17 Juni 2016

Rayani Air, Maskapai Syariah Pertama Malaysia Ditutup karena Langgar Regulasi

epa05077468 A picture made available on 21 December 2015 shows  Rayani Air the Malaysia's first Islamic-compliant airline cabin crew posing for a photograph in front of a Boeing 737-400 at Kuala Lumpur International Airport 2, in Sepang, Malaysia, 20 December 2015. The airline will not consent any pork or alcoholic beverages on board and Islamic prayers will be conducted before every flight for the safety of the crew and passengers. Muslim crew members will be obliged to cover their heads and non-Muslim members of the crew are required to dress decently in accordance to Shariah requirements.  EPA/AFIQ RAZALI MALAYSIA OUT
440 Views
SHARE

RAYANI AIR, maskapai penerbangan syariah pertama Malaysia, telah ditutup, sebulan setelah dilarang terbang karena melanggar peraturan penerbangan.

Maskapai syariah ini diluncurkan pada Desember 2015 dengan awak pesawat Muslim mengenakan jilbab sementara awak non-Muslim dilarang mengenakan pakaian terbuka. Selama penerbangan, maskapai hanya menyajikan makanan halal dan konsumsi alkohol dilarang keras.

Namun setelah dilakukan ‘penyelidikan administrasi dan audit keamanan penerbangan dari maskapai’, Departemen Penerbangan Malaysia (DCA) mengatakan telah mencabut sertifikat Rayani Air ini.

DCA melakukan penyelidikan terhadap Rayani pada April menyusul serangkaian kritik dari penumpang dan pemerintah atas penundaan dan pembatalan penerbangan di menit-menit terakhir.

Pada bulan itu para pilot maskapai, yang mengoperasikan dua Boeing 737-400, juga mogok terbang karena gaji mereka belum dibayar, sehingga merusak citra maskapai.

Sebulan sebelumnya, terungkap pula maskapai ini mengeluarkan boarding passes yang ditulis tangan untuk penumpang setelah anggota parlemen Malaysia mengunggah foto boarding passes yang diterimanya melalui Facebook pada penerbangan domestik dari Kuala Lumpur menuju Kuching.

Foto itu menunjukkan selembar kertas dengan logo Rayani Air tercetak di atasnya dan rincian penerbangan ditulis dengan tinta, termasuk nama, nomor kursi penumpang dan kota keberangkatan dan tujuan.

Melalui laman Facebook-nya, anggota parlemen Lau Weng San menyebut boarding passes ‘tidak dapat dipercaya’ seraya menambahkan: “Ini tidak akan diterima di tempat lain di dunia, hanya di Malaysia.’

Lembaran boarding pass ditulis tangan diberikan kepada politisi dan penumpang lain karena mereka mengalami penundaan penerbangan panjang karena kebocoran hidrolik di pesawat.

Dokumen perjalanan tidak memiliki fitur keamanan seperti barcode dan muncul seolah-olah itu bisa saja ditulis oleh siapa saja.

Menteri Transportasi Malaysia Datuk Seri Liow Tiong Lay mengatakan boarding pass menimbulkan potensi ancaman keamanan dan seharusnya tidak pernah diterbitkan, seperti dilaporkan Mail Online Malaysia.

Dalam pernyataan, Rayani Air mengatakan terpaksa untuk mendistribusikan boarding pass ditulis tangan sebelum penerbangan pada 19 Maret karena kesalahan komputer dan itu tidak akan terjadi lagi.

Direktur Jenderal DCA Azharuddin Abdul Rahman mengatakan, pemerintah mengambil langkah untuk menghentikan operasi Rayani karena ‘keselamatan dan keamanan industri penerbangan adalah sangat penting’.