Din Syamsuddin Tegaskan MUI sebagai Pelayan Umat

0
215
Rapat Paripurna MUI Pusat mengukuhkan Prof. Dr. Din Syamsuddin sebagai Ketua Umum MUI menggantikan KH MA Sahal Mahfudh di Jakarta, Selasa (4/3/2014).
Rapat Paripurna MUI Pusat mengukuhkan Prof. Dr. Din Syamsuddin sebagai Ketua Umum MUI menggantikan KH MA Sahal Mahfudh di Jakarta, Selasa (4/3/2014).
Rapat Paripurna MUI Pusat mengukuhkan Prof. Dr. Din Syamsuddin sebagai Ketua Umum MUI menggantikan KH MA Sahal Mahfudh di Jakarta, Selasa (4/3/2014).

Prof. Dr. Din Syamsuddin resmi dikukuhkan sebagai Ketua Umum MUI Pusat menggantikan KH MA Sahal Mahfudh dalam Rapat Paripurna MUI Pusat, Selasa (4/3/2014). Dia menegaskan kesiapannya untuk menjadikan MUI sebagai “Khadim al Ummat”, karena dulu sering dianggap sebagai “Khadim al Hukumah” (pelayan pemerintah).

“Saya ingin MUI terhadap ummatnya menjadi Khadim al Ummat (pelayan umat) dan terhadap pemerintah menjadi Shadiq al Umara’ (sahabat pemerintah),” kata Din Syamsuddin.

Agenda utama yang ingin dijalankan dalam kepengurusannya yang tidak lama lagi, Dien Syamsuddin mengungkapkan, “MUI ke depan harus dimanfaatkan untuk konsolidasi kepengurusan, pemberdayaan ekonomi ummat dan pembangunan akhlak bangsa.”

Menurutnya, dua jalur strategis berupa ekonomi dan pendidikan memiliki dampak sistemik terhadap kehidupan umat beragama. Konsolidasi yang kita miliki harus menjadi modal karena MUI adalah organisasi yang paling lengkap dengan peraturan dan ketentuan yang terbukukan, termasuk tehadap nilai-nilai yang sudah dimiliki organisasi.

Dia berkomitmen, dalam kepemimpinannya tidak akan keluar dari nilai-nilai dasar yang telah dimiliki organisasi, “Saya sendiri tidak akan keluar dari nilai-nilai yang sudah dimiliki organisasi, justru dengan itu kita bisa konsolidasi dan bila perlu revitalisasi terhadap nilai-nilai yang ada,”katanya.

Dengan begitu, imbuhnya, MUI bisa mengembalikan kewibawaannya baik itu di hadapan mejelis agama lain maupun di kalangan ormas Islam. Meskipun hubungan MUI dengan ormas-ormas Islam hanya sekedar konsultatif, tetapi bisa dijalin hubungan yang lebih dari sekedar konsultatif dan kongkrit. “Karena pilar-pilar MUI adalah dari ormas-ormas Islam,” imbuhnya.

Tahun 2014, terjadi perubahan signifikan dan mendasar terhadap umat Islam di Indonesia. Ketum MUI mengakui, Umat Islam yang dulunya bisa menjadi “problem solver” bangsa, kini sering dianggap sebagai “part of the problem”. Oleh karena itu, perlu ada langkah kongkrit untuk mengembalikan posisi umat Islam dengan tiga program utama MUI itu.