31 Januari 2018

Wantim MUI Bahas Tiga Masalah Strategis Kebangsaan

Wantim-Pleno 24
1.305 Views
SHARE

JAKARTA -– Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) selenggarakan Pleno ke -24 bersama para ketua ormas tingkat pusat dan tokoh perorangan yang berjumlah total 99 orang Rabu (31/1) di Aula Buya Hamka, Gedung MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat.

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia, Prof Din Syamsuddin, berpesan dalam pembukaan rapat pleno perdana awal tahun untuk menjaga persatuan dan memperkuat tali persaudaraan.

“Apapun langkah dari berbagai ormas, in syaa Allah kita akan bertemu di ujung jalan, syukur-syukur kita bisa jalan bareng, jaga ukhuwah dan tali persaudaraan antar ormas, niat kita sama tujuan kita satu, “ kata Utusan Khusus Presiden Bidang Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban ini.

Kehidupan nasional dan kehidupan ummat Islam menurut Prof Din, sedang diliputi cobaan. Masalah baru dan isu baru yang terkait dengan umat Islam memerlukan penyikapan yang tepat.

“Bersikap tepat dengan tujuan Izzul Islàmá wal muslimin dan ibtighoa mardhotillah adalah cara untuk menyikapi persoalan belakangan ini, ” tambahnya

Dalam menyikapi persoalan kebangsaan dan keumatan, menurut Prof Din, Dewan Pertimbangan MUI akan sejalan dengan Dewan Pimpinan MUI. “Pendapat wantim sejalan dengan wanpim dan sebagai penguat, ” ujarnya.

Berdasarkan pendapat anggota wantim, kata Prof Din, ada 3 isu kebangsaan yang kita hadapi, pertama, pesan ukhuwah, kedua, kasus LGBT, dan ketiga, kasus Ahmadiyah.

Untuk kasus ukhuwah, Prof Din mengingatkan bahwa perbedaan dalam ormas adalah strategi. “Setiap ormas memiliki perbedaan, anggap perbedaan itu sebagai strategi dakwah, semua strategi baik, asal tujuan sama,” kata Prof Din.

Merespon isu LGBT dan ahmadiyah yang belakangan ini ramai, Dewan Pertimbangan MUI melalui Prof Din menolak penistaan agama karena menggunakan nama suatu agama tapi isinya bukan agama tersebut.

“Mengatasnamakan Islam tetapi dasar keyakinan sangat menyimpang dengan Islam, kalo mau bikin agama baru silakan tapi jangan bawa-bawa Islam, ” tegas Prof Din. (Ichwan/Din).