1 Juni 2017

Puasa Memperkuat Ukhuwah Islamiyah dan Insaniyah

cholil-nafis-572x330
170 Views
SHARE

Oleh
KH. Cholil Nafis, Ph.D., Ketua Komisi Dakwah Dan Pengembangan Masyarakat MUI Pusat

Ramadan adalah bulan istimewa. Bulan di mana setiap Muslim menunggu kedatangannya. Bulan yang penuh berkah bagi siapapun, termasuk bagi yang tidak berpuasa sekalipun.

Sejuta gelar disandang memberi makna betapa mulianya bulan Ramadan. Tak mengherankan jika setiap waktu kaum muslim senantiasa berdoa agar dipertemukan kembali dengan Ramadan.

Sebagai unsur penting ritual dalam Islam, puasa Ramadan merupakan peribadatan yang telah dijanjikan Allah dengan pahala yang berlipat-lipat, di samping pembukaan ampunan yang selebar-lebarnya. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa puasa merupakan ibadah yang sangat rahasia.

Hanya Allah dan pelakunya yang mengerti hakikatnya. Ini menjadi penanda keberkahan bulan Ramadan benar-benar diperuntukkan bagi mereka yang mengimani, serta penanda bahwa Allah SWT tak terbatas rahmat-Nya bagi segenap kehidupan di dunia.

Dalam dimensi yang lebih luas, perintah puasa di bulan Ramadan memiliki peran penting dalam mempererat ukhuwah islamiyyah (persaudaraan Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa), maupun ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama).

Puasa yang salah satu maknanya adalah menahan, sesungguhnya mengajak umat manusia untuk menahan segala sesuatu yang berpotensi merusak tata hubungan sosial bermasyarakat.

Puasa mengajarkan arti penting rasa kebersamaan dalam satu nasib, serta menumbuhkan semangat saling membantu sebagian pondasi dasar ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah insaniyah.

Alquran sering menyindir karakter manusia yang menonjolkan kerasnya sikap, padahal sikap tersebut dapat merusak kehidupan itu sendiri.

Manusia yang tak memiliki kepekaan sosial, tidak memiliki empati terhadap nasib kaum miskin, diibaratkan sebagai mereka yang berhati batu. Hal ini seperti difirmankan dalam Surat al-Baqarah ayat 74:

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.”

Hati yang keras bak batu jika dibiarkan tumbuh dalam kehidupan seseorang, maka akan memunculkan berbagai penyakit sosial: individualistis, serakah, intoleran, sombong dan sifat-sifat buruk lainnya.

Hati yang keras dapat digambarkan sebagai sikap diri yang enggan menerima kritik maupun kebenaran dari luar. Dirinya merasa benar, dan menganggap orang lain adalah salah. Inilah sikap diri yang membahayakan keutuhan sebuah kehidupan.

Berpuasa berarti membakar setiap sikap diri yang potensial merusak hubungan sesama dalam berbangsa dan bernegara. Sikap-sikap intoleran, individualistis, dan sejenisnya, adalah potensi yang dapat memunculkan keretakan hubungan.

Dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang sebuah pertemanan rusak karena ucapan yang tak terkendali, ego yang terus menumbuh tinggi, atau sikap rakus yang tak jarang menjerumuskan saudaranya ke dalam jurang kemiskinan dan ketakberdayaan.

Berbagai sikap yang merusak itu harus dibakar, dihapuskan, dididik atau setidaknya diminimalisir agar tidak semakin menguat dan merusak tata kehidupan umat manusia.

Puasa mengajak umat manusia untuk bersama merasakan rasa lapar, sehingga menumbuhkan sikap saling menghormati, saling menyayangi dan saling mengasihi. Karena dengan berpuasa kita diajarkan untuk menyatu dalam satu tujuan, satu nasib dan satu ikatan yang kuat.

Ramadan ini mari setiap kita mengikis berbagai sifat diri yang mencerminkan hati yang membatu. Saatnya kita membuka diri menerima kebaikan dari luar, meski itu berasal dari mereka yang berbeda warna kulit, bahasa maupun agama.

Kita harus banyak membuat simpul-simpul pertemuan yang dapat mendekatkan, serta menjauhkan dari hal-hal yang dapat memecah belah bangsa. Jadikan puasa sebagai wahana introspeksi dan memperkuat batin untuk saling menyapa antar sesama Muslim, sesama sebangsa, sesama umat manusia. Wallahu a’lam.

Sumber: Tribunnews