5 Juni 2018

Ramadhan dan Penyucian Jiwa

Ketua MUI Yunahar Ilyas (kiri) didampingi moderator (tengah) dan Ketua MUI Didin Hafidhuddin (kiri) tengah memaparkan pendapatknya saat menjadi pembicara pada acara Seminar nasional bertajuk “Penyusunan Panduan Ukhuwah Islamiyah” diselenggarakan oleh  Komisi Ukhuwah Islamiya  Majelis Ulama Indonesia di Jakarta, Senin (25/5). Pada seminar tersebut diantarana membahas menganai strategi membangun Ukhwah Islamiyah sesama muslim. Foto: darmawan
232 Views
SHARE

Prof. Yunahar Ilyas

(Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia)
Dalam surah asy-Syams (91), Allah bersumpah dengan menyebut tujuh hal. Inilah sumpah yang paling banyak karena pa da bagian lain Allah bersumpah dengan menyebut satu hal, dua, tiga, sampai empat. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya apa yang akan disampaikan sesudah sumpah-sumpah itu.

Allah SWT berfirman: Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). (QS asy-Syams [91]: 1-7).

Setelah tujuh kali bersumpah, Allah menyampaikan bahwa setiap diri (nafs/jiwa) punya potensi untuk durhaka (fujur) dan untuk taat (taqwa). Potensi durhaka atau buruk itu tidak boleh dibiarkan berkembang, harus ditekan dan dimatikan. Sedangkan, potensi baik atau takwa harus dipeliha ra, dipupuk, dan dikembangkan.
Dalam bahasa Alquran, memelihara, memupuk, dan mengembangkan itu disebut dengan tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Beruntunglah orang yang mau berusaha untuk sungguh-sungguh menyucikan jiwanya dan rugilah orang yang membiarkan jiwanya kotor.

Untuk melakukan tazkiyatun nafs, pertama, sebagai landasan teoretis, kita harus berusaha sungguh-sungguh memahami (1) hakikat jiwa dan bagaimana pengaruh kebaikan dan keburukan yang dilakukan terhadap kesucian jiwa, kemudian mengenal dan mencintai Tuhan yang menciptakan jiwa itu.

Terutama dengan mensyukuri segala kenikmatan yang dikaruniakan-Nya; (2) menyadari bahwa hawa nafsu kalau dikelola dengan baik akan berakibat positif untuk kebaikan diri, tetapi kalau dibiarkan tidak terkendali akan merusak; (3) menya dari dan mengingat selalu bahwa setan tidak akan pernah berhenti menjerumuskan umat manusia dengan segala macam cara; (4) menyadari bahwa segala kenikmatan hidup dunia belum ada artinya dibandingkan dengan kenikmatan yang akan didapat di surga; (5) menyadari bahwa kemak siatan dan kemungkaran kalau dibiarkan akan dapat merusak masyarakat dan menghancurkan segala kebaikan yang sudah bersusah payah dibangun.

Cara tazkiyatun nafs yang kedua adalah dengan melakukan amal ibadah praktis yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW untuk memperkuat mental-spiritual. Amalan-amalan praktis itu, antara lain adalah (1) mendirikan shalat lima waktu ditambah dengan shalat-shalat sunah, terutama shalat malam atau qiyam al- lail karena sangat efektif untuk meningkatkan semangat juang dan ke tahanan mental; (2) mengerjakan puasa Ramadhan ditambah puasa sunah Senin-Kamis, puasa Nabi Daud, atau puasa sunah lainnya; (3) membaca Alquran sebanyak- banyaknya, akan lebih baik lagi bila diikuti dengan pemahaman dan perenungan isinya; (4) berzikir dan berdoa, terutama memohon perlindungan Allah SWT dari godaan setan.

Bulan Ramadhan ini, lebih-lebih 10 hari terakhir, adalah waktu yang sangat tepat untuk meningkatkan usaha penyucian jiwa.