan bahwa aset yang dicairkan akan berada di bawah kendali penuh pemerintah Iran.

“Aset tersebut akan dilepaskan dan akan digunakan dengan kebebasan mutlak oleh Iran untuk membeli barang atau komoditas apa pun yang dibutuhkan oleh negara,” katanya.

Sementara itu, perbedaan juga muncul terkait inspeksi program nuklir Iran. JD Vance mengklaim bahwa Iran telah setuju untuk mengizinkan kembali inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memasuki negara tersebut.

“Ini adalah tonggak sejarah besar bagi rakyat Amerika. Dan langkah pertama dalam denuklirisasi permanen—mengakhiri program senjata nuklir di Iran secara permanen,” ujar Vance.

Namun demikian, pemerintah Iran membantah adanya kesepakatan tersebut. Baghaei mengatakan hingga kini belum ada jadwal maupun kesepakatan resmi terkait kunjungan inspektur IAEA ke fasilitas nuklir Iran.

Di tengah perbedaan pernyataan tersebut, Trump tetap menegaskan bahwa Iran telah menyetujui mekanisme inspeksi nuklir secara menyeluruh.

“Iran telah sepenuhnya dan secara menyeluruh menyetujui inspeksi nuklir tingkat tertinggi hingga masa depan,” tulis Trump melalui platform Truth Social.

Baca juga: Komisi III DPR RI Buka Suara, Dukung Regulasi Tegas Terhadap LGBT : Tak Sejalan dengan Nilai Agama, Pancasila, dan Budaya Bangsa

Selain isu inspeksi dan aset beku, kedua negara juga masih membahas sejumlah persoalan lain, termasuk masa depan cadangan uranium Iran yang telah diperkaya serta rincian pencabutan sanksi ekonomi yang selama ini membebani perekonomian negara tersebut.

Meski masih terdapat sejumlah perbedaan, kedua pihak mengakui bahwa pembicaraan berlangsung konstruktif. Iran bahkan menyebut pencabutan sebagian sanksi terhadap ekspor minyak dan pelepasan sejumlah aset yang dibekukan sebagai kemajuan positif menuju kesepakatan yang lebih luas di masa mendatang.