5 April 2018

MUI Ajak Umat Islam Memaafkan Sukmawati

gambar_124_april
855 Views
SHARE

JAKARTA– Puisi berjudul “Ibu Indonesia” karangan Sukmawati Soekarnoputri yang dibacanya pada peringatan 29 tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week di Jakarta, Kamis (29/03), menimbulkan kontroversi di masyarakat. Hal tersebut muncul karena adanya dua bait dalam puisi itu yang dianggap menyinggung ajaran Islam. Ketua Umum dan jajaran pimpinan MUI pada Kamis (05/04) menerima Sukmawati di kantor MUI, Jakarta, dalam rangka klarifikasi (tabayyun) atas masalah yang dihadapinya.

Seusai pertemuan dengan Sukmawati, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Ma’ruf Amin menyampaikan kepada pers, bahwa puisi yang dibacakan Sukmawati tersebut tidak ada niatan untuk menyinggung ajaran Islam.

“Untuk menjelaskan berbagai persoalan yang dihadapi, yang belakangan ini menimbulkan kegaduhan, beliau mengakui tidak ada niatan menghina Islam, ” ungkap Kiai Ma’ruf saat memberikan konferensi pers di Gedung MUI Pusat, Jakarta, Kamis (05/04).

“Itu pada umumnya adalah pikiran kalangan seniman dan budayawan yang biasanya mengekspresikan pikirannya secara bebas, ” tambahnya.

Selain berdialog, kunjungan Sukmawati ke MUI tersebut, kata Kiai Ma’ruf, juga untuk memohon maaf kepada semua khalayak, khususnya umat Islam.

“Beliau langsung menemui kami dan menyampaikan minta maafnya untuk disampaikan kepada khalayak atau umat islam bahwa tidak ada niatan untuk menghina, ” ucapnya.

MUI sendiri, lanjut Kiai MA’ruf, memahami dan menerima permohonan maaf Sukmawati. MUI juga mengajak seluruh umat Islam agar menerima permintaan maaf itu dan masalah ini dapat diselesaikan dengan damai, demi keutuhan bangsa dan negara.

“Kami mengajak seluruh umat Islam untuk menerima permintaan maaf beliau dan tidak mengeluarkan hujatan di media, menghentikan ke upaya pengadilan, dan kita kembali membangun keutuhan bangsa dan negara, ” tegasnya.

Sebelum melakukan konferensi pers, jajaran petinggi MUI sudah berdialog dengan Sukmawati di ruangan Kiai Ma’ruf untuk melakukan tabayyun. Menurut Kiai Ma’ruf, dialog itu perlu karena sudah menjadi budaya para pendiri bangsa untuk mencari titik temu dari setiap persoalan.

“Kita ingin meniru pendahulu bangsa agar berbedaan yang terjadi kita selesaikan melalui dialog untuk mencari makharij wathaniah (solusi kebangsaan) supaya bangsa tidak terjadi kegaduhan, ” ungkapnya.

“Kita anggap masalah ini sudah selesai. Semoga hari ini menjadi hari kasih sayang untuk saudara seislam dan setanah air.” pungkasnya. (Azhar/Din)