5 Juni 2017

Puasa Memupuk Ihsan

wpid-wp-14767793233181
506 Views
SHARE

KH. Cholil Nafis, Ph.D., Ketua Komisi Dakwah Dan Pengembangan Masyarakat MUI Pusat

Puasa adalah ibadah spesial hanya untuk Allah SWT. Dibandingkan ibadah lainnya, puasa memiliki level paling tinggi dari sisi relasi hamba dengan Tuhannya. Ia paling bebas dari riya’ (pamer) kebaikan kepada orang lain.

Makanya Allah SWT memberi apresiasi kepada orang yang berpuasa dengan balasan yang utama dan membuka pintu Royyan, pintu yang khusus bagi orang-orang yang berpuasa.

Salatnya seseorang mudah disaksikan oleh orang lain karena ibadah ini menggunakan gerakan, sehingga kemungkinan muncul rasa pamer kepada orang lain tetap ada. Ibadah zakat membutuhkan keterlibatan orang lain sebagai penerimanya sehingga kemungkinan ada rasa mengharap pujian orang.

Apalagi ibadah haji yang membutuhkan kemampuan fisik dan harta untuk perjalanan sehingga ada kemungkinan berbangga-banggaan.

Berbeda denga puasa yang hanya dilakukan oleh seorang diri yang tak perlu gerakan dan biaya perjalanan.
Di antara orang yang sedang melaksanakan ibadah puasa dengan yang tidak berpuasa tidak dapat dibedakan, kecuali dengan pengakuannya sendiri. Sebab antara mereka sama-sama tak terlihat kecuali karena sedang makan atau mengaku berpuasa. Inilah yang perlunya rasa ikhlas dan kejujuran seseorang yang sedang berpuasa.

Kejujuran kepada Allah SWT inilah yang dapat memupuk nilai ihsan. Yaitu, merasa melihat kehadiran Allah atau minimal merasa diperhatikan oleh Allah SWT sehingga tak berani untuk berbuat bohong dan salah. Bahkan tak berani memalingkan puasa untuk pamer atau bangga-banggaan kepada orang lain.

Seorang Muslim yang memandang Allah dengan mata hati (ain bashirah) adalah Muslim yang selalu meyakini kehadiran-Nya di mana pun dan kapan pun, dan selalu menyadari dan ingat kepada-Nya.

Imam Qusyairi mengatakan: “Asy-Syahid (seorang penyaksi akan kehadiran Tuhan) menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati. Sesuatu atau Dzat yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan dia selalu melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang Syahid (penyaksi)”

Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”

Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?” “Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.

Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan kasat mata manusia, tetapi bisa dilihat oleh hati”.

Di sini jelas bahwa puasa yang dilakukan oleh seorang hamba murni relasi dengan Tuhannya yang sangat khas. Keterpaduan “rasa” melihat dan dilihat Allah merupakan kondisi spiritual yang sangat tinggi. Tidak ada keterlibatan ego di sana, karena semuanya kembali pada kesucian hati yang akan menerima cahaya Tuhan.

Ihsan merupakan konsep sufistik yang seharusnya dimiliki oleh setiap pemeluk agama, karena menjadi inti dari seluruh sistem keyakinan dan ritual dalam Islam.

Sekarang yang menjadi pertanyaan, apakah puasa kita sudah sampai pada tahap Ihsan atau hanya sebatas menggugur kewajiban? Yang bisa menilai adalah kita sendiri. Wallahu a’lam