21 Februari 2017

Presiden Maknai Nilai Isra Miraj sebagai Revolusi Mental

Presiden Maknai Nilai Isra Miraj sebagai Revolusi Mental
153 Views
SHARE

Seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan Isra Mi’raj 1436H kembali dilangsungkan di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (15/03) malam. Selain dihadiri Presiden Jokowo Widodo, Menag Lukman Hakim Saifuddin beserta Ibu Trisna Willy Lukman Hakim, hadir pula sejumlah Menteri Kabinet Kerja, Kapolri, Wakil Ketua MPR RI Nurwahid Hidayat, Ketua DPR RI, Duta Besar Negara sahabat.

Ceramah Isra Mi’raj disampaikan Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, MA guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan tema bertajuk Spirit Isra Miraj Bagi Pembangunan Masyarakat Berkeadaban. Sementara tilawah al-Quran untuk pertama kalinya disampaikan dalam langgam Jawa oleh qari’ Muhammad Yasser Arafat.

Presiden Jokowo Widodo  saat memberikan sambutan mengatakan, peristiwa Isra Miraj merupakan momentum yang sangat relevan dalam kehidupan keseharian kita, baik sebagai umat, sebagai bangsa maupun sebagai masyarakat dunia yang mendambakan kemajuan dan mendambakan perdamaian serta kesejahteraan.

“Agama yang dipahami dan dihayati mesti diamalkan dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial. Hal itu akan memberikan nilai-nilai hakiki yang terhormat dan lebih beradab,” katanya.

Presiden mengajak seluruh umat Islam dan komponen bangsa seluruhnya di Tanah Air untuk menyadari dan mengimplementasikan konsep pembangunan Indonesia sebagai negara ber-Tuhan, negara religius yang terbebas dari kemiskinan, kesenjangan sosial dan menjadi sebuah negara yang adil, makmur dan sejahtera

“Mari kita , utamanya dalam memantapkan karakter kita sebagai bangsa yang berpotensi, yang memiliki talenta individual yang kuat daya intelektualnya dan pemikiranya serta berjiwa mandiri, spirit dan berdikari,” kata Presiden .

Presiden berharap negara Indonesia akan menjadi kuat, sehinggan tidak memberi peluang kepada radikaisme dan anarkisme tumbuh subur merusak tatanan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Presiden juga berharap akan ketahanan pangan bangsa Indonesia kuat, pertumbuhan ekonomi bagus serta dapat menanggulangi kemiskinan dan kesejahteraan.

“Oleh karena itu, mari kita junjung tinggi ke-Bhinekaan dan memperkuat retorasi sosial sebagai pilar masyarakat Indonesia yang rukun dan beradab mulia,” ucap Presiden.